Barack Obama

BIOGRAPHY-NEW

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

480px-President_Barack_Obama

Presiden Amerika Serikat ke-44

Masa Jabatan: 20 Januari 2009 – 20 Januari 2017
Wakil Presiden: Joe Biden
Didahului oleh George W. Bush
Digantikan oleh Donald Trump

Senator Amerika Serikat dari Illinois
Masa Jabatan: 3 Januari 2005 – 16 November 2008
Didahului oleh Peter Fitzgerald
Digantikan oleh Roland Burris

Anggota Senat Illinois dari Distrik ke-13
Masa Jabatan: 8 Januari 1997 – 4 November 2004
Didahului oleh Alice Palmer
Digantikan oleh Kwame Raoul

Informasi Pribadi
Lahir: Barack Hussein Obama II 4 Agustus 1961 (umur 55)
Honolulu, Hawaii, A.S.
Partai Politik: Demokrat
Suami/istri: Michelle Robinson (3 Oktober 1992–sekarang)
Anak:
Malia (l. 1998)
Sasha (l. 2001)
Tempat tinggal: Chicago, Illinois
Almamater: Occidental College, Universitas Columbia (B.A.), Harvard Law School (J.D.)

Profesi: Pengacara, Profesor hukum konstitusi, Penggerak masyarakat, Penulis
Agama: Kristen
Penghargaan: Hadiah Nobel Perdamaian

Hadiah Nobel Perdamaian 2009 diberikan kepada Presiden A.S. Barack Obama “atas usahanya yang luar biasa dalam memperkuat diplomasi internasional dan kerja sama antarmasyarakat.” Komite Nobel Norwegia mengumumkan penerima hadiah ini pada 9 Oktober 2009 dan menyebut dukungan Obama terhadap nonproliferasi nuklir dan “iklim baru” dalam hubungan internasional, terutama membuka hubungan dengan dunia Muslim.

Keputusan Komite Nobel mendapat berbagai macam respon oleh komentator dan penulis editorial dari seluruh spektrum politik di Amerika Serikat, sementara respon dari para sekutu A.S. pada umumnya positif.

Obama menerima hadiah ini di Oslo pada tanggal 10 Desember 2009. Dalam pidato berdurasi 36 menit, ia membicarakan ketegangan antara perang dan perdamaian dan ide “perang saja”.

President_Barack_Obama_with_the_Nobel_Prize_medal_and_diploma

Tanda tangan:

Barack_Obama_signature.svg
Media Sosial
Situs Web: www dot barackobama dot com

Barack Hussein Obama II ( i/bəˈrɑːk huːˈseɪn oʊˈbɑːmə/; lahir 4 Agustus 1961; umur 55 tahun) adalah seorang politisi Amerika yang menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44. Ia merupakan orang Afrika Amerika pertama yang menempati jabatan tersebut.

Lahir di Honolulu, Hawaii, Obama merupakan lulusan Universitas Columbia dan Harvard Law School, tempat ia menjadi presiden Harvard Law Review. Ia dulunya seorang penggerak masyarakat di Chicago sebelum mendapat gelar hukumnya. Ia bekerja sebagai jaksa hak-hak sipil di Chicago dan mengajar hukum konstitusi di University of Chicago Law School sejak 1992 sampai 2004. Ia tiga kali mewakili Distrik ke-13 di Senat Illinois mulai tahun 1997 hingga 2004, namun tidak lolos ke tahap Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat tahun 2000.

Pada tahun 2004, Obama mendapat perhatian nasional saat berkampanye mewakili Illionis di Senat Amerika Serikat melalui kemenangannya pada pemilu pendahuluan Partai Demokrat bulan Maret, pidatonya di Konvensi Nasional Demokrat bulan Juli, dan pemilihannya sebagai Senat pada bulan November. Ia memulai kampanye presidennya tahun 2007, dan pada tahun 2008, setelah kampanye pendahuluan melawan Hillary Rodham Clinton, Obama memenangkan mayoritas suara delegasi dalam pemilu pendahuluan partai Demokrat untuk dijadikan calon presiden. Ia kemudian mengalahkan calon dari Partai Republik John McCain dalam pemilihan umum presiden tahun 2008, dan dilantik sebagai presiden pada tanggal 20 Januari 2009. Sembilan bulan kemudian, Obama dinyatakan sebagai pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2009. Ia terpilih lagi sebagai presiden pada November 2012, mengalahkan Mitt Romney dari Partai Republik, dan dilantik untuk kedua kalinya pada tanggal 20 Januari 2013.

Pada masa jabatan pertamanya, Obama mengesahkan undang-undang stimulus ekonomi sebagai tanggapan terhadap resesi 2007–2009 di Amerika Serikat dalam bentuk American Recovery and Reinvestment Act of 2009 dan Tax Relief, Unemployment Insurance Reauthorization, and Job Creation Act of 2010. Inisiatif besar dalam negeri lainnya pada masa pemerintahannya adalah Patient Protection and Affordable Care Act; Dodd–Frank Wall Street Reform and Consumer Protection Act; Don’t Ask, Don’t Tell Repeal Act of 2010; Budget Control Act of 2011; dan American Taxpayer Relief Act of 2012. Di bidang kebijakan luar negeri, Obama mengakhiri keterlibatan militer A.S. dalam Perang Irak, menambah jumlah tentara di Afganistan, menandatangani perjanjian pengendalian senjata New START bersama Rusia, memerintahkan intervensi militer A.S. di Libya, dan melaksanakan operasi militer yang berujung pada kematian Osama bin Laden. Pada bulan mei 2012, ia menjadi presiden A.S. pertama yang mendukung pengesahan pernikahan sesama jenis secara terbuka.

Kehidupan Awal dan Karier

Obama lahir pada tanggal 4 Agustus 1961 di Kapiʻolani Maternity & Gynecological Hospital (sekarang Kapiʻolani Medical Center for Women and Children) di Honolulu, Hawaii, dan menjadi Presiden pertama yang lahir di Hawaii. Ibunya, Stanley Ann Dunham, lahir di Wichita, Kansas, dan merupakan keturunan bangsa Inggris. Ayahnya, Barack Obama, Sr., adalah seorang anggota suku Luo dari Nyang’oma Kogelo, Kenya. Orang tua Obama bertemu pada tahun 1960 di kelas bahasa Rusia di University of Hawaiʻi at Mānoa, tempat ayahnya kuliah sebagai penerima beasiswa asing. Keduanya menikah di Wailuku, Maui, pada tanggal 2 Februari 1961, dan terpisah ketika ibu Obama pindah bersama putranya yang baru lahir ke Seattle, Washington, pada akhir Agustus 1961 agar bisa berkuliah di University of Washington selama satu tahun. Sementara itu, Obama, Sr. menyelesaikan program S1 ekonominya di Hawaii pada Juni 1962, kemudian mengikuti program S2 di Harvard University dengan beasiswa. Orang tua Obama bercerai pada bulan Maret 1964. Obama Sr. pulang ke Kenya tahun 1964, lalu menikah kembali; ia hanya sekali menjenguk Barack di Hawaii, yaitu pada tahun 1971.Ia meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas tahun 1982.

Ann_Dunham_with_father_and_children

Obama bersama separuh adiknya, Maya Soetoro-Ng, ibunya, Ann Dunham dan kakeknya, Stanley Dunham, di Honolulu, Hawaii

Pada tahun 1963, Dunham bertemu Lolo Soetoro, seorang mahasiswa East–West Center asal Indonesia yang mengambil program S2 dalam bidang geografi di University of Hawaii. Mereka menikah di Molokai pada tanggal 15 Maret 1965. Setelah dua tahun perpanjangan visa J-1-nya, Lolo pulang ke Indonesia tahun 1966, diikuti istri dan putra tirinya 16 bulan kemudian pada tahun 1967. Mereka awalnya menetap di Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, kemudian pindah ke permukiman elit di Menteng, Jakarta Pusat, pada tahun 1970. Sejak usia 6 sampai 10 tahun, Obama bersekolah di Sekolah Katolik St. Fransiskus dari Assisi selama dua tahun dan Sekolah Dasar Besuki selama satu setengah tahun, ditambah pendidikan rumahan dengan bantuan Calvert School.

Pada tahun 1971, Obama kembali ke Honolulu untuk tinggal bersama orang tua ibunya, Madelyn dan Stanley Dunham, dan dengan bantuan beasiswa ia mengenyam pendidikan di Punahou School, sebuah sekolah persiapan perguruan tinggi, mulai kelas lima sampai lulus tahun 1979. Obama tinggal dengan ibu dan adiknya di Hawaii selama tiga tahun mulai 1972 sampai 1975, sementara ibunya menjalani program S2 antropologi di University of Hawaii. Ibu dan adiknya pulang ke Indonesia tahun 1975 untuk melaksanakan kerja lapangan antropologi, sementara Obama memilih untuk tetap tinggal di Hawaii bersama kakek neneknya agar bisa bersekolah di Punahou. Ibunya menghabiskan hampir dua dasawarsa di Indonesia, bercerai dengan Lolo tahun 1980 dan mendapatkan gelar PhD tahun 1992, sebelum meninggal dunia tahun 1995 di Hawaii pasca-pengobatan kanker ovarium dan kanker rahim.

Tentang masa kecilnya, Obama mengingat kembali, “Bahwa ayahku tidak seperti orang-orang di sekitarku—ia hitam bagaikan ter, ibuku putih bagaikan susu—nyaris tidak terpikirkan olehku.”[10] Ia menjelaskan perjuangannya sebagai sosok pemuda dewasa yang ingin menyatukan berbagai sudut pandang sosial terhadap warisan multirasialnya. Merenungkan masa kecilnya di Honolulu, Obama menulis: “Kesempatan yang Hawaii tawarkan—untuk menyaksikan berbagai macam budaya dengan suasana yang saling menghargai—menjadi bagian tak terpisahkan dari pandangan duniaku, sekaligus menjadi dasar nilai-nilai yang aku pegang erat.” Obama juga menulis dan berbicara tentang pemakaian alkohol, ganja, dan kokain saat ia masih muda untuk “menyingkirkan pertanyaan siapa aku dari pikiran saya”. Obama sempat menjadi anggota “choom gang”, sebuah kelompok pertemanan yang menghabiskan waktu bersama-sama dan sering menghirup marijuana. Pada acara Civil Forum on the Presidency tahun 2008, Obama menyatakan penyesalannya karena pernah mengonsumsi obat-obatan terlarang saat SMA.

Setelah SMA, Obama pindah ke Los Angeles tahun 1979 untuk menuntut ilmu di Occidental College. Pada bulan Februari 1981, ia berpidato di hadapan publik untuk pertama kalinya, meminta Occidental melakukan divestasi dari Afrika Selatan sebagai respon terhadap kebijakan apartheid di sana. Pada pertengahan 1981, Obama berkunjung ke Indonesia untuk menemui ibu dan adiknya, Maya, kemudian menemui keluarga teman-teman kuliahnya di Pakistan dan India selama tiga minggu. Kemudian pada 1981, ia pindah ke Columbia University di New York City dan mendapatkan gelar dalam ilmu politik dengan kekhususan hubungan internasional dan lulus dengan gelar Bachelor of Arts pada tahun 1983. Ia bekerja selama satu tahun di Business International Corporation, kemudian di New York Public Interest Research Group.

Penggerak Masyarakat Chicago dan Harvard Law School

Dua tahun setelah lulus, Obama bekerja sebagai direktur Developing Communities Project (DCP), sebuah organisasi masyarakat berbasis gereja yang awalnya terdiri dari 8 paroki Katoli Roseland, West Pullman, dan Riverdale di South Side, Chicago. Ia bekerja di sana sebagai penggerak masyarakat pada bulan Juni 1985 sampai Mei 1988. Ia membantu membuat program pelatihan kerja, program tutorial persiapan masuk perguruan tinggi, dan organisasi hak-hak penyewa di Altgeld Gardens. Obama juga bekerja sebagai konsultan dan instruktur untuk Gamaliel Foundation, sebuah institut penggerak masyarakat. Pada pertengahan 1988, untuk pertama kalinya ia berkunjung ke Eropa selama tiga minggu, lalu lima minggu di Kenya untuk bertemu dengan saudara-saudara ayahnya. Ia kembali berkunjung ke Kenya pada tahun 1992 bersama tunangannya, Michelle, dan adiknya, Auma. Obama datang lagi ke Kenya pada Agustus 2006 untuk mengunjungi tempat kelahiran ayahnya, yaitu sebuah desa dekat Kisumu di pedesaan barat Kenya.

Pada akhir 1988, Obama masuk Harvard Law School. Ia terpilih sebagai editor Harvard Law Review pada akhir tahun pertamanya, dan presiden jurnal pada tahun kedua. Sepanjang musim panas, ia pulang ke Chicago, lalu bekerja sebagai jaksa di firma hukum Sidley Austin tahun 1989 dan Hopkins & Sutter tahun 1990. Setelah lulus dengan gelar J.D. secara magna cum laude[44] dari Harvar tahun 1991, ia pulang ke Chicago. Pemilihan Obama sebagai presiden Harvard Law Review berkulit hitam pertama menjadi perhatian media nasional dan berujung pada ditandatanganinya kontrak penerbitan buku karya Obama tentang hubungan antarras, yang berubah menjadi memoar pribadi. Buku karya Obama tersebut diterbitkan pada pertengahan 1995 dengan judul Dreams from My Father.

University of Chicago Law School dan jaksa hak sipil

Pada tahun 1991, Obama menjabat sebagai Dosen Tamu Hukum dan Pemerintahan di University of Chicago Law School selama dua tahun sambil menyelesaikan buku pertamanya. Ia kemudian mengajar di University of Chicago Law School selama 12 tahun (sebagai Dosen pada 1992 sampai 1996 dan Dosen Senior pada 1996 sampai 2004), mengajarkan hukum konstitusi.

Mulai bulan April sampai Oktober 1992, Obama memimpin Project Vote di Illinois, yaitu kampanye registrasi pemilih dengan sepuluh staf dan 700 pendaftar sukarela; proyek ini berhasil mendaftarkan 150.000 dari 400.000 warga Afrika-Amerika tak terdaftar di negara bagian Illinois sampai-sampai Crain’s Chicago Business memasukkan Obama dalam daftar “40 under Forty” pada tahun 1993.

Tahun 1993, ia bergabung dengan Davis, Miner, Barnhill & Galland, sebuah firma hukum 13 jaksa yang bergerak di bidang litigasi hak-hak sipil dan pembangunan ekonomi masyarakat. Obama menjadi jaksa pembantu di sana pada tahun 1993 sampai 1996, kemudian of counsel tahun 1996 sampai 2004. Lisensi hukumnya tidak aktif lagi pada tahun 2007.

Sejak 1994 hingga 2002, Obama menjabat sebagai anggota dewan direktur Woods Fund of Chicago, yang pada 1985 menjadi yayasan pertama yang mendanai Developing Communities Project; dan dewan direktur Joyce Foundation. Ia menjabat sebagai anggota dewan direktur Chicago Annenberg Challenge mulai tahun 1995 sampai 2002, kemudian sebagai presiden pendiri dan ketua dewan direktur mulai tahun 1995 sampai 1999.

Karier Legislatif: 1997–2008

Senator Negara Bagian: 1997–2004

Obama terpilih sebagai anggota Senat Illinois pada tahun 1996, menggantikan Alice Palmer sebagai Senator dari Distrik ke-13 Illinois yang pada waktu itu mencakup permukiman South Side Chicago dari Hyde Park – Kenwood ke selatan hingga South Shore dan barat hingga Chicago Lawn. Setelah terpilih, Obama mendapat dukungan dari kedua partai untuk undang-undang reformasi hukum etika dan pelayanan kesehatan. Ia memperkenalkan hukum penambahan kredit pajak untuk pekerja berpenghasilan rendah, menegosiasikan reformasi kesejahteraan, dan mempromosikan peningkatan subsidi perawatan anak. Tahun 2001, selaku ketua bersama Joint Committee on Administrative Rules, Obama mendukung peraturan pinjaman upah dan pemberian pinjaman gadai predator usulan Gubernur Ryan dari Partai Republik yang bertujuan menghindari penyitaan rumah.

Obama terpilih kembali sebagai Senator Illinois pada tahun 1998, mengalahkan Yesse Yehudah dari Partai Republik, lalu terpilih lagi pada tahun 2002. Tahun 2000, ia kalah dalam pemilu pendahuluan Demokrat untuk distrik kongres ke-1 Illinois di Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat. Pemilu tersebut dimenangkan oleh petahana Bobby Rush yang sudah menjabat empat kali dengan margin suara dua banding satu.

Pada Januari 2003, Obama menjadi ketua Komite Pelayanan Kesehatan dan Masyarakat Senat Illinois setelah Demokrat merebut kembali suara mayoritas pasca menjadi minoritas selama satu dasawarsa. Ia memperkenalkan dan memimpin pengesahan undang-undang dwipartai yang mengawasi pemrofilan ras dengan meminta polisi mencatat ras pengemudi yang mereka tahan, serta undang-undang yang menjadikan Illinois negara bagian pertama yang mewajibkan interogasi pelaku pembunuhan direkam. Selama kampanye pemilu Senat A.S. 2004, perwakilan polisi memuji Obama atas keterlibatan aktifnya bersama organisasi polisi dengan menerapkan reformasi hukuman mati. Obama mengundurkan diri dari Senat Illinois pada bulan november 2004 setelah terpilih menjadi anggota Senat Amerika Serikat.

Kampanye Senat A.S.

Bulan Mei 2002, Obama mengadakan pemungutan suara untuk menilai prospeknya pada pemilu Senat A.S. 2004; ia membuat panitia kampanye, menggalang dana, dan bekerja sama dengan konsultan media politik David Axelrod pada Agustus 2002. Obama secara resmi mencalonkan diri pada bulan Januari 2003.

336px-2004_Illinois_Senate_results.svg

Hasil pemilu Senat A.S. 2004 tingkat county di Illinois. County berwarna biru dimenangkan oleh Obama.

Obama adalah salah seorang penentang pertama invasi Irak 2003 yang dicanangkan oleh pemerintahan George W. Bush. Pada tanggal 2 Oktober 2002, saat Presiden Bush dan Kongres menyetujui resolusi bersama yang mengizinkan dilancarkannya Perang Irak, Obama mengadakan kampanye anti-Perang Irak pertama di Chicago dan berpidato di sana. Ia mengadakan kampanye anti-perang lainnya pada bulan Maret 2003 dan berkata bahwa “belum terlambat” untuk menghentikan perang.

Keputusan petahana dari Partai Republik Peter Fitzgerald dan pendahulunya dari Partai Demokrat Carol Moseley Braun untuk tidak berpartisipasi dalam pemilihan umum berujung pada persaingan pemilihan pendahluan Demokrat dan Republik secara terbuka yang melibatkan 15 orang kandidat. Pada pemilihan pendahuluan Maret 2004, Obama menang dengan selisih yang tidak diduga-duga—yang menjadikannya bintang satu malam di Partai Demokrat nasional, sehingga memunculkan spekulasi tentang masa depannya sebagai presiden serta penerbitan ulang memoarnya, Dreams from My Father. Pada Juli 2004, Obama menyampaikan pidatonya di Konvensi Nasional Demokrat 2004 yang ditonton oleh 9,1 juta orang. Pidatonya disambut hangat dan menaikkan statusnya di Partai Demokrat.

Calon pesaing Obama pada pemilihan umum, yaitu pemenang pemilihan pendahuluan dari Partai Republik Jack Ryan, keluar pada bulan Juni 2004. Enam minggu kemudian, Alan Keyes menerima pencalonan Republik untuk menggantikan Ryan. Pada pemilihan umum November 2004, Obama memenangkan 70 persen suara.

Senator A.S.: 2005–2008

Obama disumpah sebagai seorang senator pada tanggal 3 Januari 2005, dan menjadi satu-satunya anggota Senat dari Congressional Black Caucus. CQ Weekly menyebutnya sebagai seorang “Demokrat setia” berdasarkan analisis seluruh suara Senat tahun 2005–2007. Pada 13 November 2008, Obama mengumumkan akan mengundurkan diri dari jabatan Senatnya terhitung 16 November 2008, sebelum dimulainya sesi lame-duck, untuk berfokus pada masa transisinya sebagai presiden.

Undang-undang
 
Obama turut mensponsori Secure America and Orderly Immigration Act. Ia memperkenalkan dua inisiatif yang diberi nama dirinya: Lugar–Obama, yang memperluas konsep pengurangan risiko bersama Nunn–Lugar menjadi senjata api konvensional; dan Federal Funding Accountability and Transparency Act of 2006, yang mengizinkan pembuatan USAspending.gov, mesin pencari anggaran federal di Internet. Tanggal 3 Juni 2008, Senator Obama—bersama Senator Tom Carper, Tom Coburn, dan John McCain—memperkenalkan RUU kelanjutannya, yaitu Strengthening Transparency and Accountability in Federal Spending Act of 2008.

Obama mensponsori RUU yang mewajibkan pemilik PLTN memberitahu kebocoran radioaktif kepada otoritas negara bagian dan wilayah setempat, namun gagal disahkan secara bulat setelah diubah besar-besaran oleh komite. Mengenai reformasi kerugian, Obama memberi suaranya untuk Class Action Fairness Act of 2005 dan FISA Amendments Act of 2008, yang memberikan imunitas kewajiban sipil kepada perusahaan-perusahaan telekomunikasi yang mematuhi operasi penyadapan tanpa surat perintah NSA.

Lugar-Obama

Obama dan Sen. A.S. Richard Lugar (R-IN) mengunjungi sebuah fasilitas perombakan rudal bergerak di Rusia (Agustus 2005).

Pada bulan Desember 2006, Presiden Bush mengesahkan Undang-Undang Pemulihan, Keamanan, dan Pengenalan Demokrasi Republik Demokratik Kongo, yang menandai UU federal pertama yang disahkan dan disponsori Obama. Bulan Januari 2007, Obama dan Senator Feingold memperkenalkan peraturan jet perusahaan dalam Honest Leadership and Open Government Act yang disahkan bulan September 2007. Obama juga memperkenalkan Deceptive Practices and Voter Intimidation Prevention Act, sebuah RUU yang mengkriminalisasi praktik penipuan dalam pemilihan umum federal, dan Iraq War De-Escalation Act of 2007. Tidak satupun yang disahkan.

Kemudian pada tahun 2007, Obama memperkenalkan amendemen terhadap Defense Authorization Act yang yang berisi tentang penambahan perlindungan bagi pensiunan militer yang menderita gangguan kepribadian. Amanddemen ini disahkan Senat dengan suara bulat pada musim semi 2008. Ia memperkenalkan pula Iran Sanctions Enabling Act yang mendukung divestasi dana pensiun negara dari industri minyak dan gas Iran, yang tidak disahkan komite; serta mensponsori bersama UU pengurangan risiko terorisme nuklir. Obama juga mensponsori amendemen Senat terhadap State Children’s Health Insurance Program yang memberikan perlindungan kerja selama satu tahun untuk para anggota keluarga yang merawat tentara-tentara terluka akibat pertempuran.

Komite
Obama mengemban tugas di Komite Senat untuk Hubungan Luar Negeri, Lingkungan dan Pekerjaan Umum dan Urusan Veteran sepanjang Desember 2006. Pada Januari 2007, ia keluar dari komite Lingkungan dan Pekerjaan Umum dan melaksanakan tugas tambahan di Komite Kesehatan, Pendidikan, Buruh, dan Pensiun dan Keamanan Dalam Negeri dan Urusan Pemerintahan. Ia juga menjadi Ketua subkomite Senat untuk Urusan Eropa. Selaku anggota Komite Hubungan Luar Negeri Senat, Obama melakukan serangkaian kunjungan resmi ke Eropa Timur, Timur Tengah, Asia Tengah, dan Afrika. Ia bertemu dengan Mahmoud Abbas sebelum menjadi Presiden Otoritas Nasional Palestina dan berpidato di Universitas Nairobi sambil mengutuk korupsi di tubuh pemerintahan Kenya.

Kampanye Presiden

Kampanye Presiden 2008

Pada tanggal 10 Februari 2007, Obama menyatakan pencalonannya sebagai Presiden Amerika Serikat di depan gedung Old State Capitol di Springfield, Illinois. Pemilihan tempat pengumuman itu dianggap simbolis karena di situ Abraham Lincoln menyampaikan pidato bersejarahnya yang berjudul “House Divided” tahun 1858. Obama menekankan isu pengakhiran Perang Irak secepat mungkin, meningkatkan kebebasan energi, dan menyediakan layanan kesehatan universal, dalam kampanye yang mengusung tema “harapan” dan “perubahan”.

Obama_Austin

Senator Barack Obama di Austin, Texas, 2007.

Banyak kandidat yang ikut bertarung dalam pemilihan pendahuluan presiden Partai Demokrat. Persaingan besar ini berakhir dengan duel antara Obama dan Senator Hillary Rodham Clinton dan berlangsung ketat sepanjang proses pemilihan pendahuluan. Akan tetapi, Obama tetap unggul dalam jumlah delegasi karena perencanaan jangka panjang yang baik, penggalangan dana kelas atas, dominasi di negara-negara bagian kaukus, serta pemanfaatan peraturan alokasi delegasi yang sangat rapi. Pada 7 Juni 2008, Clinton mengakhiri kampanyenya dan mendukung Obama.

800px-Flickr_Obama_Springfield_01

Obama berdiri di panggung bersama istri dan putrinya sesaat sebelum menyatakan pencalonannya sebagai presiden di Springfield, Illinois, 10 Februari 2007

Tanggal 23 Agustus, Obama mengumumkan penunjukan Senator Delaware Joe Biden sebagai pasangan kampanye sekaligus calon wakil presidennya. Biden dipilih dari sejumlah calon yang meliputi mantan Gubernur Indiana dan Senator Evan Bayh dan Gubernur Virginia Tim Kaine. Pada Konvensi Nasional Demokrat 2008 di Denver, Colorado, Hillary Clinton meminta para pendukungnya memilih Obama dan ia serta Bil Clinton menyampaikan pidato dukungan untuk Obama. Obama menyampaikan pidato penerimaan pencalonannya, bukan di tengah arena Konvensi Nasional Demokrat, tetapi di Invesco Field at Mile High di hadapan sekitar 75.000 orang; pidato tersebut ditonton oleh lebih dari 38 juta orang di seluruh dunia.

President_George_W._Bush_and_Barack_Obama_meet_in_Oval_Office

Presiden George W. Bush bertemu Presiden terpilih Obama di Oval Office pada tanggal 10 November 2008

Selama proses pemilihan pendahuluan dan pemilihan umum, kampanye Obama mencetak sejumlah rekor penggalangan dana, terutama dalam jumlah sumbangan kecil.[108] Pada 19 Juni 2008, Obama menjadi kandidat presiden partai besar pertama yang menolak pendanaan publik dalam pemilu sejak sistem tersebut dicetuskan tahun 1976.

John McCain dicalonkan sebagai kandidat dari Partai Republik dan keduanya mengikuti tiga debat presiden pada bulan September dan Oktober 2008. Tanggal 4 November, Obama memenangkan pemilu dengan 365 suara elektoral dibandingkan dengan 173 suara yang diperoleh McCain. Obama memenangkan 52,9% suara rakyat dibandingkan dengan 45,7% yang diterima McCain. Ia menjadi orang Afrika Amerika pertama yang menduduki jabatan presiden. Obama menyampaikan pidato kemenangannya di hadapan ratusan ribu pendukungnya di Grant Park, Chicago.

Kampanye Presiden 2012

755px-P112912PS-0444_-_President_Barack_Obama_and_Mitt_Romney_in_the_Oval_Office_-_crop

Mitt Romney dan Presiden Obama bersalaman di Oval Office tanggal 29 November 2012, setelah pertemuan pertama mereka sejak pemilihan kembali Presiden Obama.

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pemilihan umum presiden Amerika Serikat 2012 dan Kampanye presiden Barack Obama 2012
 
Empire State Building dibanjiri cahaya biru setelah CNN menyatakan Obama sebagai pemenang pemilu 2012; jika Romney menang cahayanya berwarna merah.
Pada tanggal 4 April 2011, Obama mengumumkan kampanye pemilihannya kembali untuk pemilu 2012 dalam sebuah video berjudul “It Begins with Us” di situs webnya dan mengirim berkas pemilu ke Federal Election Commission. Sebagai presiden petahana, ia secara virtual tidak punya saingan pada pemilihan pendahuluan presiden Partai Demokrat, dan pada 3 April 2012, Obama berhasil mendapat dukungan dari 2778 delegasi konvensi yang dibutuhkan untuk memenangkan pencalonan Demokrat.

800px-Empire_State_Building_Blue_Obama_Election

Empire State Building dibanjiri cahaya biru setelah CNN menyatakan Obama sebagai pemenang pemilu 2012; jika Romney menang cahayanya berwarna merah.

Pada Konvensi Nasional Demokrat 2012 di Charlotte, North Carolina, mantan Presiden Bill Clinton secara resmi mencalonkan Obama dan Joe Biden sebagai kandidat dari Partai Demokrat untuk menjadi presiden dan wakil presiden pada pemilihan umum mendatang, melawan Mitt Romney, mantan gubernur Massachusetts, dan Anggota DPR Paul Ryan dari Wisconsin dari Partai Republik.

Pada tanggal 6 November 2012, Obama memeroleh 332 suara elektoral, melebihi batas minimal 270 yang dibutuhkan agar bisa terpilih lagi sebagai presiden. Dengan 51% suara rakyat, Obama menjadi presiden Demokrat pertama sejak Franklin D. Roosevelt yang dua kali mendapatkan mayoritas suara rakyat. Presiden Obama berpidato di hadapan para pendukung dan relawannya di McCormick Place, Chicago, setelah pemilihannya kembali dan berkata: “Malam ini kalian memilih tindakan, bukan politik seperti biasanya. Kalian memilih kami untuk berfokus pada pekerjaan kalian, bukan kami. Dan dalam beberapa minggu dan bulan selanjutnya, saya berusaha menghubungi dan bekerja sama dengan para pemimpin dari kedua partai.”

Pemerintahan

Hari-hari pertama

800px-US_President_Barack_Obama_taking_his_Oath_of_Office_-_2009Jan20

Barack Obama mengambil sumpah jabatan dibantu Ketua Hakim John G. Roberts, Jr. di the Capitol, 20 Januari 2009

Barack Obama mengambil sumpah jabatan dibantu Ketua Hakim John G. Roberts, Jr. di the Capitol, 20 Januari 2009. Pelantikan Barack Obama sebagai Presiden ke-44 dilaksanakan pada tanggal 20 Januari 2009. Pada hari-hari pertamanya menjabat, Obama mengeluarkan sejumlah perintah eksekutif dan memorandum presiden yang ditujukan pada militer A.S. untuk menyusun rencana penarikan tentara dari Irak. Ia memerintahkan penutupan kamp penahanan Teluk Guantanamo, tetapi Kongres mencegahnya dengan menolak pencairan dana yang diperlukan.Obama mengurangi tingkat kerahasiaan catatan presiden. Ia juga mencabut penerapan kembali Mexico City Policy era Presiden Ronald Reagan oleh Presiden George W. Bush yang melarang bantuan federal untuk organisasi perencanaan keluarga internasional yang melakukan atau memberi bantuan konseling tentang aborsi.

Kebijakan Dalam Negeri

Rancangan undang-undang pertama yang disahkan oleh Obama adalah Lilly Ledbetter Fair Pay Act of 2009 yang memperlonggar persyaratan batasan tuntutan hukum upah setara. Lima hari kemudian, ia menandatangani perizinan kembali State Children’s Health Insurance Program (SCHIP) untuk mengasuransikan sekitar 4 juta anak. Pada bulan Maret 2009, Obama menghapus kebijakan era Bush yang membatasi pendanaan penelitian sel batang embrionik dan berjanji membuat “panduan ketat” mengenai penelitian tersebut.Barack_Obama_addresses_joint_session_of_Congress_2009-02-24.

Obama menyampaikan pidato sidang gabungan Kongres bersama Wakil Presiden Joe Biden dan Ketua DPR Nancy Pelosi pada tanggal 24 Februari 2009

Obama menunjuk dua wanita untuk menjabat di Mahkamah Agung pada dua tahun pertama masa pemerintahannya. Sonia Sotomayor, yang dicalonkan Obama tanggal 26 Mei 2009 untuk menggantikan Hakim Pembantu David Souter, resmi menjabat pada 6 Agustus 2009 dan menjadi Hakim Mahkamah Agung Hispanik pertama. Elena Kagan, yang dicalonkan Obama tanggal 10 Mei 2010 untuk menggantikan Hakim Pembantu John Paul Stevens, resmi menjabat pada 5 Agustus 2010 sehingga untuk pertama kalinya sepanjang sejarah Amerika Serikat pejabat wanita di Mahkamah Agung berjumlah tiga orang.

800px-Obama_cabinet_meeting_2009-11

Obama bersidang dengan Kabinetnya, 23 November 2009.

Pada tanggal 30 September 2009, pemerintahan Obama mengusulkan peraturan baru khusus pembangkit listrik, pabrik, dan penyulingan minyak untuk membatasi emisi gas rumah kaca dan memperlambat pemanasan global.

Tanggal 8 Oktober 2009, Obama menandatangani Matthew Shepard and James Byrd, Jr. Hate Crimes Prevention Act, sebuah peraturan yang memperluas hukum kebencian federal Amerika Serikat 1969 agar mencakup juga kejahatan yang dilakukan karena jenis kelamin, orientasi seksual, identitas gender, atau kecacatan korban baik yang dipersepsikan maupun yang benar-benar dialami.

Pada 30 Maret 2010, Obama menandatangani Health Care and Education Reconciliation Act, sebuah rancangan undang-undang rekonsiliasi yang mengakhiri proses pemberian subsidi oleh pemerintah federal kepada bank-bank swasta untuk menghapus pinjaman yang dijamin pemerintah, menambah pemberian beasiswa Pell Grant, dan mengubah Patient Protection and Affordable Care Act.

Pada pidato kebijakan antariksa bulan April 2010, Obama mengumumkan rencana perubahan arah di NASA, badan antariksa Amerika Serikat. Ia mengakhiri rencana peluncuran kembali penerbangan antariksa manusia ke Bulan dan pengembangan roket Ares I, Ares V dan program Constellation, agar bisa mendanai proyek-proyek ilmu Bumi, jenis roket baru, dan penelitian dan pengembangan misi berawak ke Mars, serta misi yang sedang berlangsung ke Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Tanggal 22 Desember 2010, Obama mengesahkan Don’t Ask, Don’t Tell Repeal Act of 2010 yang memenuhi janji kampanye presiden Obama pada tahun 2008 untuk mengakhiri kebijakan Don’t ask, don’t tell tahun 1993 yang mencegah kaum gay dan lesbian berdinas secara bebas di Angkatan Bersenjata Amerika Serikat.

2011 State of the Union Address yang disampaikan Presiden Obama berfokus pada pendidikan dan inovasi, menekankan pentingnya ekonomi inovasi supaya Amerika Serikat semakin bersaing di panggung dunia. Ia membicarakan kebuntuan pengeluaran dalam negeri selama lima tahun, penghapusan pengecualian pajak bagi perusahaan minyak dan membatalkan potongan pajak bagi orang-orang kaya A.S., melarang earmark, dan mengurangi biaya layanan kesehatan. Ia berjanji bahwa Amerika Serikat akan mempunyai satu juga kendaraan listrik pada tahun 2015 dan 80%-nya akan bergantung pada listrik “bersih”.

Selaku kandidat senator Illinois, Obama pernah berkata pada tahun 1996 bahwa ia ingin melegalisasi pernikahan sesama jenis; namun saat berkampanye untuk menjadi senator A.S. tahun 2004, ia menyatakan meski ia mendukung persatuan sipil dan hubungan serumah untuk kaum penyuka sesama jenis, karena alasan strategis ia menentang pernikahan sesama jenis. Pada tanggal 9 Mei 2012, sesaat setelah peluncuran resmi kampanyenya untuk pemilihan kembali sebagai presiiden, Obama mengatakan pandangannya telah berubah dan ia secara terbuka mendukung legalisasi pernikahan sesama jenis. Ia menjadi presiden menjabat A.S. pertama yang melakukan hal tersebut.

Kebijakan Ekonomi

Pada tanggal 7 Februari 2009, Obama mengesahkan American Recovery and Reinvestment Act of 2009, sebuah paket stimulus ekonomi senilai $787 miliar untuk membantu pemulihan ekonomi akibat memburuknya resesi global. Undang-undang ini mencakup peningkatan pengeluaran pemerintah untuk layanan kesehatan, infrastruktur, pendidikan, berbagai pengecualian dan insentif pajak, dan bantuan langsung individu, yang dilaksanakan dalam kurun beberapa tahun.

Pada bulan Maret, Menteri Keuangan Obama, Timothy Geithner, mengambil sejumlah keputusan untuk menangani krisis keuangan, termasuk memperkenalkan Public-Private Investment Program for Legacy Assets yang berisi peraturan batas pembelian aset real estat terbengkalai sampai $2 triliun. Obama mengintervensi industri otomotif bermasalah pada Maret 2009, memperbarui pinjaman untuk General Motors dan Chrysler supaya terus beroperasi sambil melakukan reorganisasi. Pada bulan-bulan selanjutnya, Gedung Putih menetapkan persyaratan untuk kebangkrutan yang dialami kedua perusahaan tersebut, termasuk penjualan Chrysler ke pabrik mobil Italia Fiat dan reorganisasi GM yang memberikan pemerintah A.S. saham sementara sebesar 60% di perusahaan tersebut dan 12% untuk pemerintah Kanada. Bulan Juni 2009, tidak puas dengan kemajuan stimulus ekonomi, Obama meminta kabinetnya mempercepat investasi. Ia mengesahkan Car Allowance Rebate System, dikenal dengan sebutan “Cash for Clunkers”, yang berhasil mempercepat ekonomi untuk sementara.

Meski jaminan pengeluaran dan pinjaman dari Federal Reserve dan Departemen Keuangan yang diizinkan pemerintahan Bush dan Obama senilai $11,5 triliun, hanya $3 triliun yang dikeluarkan pada akhir November 2009.[167] Akan tetapi, Obama dan Congressional Budget Office memperkirakan bahwa defisit anggaran 2010 akan mencapai $1,5 triliun atau 10,6% dari produk domestik bruto Amerika Serikat dibandingkan dengan defisit sebesar $1,4 triliun atau 9,9% dari PDB pada tahun 2009.[168][169] Untuk tahun 2011, pemerintahan Obama memperkirakan defisit akan sedikit turun hingga $1,34 triliun, sementara defisit 10 tahun akan naik hingga $8,53 triliun atau 90% dari PDB. Kenaikan batas utang A.S. terbaru sebesar $16,4 triliun disahkan pada tanggal 26 Januari 2012. Pada tanggal 2 Agustus 2011, setelah Kongres panjang lebar membicarakan perlunya menaikkan batas utang Amerika Serikat, Obama mengesahkan RUU dwipartai Budget Control Act of 2011. UU ini memberlakukan batasan pengeluaran rahasia sampai 2021, menetapkan prosedur penaikan batas utang, membentuk Congressional Joint Select Committee on Deficit Reduction untuk merencanakan pengurangan defisit lebih lanjut dengan tujuan mencapai penghematan anggaran sebesar $1,5 triliun dalam kurun 10 tahun, dan menetapkan prosedur otomatis untuk mengurangi pengeluaran sampai $1,2 triliun jika UU yang berawal dengan komite gabungan pilihan baru tersebut gagal mencapai penghematan yang ditetapkan.[172] Dengan mengesahkan UU ini, Kongres mampu mencegah gagal bayar obligasi oleh pemerintah A.S..

US_EmpStatsBLS_Jan09-Oct12

Statistik lapangan kerja (perubahan tingkat pengangguran dan lapangan kerja per bulan) selama masa pemerintahan Obama

Seperti 2008, tingkat pengangguran naik pada tahun 2009 dan mencapai puncaknya pada bulan Oktober di level 10,0% dan rata-rata 10,0% pada kuartal keempat. Setelah menurun hingga 9,7% pada kuartal pertama 2010, tingkat pengangguran turun sampai 9,6% pada kuartal kedua dan tetap stabil sampai akhir tahun. Antara Februari dan Desember 2010, jumlah lapangan kerja naik 0,8%, kurang dari rata-rata 1,9% pada masa-masa perbandingan dalam empat pemulihan lapangan kerja sebelumnya. Per November 2012, tingkat pengangguran turun hingga 7,7%. Pertumbuhan PDB kembali naik pada kuartal ketiga 2009 hingga 1,6%, diikuti peningkatan sebesar 5,0% pada kuartal keempat.[179] Pertumbuhan berlanjut pada tahun 2010 dengan peningkatan sebesar 3,7% pada kuartal pertama dengan sedikit perbedaan hingga akhir tahun.[179] Pada Juli 2010, Federal Reserve menyatakan bahwa meski aktivitas ekonomi terus meningkat, kemajuannya melambat, dan Ketua Federal Reserve Ben Bernanke mengatakan bahwa masa depan ekonomi “malah tidak jelas.”[180] Secara keseluruhan, ekonomi nasional mengalami kenaikan sebesar 2,9% pada tahun 2010.

Congressional Budget Office dan sejumlah ekonom memuji rencana stimulus Obama untuk pertumbuhan ekonomi. CBO merilis laporan yang menyatakan RUU stimulus ini menaikkan jumlah lapangan kerja hingga 1–2,1 juta orang, sambil mengakui bahwa “Mustahil mengetahui berapa banyak lapangan kerja yang tercipta jika paket stimulus tidak ada.” Meski dalam survei anggota National Association for Business Economics bulan April 2010 menunjukkan kenaikan jumlah lapangan kerja (terhadap survei yang sama pada bulan Januari) untuk pertama kalinya dalam dua tahun, 73% dari 68 responden percaya bahwa RUU stimulus tersebut tidak berdampak apapun terhadap lapangan kerja.

Satu bulan setelah pemilu pertengahan 2010, Obama mengumumkan persetujuan dengan fraksi Repulik di Kongres berupa perpanjangan sementara nilai pajak penghasilan 2001 dan 2003 selama dua tahun, pengurangan pajak gaji selama satu tahun, kelanjutan tunjangan pengangguran, dan jumlah nilai dan pengecualian baru untuk pajak properti. Persetujuan ini ditentang oleh sejumlah pihak dari kedua kubu partai dan Tax Relief, Unemployment Insurance Reauthorization, and Job Creation Act of 2010 senilai $858 miliar disetujui dengan suara mayoritas di kedua partai sebelum disahkan Obama pada 17 Desember 2010.

Reformasi Layanan Kesehatan

Obama meminta Kongres mengesahkan UU yang mereformasi layanan kesehatan di Amerika Serikat, salah satu janji kampanye dan tujuan legislatif utamanya. Ia merencanakan perluasan cakupan asuransi kesehatan hingga orang-orang yang belum terasuransikan, membatasi kenaikan premi, dan mengizinkan masyarakat memeroleh kembali jaminan mereka saat keluar atau ganti pekerjaan. Rencananya adalah menganggarkan $900 miliar selama 10 tahun dan membuat rencana asuransi pemerintah yang disebut opsi publik untuk bersaing dengan sektor asuransi perusahaan sebagai komponen utama menekan biaya dan memperbaiki kualitas layanan kesehatan. Pengasuransi juga dilarang menolak orang sakit ataupun menolak mengasuransikan mereka atas kondisi tidak jelas, dan mewajibkan setiap warga Amerika Serikat memiliki asuransi kesehatan. Rencana ini juga meliputi pemotongan pengeluaran kesehatan dan pembebanan pajak kepada perusahaan-perusahaan asuransi yang menawarkan rencana asuransi yang mahal.

800px-Obama_signs_health_care-20100323

Obama menandatangani Patient Protection and Affordable Care Act di Gedung Putih, 23 Maret 2010

Tanggal 14 Juli 2009, fraksi Demokrat di DPR memperkenalkan rencana 1.017 halaman untuk merombak sistem layanan kesehatan A.S. yang Obama harapkan disetujui Kongres pada akhir 2009. Setelah banyak dibicarakan masyarakat ketika reses musim panas 2009, Obama menyampaikan pidato di sidang gabungan Kongres pada tanggal 9 September yang berisi kekhawatirannya tentang rencana tersebut. Pada Maret 2009, Obama mencabut larangan pemakaian dana federal untuk penelitian sel batang.

Tanggal 7 November 2009, sebuah RUU layanan kesehatan yang berisi opsi publik disetujui oleh DPR. Tanggal 24 Desember 2009, Senat menyetujui RUU-nya sendiri—tanpa opsi publik—dengan suara partai 60–39. Tanggal 21 Maret 2010, Patient Protection and Affordable Care Act yang disetujui Senat pada bulan Desember disetujui oleh DPR dengan suara 219 banding 212. Obama mengesahkan RUU ini pada tanggal 23 Maret 2010.

PPACA_Premium_Chart

Obama menandatangani Patient Protection and Affordable Care Act di Gedung Putih, 23 Maret 2010

Patient Protection and Affordable Care Act berisi peraturan kesehatan yang harus dilaksanakan dalam kurun empat tahun, termasuk perluasan cakupan Medicaid hingga orang-orang berpendapatan 133% dari tingkat kemiskinan federal (FPL) terhitung tahun 2014, menyubsidi premi untuk orang-orang berpendapatan 400% dari FPL ($88.000 untuk keluarga empat orang pada tahun 2010) sehingga pembayaran “di luar kantung” maksimal untuk premi tahunan akan naik dari 2 menjadi 9,5% dari pendapatan mereka, memberikan insentif untuk pengusaha agar menyediakan tunjangan layanan kesehatan, melarang penolakan asuransi dan penolakan klaim berdasarkan kondisi yang sudah ada, membentuk pertukaran asuransi kesehatan, melarang batas asuransi tahunan, dan mendukung penelitian medis. Menurut laporan Gedung Putih dan Congressional Budget Office, pangsa maksimum pendapatan yang harus dibayarkan pelanggan asuransi akan bervariasi tergantung pendapatan mereka yang relatif terhadap tingkat kemiskinan federal.

Biaya pelaksanaan peraturan ini ditutupi oleh pajak, retribusi, dan penghematan biaya, seperti pajak Medicare baru untuk orang-orang berpendapatan tinggi, pajak jemur dalam ruangan, pemotongan anggaran program Medicare Advantage untuk dialihkan ke Medicare biasa, dan pembebanan tarif untuk peralatan medis dan perusahaan obat-obatan; ada pula penalti pajak untuk orang-orang yang tidak memiliki asuransi kesehatan, kecuali mereka dikecualikan akibat pendapatan rendah atau alasan lain. Pada Maret 2010, Congressional Budget Office memperkirakan bahwa dampak bersih dari kedua hukum tersebut berupa pengurangan defisit federal sebesar $143 miliar pada periode dasawarsa pertama.

Hukum ini disambut sejumlah tuntutan hukum yang kebanyakan didasarkan pada pendapat bahwa keputusan seseorang yang mewajibkan warga Amerika Serikat membeli asuransi kesehatan bersifat tidak konstitusional. Pada tanggal 28 Juni 2012, Mahkamah Agung memutuskan dengan suara 5–4 di sidang National Federation of Independent Business v. Sebelius bahwa Commerce Clause tidak mengizinkan pemerintah mewajibkan masyarakat membeli asuransi kesehatan, tetapi keputusan tersebut bersifat konstitusional sesuai perizinan perpajakan Kongres Amerika Serikat.

Kebocoran Minyak Teluk Meksiko

Pada 20 April 2010, sebuah ledakan menghancurkan instalasi pengeboran lepas pantai di Prospek Macondo di Teluk Meksiko dan mengakibatkan kebocoran minyak luar biasa. Operator pengeboran lepas pantai ini, BP, melaksanakan rencana pembendungan dan pembersihan dan mulai mengebor dua sumur pembantu untuk menghentikan aliran tersebut. Obama mengunjungi kawasan Teluk Meksiko pada tanggal 2 Mei, 28 Mei, dan 4 Juni bersama sejumlah anggota kabinetnya. Tanggal 22 Mei, ia menyatakan dimulainya investigasi federal dan membentuk komisi dwipartai untuk merekomendasikan standar keselamatan baru setelah dilakukan tinjauan oleh Menteri Dalam Negeri Ken Salazar dan sidang Kongres. Tanggal 27 Mei, ia mengumumkan moratorium izin dan sewa pengeboran laut dalam baru selama 6 bulan sambil menunggu hasil tinjauan peraturan. Setelah berbagai upaya BP gagal, sejumlah pihak di media dan publik mengungkapkan ketidakjelasan sekaligus kritik atas beragam aspek kecelakaan ini, serta menginginkan Obama dan pemerintah federal terlibat lebih jauh dalam penanganannya.

Pengendalian Senjata Api
Pada tanggal 16 Januari 2013, satu bulan setelah penembakan Sekolah Dasar Sandy Hook, Presiden Obama mengusulkan serangkaian rencana pengendalian senjata api secara cepat, meminta Kongres mengesahkan kembali larangan senjata api “bergaya militer” seperti yang dipakai di beberapa kasus penembakan massal terakhir, menerapkan pembatasan magasin peluru menjadi 10 butir, melaksanakan pemeriksaan latar belakang semua pembeli senjata api, melarang kepemilikan dan penjualan peluru tembus rompi antipeluru, menerapkan hukuman berat bagi penyelundup senjata, khususnya penjual tak berlisensi yang membeli senjata api untuk pelaku kriminal dan menyetujui penunjukan kepala badan federal Bureau of Alcohol, Tobacco, Firearms and Explosives untuk pertama kalinya sejak 2006.

Pemilihan Pertengahan 2010
 
Obama menyebut pemilu 2 November 2010 yang berakhir dengan Partai Demokrat kehilangan 63 kursi yang didudukinya sekaligus kendali mayoritas di DPR sebagai hal yang “memalukan” dan “merugikan”. Ia mengatakan hasilnya seperti itu karena belum banyak warga Amerika Serikat yang sudah merasakan dampak pemulihan ekonomi.

Kebijakan Luar Negeri

Pada bulan Februari dan Maret, Wakil Presiden Joe Biden dan Menteri Luar Negeri Hillary Rodham Clinton melakukan serangkaian perjalanan terpisah ke luar negeri untuk mengumumkan “era baru” dalam hubungan luar negeri A.S. dengan Rusia dan Eropa. Mereka memakai kata “break” dan “reset” untuk menyebut perubahan besar dari kebijakan era pemerintahan sebelumnya. Obama berusaha berkomunikasi dengan para pemimpin Arab dengan mengadakan wawancara pertamanya dengan jaringan televisi Arab, Al Arabiya.

361px-Barack_Obama_at_Cairo_University_cropped

Obama menyampaikan pidato berjudul “A New Beginning” di Universitas Kairo pada tanggal 4 Juni 2009

Tanggal 19 Maret, Obama melanjutkan pendekatannya dengan umat Muslim dengan merilis video ucapan Selamat Tahun Baru untuk rakyat dan pemerintah Iran. Upaya ini tidak digubris oleh pemerintah Iran. Pada bulan April, Obama berpidato di Ankara, Turki, dan disambut hangat oleh sejumlah pemerintah di kawasan Arab. Tanggal 4 Juni 2009, Obama menyampikan pidato di Universitas Kairo, Mesir, yang berisi tentang dimulainya “awal baru” dalam hubungan antara dunia Islam dan Amerika Serikat dan mempromosikan perdamaian di Timur Tengah.

President_Barack_Obama_meets_President_Felipe_Calderón

Obama dan Presiden Meksiko Felipe Calderón, 2009

Tanggal 26 Juni 2009, menanggapi tindakan pemerintah Iran terhadap pengunjuk rasa pasca-pemilu presiden Iran 2009, Obama mengatakan, “Kekerasan yang dilakukan terhadap mereka sangat biadab. Kami mengetahuinya dan kami mengutuknya.” Tanggal 7 Juli, saat di Moskwa, ia menjawab komentar Wakil Presiden Biden tentang kemungkinan serangan militer Israel ke Iran, “Kami telah berkata langsung kepada pemerintah Israel bahwa penting sekali untuk mencoba dan menyelesaikan masalah ini secara bersama-sama sehingga tidak menciptakan konflik besar di Timur Tengah.”

800px-Cristina_Fernández_with_Barack_Obama_in_Cannes_2011

Obama dan Presiden Argentina Cristina Fernández de Kirchner, 2011.

Tanggal 24 September 2009, Obama menjadi presiden menjabat A.S. pertama yang menghadiri pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

800px-David_Cameron_and_Barack_Obama_at_the_G20_Summit_in_Toronto

Obama bertemu Perdana Menteri Britania Raya David Cameron pada pertemuan G-20 Toronto 2010

Pada bulan Maret 2010, Obama menentang secara terbuka rencana pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk terus melaksanakan proyek perumahan Yahudi di permukiman-permukiman Arab di Yerusalem Timur. Pada bulan itu juga, Obama membuat perjanjian dengan pemerintahan Presiden Rusia Dmitry Medvedev untuk mengganti Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis 1991 dengan pakta baru yang mengurangi jumlah senjata nuklir jarak jauh mereka sebesar sepertiga dari total persediaannya. Perjanjian New START tersebut ditandatangani oleh Obama dan Medvedev pada April 2010 dan disahkan oleh Senat A.S. bulan Desember 2010.

Tanggal 6 Desember 2011, ia menginstruksikan semua badan pemerintahan mempertimbangkan hak-hak LGBT saat mengeluarkan bantuan keuangan ke negara asing.

Perang Irak
 
Pada tanggal 27 Februari 2009, Obama mengumuman bahwa operasi pertempuran di Irak akan berakhir dalam 18 bulan. Pernyataannya ditujukan kepada sekelompok Marinir yang hendak ditempatkan di Afghanistan. Obama mengatakan, “Saya katakan dengan jelas: pada 31 Agustus 2010, misi pertempuran kita di Irak akan berakhir.” Pemerintahan Obama memperkirakan penarikan pasukan tempur akan rampung pada Agustus 2010, mengurangi jumlah tentara dari 142.000 orang menjadi satu pasukan transisi berkekuatan 50.000 orang di Irak sampai akhir 2011. Pada 19 Agustus 2010, brigade tempur AS terakhir keluar dari Irak. Tentara yang tersisa dialihkan dari operasi pertempuran ke kontra-terorisme dan pelatihan, perlengkapan, dan pendidikan pasukan keamanan Irak. Tanggal 31 Agustus 2010, Obama menyatakan bahwa misi tempur Amerika Serikat di Irak telah berakhir. Tanggal 21 Oktober 2011, Presiden Obama mengumumkan bahwa seluruh tentara A.S. akan keluar dari Irak tepat pada waktunya supaya bisa “pulang saat musim liburan”.

Perang di Afghanistan

Pada awal masa pemerintahannya, Obama berupaya memperkuat keberadaan pasukan A.S. di Afghanistan. Ia menyetujui penambahan jumlah tentara A.S. menjadi 17.000 orang pada Februari 2009 untuk “menstabilkan situasi yang memburuk di Afghanistan”, sebuah daerah yang katanya belum menerima “perhatian, arahan, dan sumber daya strategis yang mereka sangat perlukan”. Ia mengganti komandan militer di Afghanistan, Jenderal David D. McKiernan, dengan mantan komandan Pasukan Khusus Letnan Jenderal Stanley A. McChrystal pada Mei 2009, menandakan bahwa pengalaman Pasukan Khusus McChrystal bisa membantu penerapan taktik-taktik kontra-penyergapan dalam perang. Tanggal 1 Desember 2009, Obama mengumumkan penempatan 30.000 personel militer tambahan di Afghanistan. Ia juga berencana mulai menarik tentara 18 bulan terhitung sejak tanggal tersebut. McChrystal digantikan oleh David Petraeus pada bulan Juni 2010 setelah staf McChrystal mengkritik personel Gedung Putih dalam sebuah artikel majalah.

Israel

Obama berkata bahwa Amerika Serikat dan Israel memiliki hubungan yang “tak terpisahkan.” Pada tahun-tahun pertama pemerintahan Obama, Amerika Serikat meningkatkan kerja sama militernya dengan Israel, termasuk menambah bantuan militer, membentuk kembali U.S.-Israeli Joint Political Military Group dan Defense Policy Advisory Group, serta meningkatkan jumlah kunjungan petinggi militer antar kedua negara. Pemerintahan Obama meminta Kongres mengalokasikan anggaran untuk mendanai program Kubah Besi sebagai respon terhadap serangan roket Palestina di Israel.

800px-Barack_Obama_welcomes_Shimon_Peres_in_the_Oval_Office

Obama bertemu dengan Presiden Israel Shimon Peres, 2009

Pada tahun 2011, Amerika Serikat memveto sebuah resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengutuk pembangunan permukiman Israel dan hanya Amerika Serikat yang melakukan aksi ini. Obama mendukung solusi dua negara terhadap konflik Arab–Israel sesuai perbatasan tahun 1967 dengan cara pertukaran tanah.

Perang di Libya

Pada Maret 2011, ketika pasukan yang setia pada Muammar Gaddafi memerangi pihak pemberontak di seluruh Libya, permintaan dibentuknya zona larangan terbang datang dari seluruh dunia, termasuk Eropa, Liga Arab, dan sebuah resolusi[244] yang disahkan secara bulat oleh Senat A.S. Menanggapi pengesahan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa 1973 secara bulat pada tanggal 17 Maret, Gaddafi—yang sebelumnya berjanji “tidak ada ampun” bagi pemberontak Benghazi—mengumumkan penghentian semua aktivitas militer, namun sejumlah laporan menyebutkan bahwa pasukannya terus membombardir Misrata. keesokan harinya, atas perintah Obama, militer A.S. memainkan peran utama dalam serangan udara untuk menghancurkan kemampuan pertahanan udara pemerintah Libya demi melindungi warga sipil dan menciptakan zona larangan terbang,[248] termasuk memakai rudal Tomahawk, B-2 Spirit, dan jet tempur. Enam hari kemudian, pada tanggal 25 Maret, dengan persetujuan ke-28 anggotanya, NATO memimpin upaya intervensi yang diberi nama Operation Unified Protector. Sejumlah anggota DPR mempertanyakan apakah Obama punya kewenangan konstitusional untuk memerintahkan aksi militer selain biaya, struktur, dan dampaknya.

Osama bin Laden

Berawal dengan informasi yang diterima bulan Juli 2010, aktivitas mata-mata CIA pada bulan-bulan selanjutnya menyimpulkan bahwa sebuah bangunan perlindungan besar di Abbottabad, kawasan pinggiran 35 mil dari Islamabad, Pakistan, sebagai tempat bersembunyi Osama bin Laden. Kepala CIA Leon Panetta melaporkan hasil intelijen ini ke Presiden Obama pada bulan Maret 2011. Bertemu dengan penasihat keamanan nasionalnya selama enam minggu berikutnya, Obama menolak rencana pengeboman bangunan tersebut dan memerintahkan “serangan mendadak” oleh SEAL Angkatan Laut Amerika Serikat. Operasi ini dilaksanakan tanggal 1 Mei 2011 yang berujung dengan kematian Osama bin Laden dan penyitaan sejumlah berkas, drive komputer dan CD dari tempat perlindungannya. Jenazah bin Laden diidentifikasi melalui pengujian DNA dan dikuburkan di laut beberapa jam kemudian.[260] Dalam hitungan menit setelah pengumuman Presiden dari Washington, DC, pada 1 Mei malam, muncul berbagai perayaan spontan di seluruh Amerika Serikat, termasuk kerumunan di luar Gedung Putih, Ground Zero, dan Times Square. Pengumuman tersebut disambut positif oleh seluruh jajaran partai, termasuk mantan Presiden Bill Clinton dan George W. Bush, dan sejumlah negara lain di seluruh dunia.

Obama_and_Biden_await_updates_on_bin_Laden

Presiden Barack Obama bersama anggota tim keamanan nasionalnya mendapatkan berita baru tentang Operasi Neptune’s Spear di White House Situation Room, 1 Mei 2011.

Citra Budaya dan Politik

Official_portrait_of_Barack_Obama

Potret resmi presiden Obama (2009)

Sejarah keluarga, popularitas, dan pendidikan Ivy League Obama jauh berbeda dibandingkan dengan para politikus Afrika Amerika yang memulai kariernya dengan ikut serta dalam gerakan hak-hak sipil pada tahun 1960-an. Menyatakan keterkejutannya atas sejumlah orang yang mempertanyakan apakah ia “cukup hitam”, pada pertemuan National Association of Black Journalists bulan Agustus 2007 Obama mengatakan bahwa “kita masih terjebak dalam pemikiran bahwa jika Anda menarik perhatian orang kulit putih, pasti ada yang salah”. Obama mengakui citra pemudanya dalam pidato kampanye bulan Oktober 2007, “Saya tidak akan berdiri di sini jika obor belum diserahkan ke generasi yang baru.”

Barack_Obama_hangout

Obama mengadakan wawancara virtual pertama dari Gedung Putih pada tahun 2012

Obama sering dijuluki sebagai sosok orator yang kemampuannya tidak diragukan lagi.[268] Pada masa transisi prapelantikan hingga masa pemerintahannya, Obama menyampaikan sejumlah pidato mingguan melalui video di Internet.

Menurut survei Gallup, Obama memulai masa pemerintahannya dengan persetujuan rakyat sebesar 68%, lalu menurun perlahan hingga 41% pada Agustus 2010, sebuah tren yang juga dialami Ronald Reagan dan Bill Clinton saat menjabat pada tahun pertama. Popularitasnya sempat naik sedikit setelah kematian Osama bin Laden dan bertahan sampai Juni 2011 ketika popularitasnya anjlok lagi ke level sebelum operasi penyerbuan dimulai. Jajak pendapat di negara lain menunjukkan adanya dukungan kuat untuk Obama, dan sebelum terpilih sebagai Presiden ia sempat bertemu dengan sejumlah tokoh asing ternama seperti Perdana Menteri Britania Raya Tony Blair, ketua Partai Demokrat Italia dan Wali Kota Roma Walter Veltroni, dan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy.

G8_leaders_watching_football

Obama dan para pemimpin G8 menonton pertandingan Bayern Munich vs. Chelsea F.C. pada final UEFA Champions League bulan Mei 2012

Dalam jajak pendapat Harris Interactive untuk France 24 dan International Herald Tribune di Eropa Barat dan A.S. pada Februari 2009, Obama merupakan pemimpin dunia yang paling dihormati dan berpengaruh. Dalam jajak pendapat oleh Harris bulan Mei 2009, Obama merupakan pemimpin dunia paling terkenal, sekaligus sosok yang sangat diharapkan masyarakat mampu membawa dunia keluar dari krisis ekonomi.

Obama memenangkan Grammy Award dalam kategori Best Spoken Word Album untuk versi buku suara Dreams from My Father pada bulan Februari 2006 dan The Audacity of Hope pada Februari 2008. Pidato konsesinya setelah kampanye pendahuluan di New Hampshire diubah menjadi lagu “Yes We Can” oleh sejumlah artis independen dan ditonton sebanyak 10 juta kali di YouTube dalam kurun satu bulan[284] dan memenangkan Daytime Emmy Award. Bulan Desember 2008, majalah Time menobatkan Obama sebagai Person of the Year atas pencalonan dan pemilihannya yang bersejarah yang digambarkan sebagai “peraihan suatu pencapaian yang tampak mustahil”. Ia lagi-lagi dinobatkan sebagai Person of the Year tahun 2012.

Pada tanggal 9 Oktober 2009, Komite Nobel Norwegia mengumumkan bahwa Obama adalah pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2009 “atas upayanya yang luar biasa dalam memperkuat diplomasi internasional dan kerja sama antarmasyarakat”.Obama menerima hadiah ini di Oslo, Norwegia tanggal 10 Desember 2009 dengan “rasa terima kasih mendalam dan kehormatan luar biasa.” Pemberian hadiah ini disambut berbagai pujian dan kritik dari sejumlah pemimpin dunia dan tokoh media. Obama adalah presiden A.S. keempat yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian dan ketiga yang memenangkan Hadiah Nobel saat sedang menjabat.

Keluarga dan Kehidupan Pribadi

800px-Obama_family_portrait_in_the_Green_Room

Obama berpose di Green Room, Gedung Putih, bersama istrinya Michelle dan kedua putrinya Sasha dan Malia, 2009

Dalam sebuah wawancara tahun 2006, Obama menggarisbawahi keragaman keluarganya yang luas: “Rasanya seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa berukuran mini… Saya punya kerabat yang mirip dengan Bernie Mac. Saya juga punya kerabat yang mirip dengan Margaret Thatcher.” Obama memiliki adik ipar yang juga dibesarkan bersama dirinya (Maya Soetoro-Ng, putri dari ibunya dan suami keduanya yang berasal dari Indonesia) dan tujuh saudara ipar dari keluarga ayahnya yang berasal dari Kenya – enam di antaranya masih hidup. Nenek Obama dari pihak ibunya, Madelyn Dunham, meninggal dunia pada tanggal 2 November 2008, dua hari sebelum Obama terpilih menjadi Presiden. Obama juga memiliki hubungan kekerabatan dengan bangsa Irlandia; ia bertemu sepupunya di Moneygall pada bulan Mei 2011. Dalam buku Dreams from My Father, Obama mengaitkan sejarah keluarga ibunya dengan kemungkinan nenek moyang Pribumi Amerika dan hubungan kekerabatan jauh dengan Jefferson Davis, Presiden Konfederasi Amerika pada Perang Saudara Amerika.

Obama dipanggil “Barry” saat masih muda, kemudian meminta agar dipanggil dengan nama aslinya setelah duduk di bangku perguruan tinggi. Selain bahasa Inggris, Obama juga bisa mempertuturkan sedikit bahasa Indonesia setelah mempelajarinya selama empat tahun ketika bersekolah di Jakarta. Ia gemar bermain basket dan pernah berpartisipasi dalam tim basket SMA-nya. Ia juga sosok yang bertangan kidal.

Obama adalah pendukung Chicago White Sox dan ia melakukan lemparan pertama di 2005 ALCS saat masih menjabat sebagai senator. Pada tahun 2009, ia melakukan lemparan pertama di 2009 Major League Baseball All-Star Game dengan mengenakan jaket White Sox. Ia juga merupakan penggemar berat Chicago Bears di NFL, namun saat masih kecil dan remaja ia adalah penggemar Pittsburgh Steelers, dan berhenti menjelang kemenangan mereka di Super Bowl XLIII 12 hari setelah menjabat sebagai Presiden. Pada tahun 2011, Obama mengundang tim Chicago Bears tahun 1985 ke Gedung Putih; tim tersebut belum pernah masuk Gedung Putih sejak menang di Super Bowl tahun 1986 akibat bencana Wahana Antariksa Challenger.

399px-Barack_Obama_playing_basketball_with_members_of_Congress_and_Cabinet_secretaries_2

Obama melemparkan bola pada pertandingan di lapangan basket Gedung Putih, 2009

Pada bulan Juni 1989, Obama bertemu Michelle Robinson saat bekerja sebagai pengacara pembantu di firma hukum Sidley Austin, Chicago. Ditugaskan sebagai penasihat Obama selama tiga bulan, Robinson bekerja sama dengan Obama di sejumlah acara sosial, namun menolak permintaan kencan pertamanya. Mereka mulai berkencan pada musim panas, bertunangan tahun 1991, dan menikah tanggal 3 Oktober 1992. Putri pertama mereka, Malia Ann, lahir tanggal 4 Juli 1998, diikuti putri kedua, Natasha (“Sasha”), pada tanggal 10 Juni 2001.Kedua putri Obama bersekolah di University of Chicago Laboratory Schools. Setelah pindah ke Washington, D.C. bulan Januari 2009, mereka mulai bersekolah di Sidwell Friends School. Keluarga Obama memiliki seekor anjing air Portugal bernama Bo yang dihadiahkan oleh Senator Ted Kennedy.

Setelah membuat persetujuan penerbitan buku, pada tahun 2005 keluarga ini pindah dari kondominium di Hyde Park, Chicago ke sebuah rumah senilai $1,6 juta di Kenwood, Chicago. Pembelian tanah di sampingnya—dan penjualan separuh lahannya ke Obama oleh istri pengembang, donor kampanye, dan sahabatnya Tony Rezko—menarik perhatian media setelah Rezko diadili dan ditahan akibat tuduhan korupsi politik yang tidak ada hubungannya dengan Obama.

Pada bulan Desember 2007, Money memperkirakan kekayaan bersih keluarga Obama sebesar $1,3 juta. Formulir pajak mereka tahun 2009 mencantumkan pendapatan rumah tangga senilai $5,5 juta—naik dari $4,2 juta tahun 2007 dan $1,6 juta tahun 2005—yang kebanyakan merupakan hasil penjualan buku-bukunya. Dari pendapatannya sebesar $1,7 juta pada tahun 2010, ia memberikan 14%-nya ke organisasi nirlaba, termasuk $131.000 ke Fisher House Foundation, badan amal yang membantu keluarga veteran terluka dan mengizinkan mereka tinggal dekat tempat veteran tersebut dirawat. Dalam informasi keuangannya yang dilepaskan ke publik tahun 2012, kekayaan Obama bisa mencapai $10 juta.

Obama sempat mencoba berhenti merokok beberapa kali, kadang dengan terapi pengganti nikotin, dan pada awal 2010 Michelle Obama mengatakan bahwa ia berhasil berhenti merokok.

Pandangan Agama
Obama adalah seorang Kristen Protestan yang pandangan agamanya mulai terbentuk setelah beranjak dewasa. Di The Audacity of Hope, ia menulis bahwa ia “tidak dibesarkan di keluarga yang agamis”. Ia menggambarkan ibunya yang dibesarkan oleh keluarga nonreligius (yang Obama sebut sebagai “Metodis dan Baptis tidak taat”) sebagai sosok yang terlepas dari agama, namun juga “sosok yang pandangan spiritualnya paling terbuka yang pernah aku kenal”. Ia menggambarkan ayahnya sebagai “ateis mutlak” pada saat orang tuanya bertemu, dan ayah tirinya sebagai “orang yang memandang agama sebagai sesuatu yang tidak terlalu bermanfaat.” Obama menjelaskan bagaimana ia memahami “kekuatan tradisi agama Afrika-Amerika dalam menciptakan perubahan sosial” setelah bekerja sebagai penggerak masyarakat di gereja-gereja hitam saat berusia 20 tahunan.

Dalam sebuah wawancara dengan periodik evangelis Christianity Today, Obama menyatakan: “Saya seorang Kristen dan saya seorang Kristen yang taat. Saya percaya dengan penebusan dan kebangkitan Yesus Kristus. Saya percaya bahwa agama memberikan jalan pembersihan dari dosa dan kehidupan yang abadi.” Pada tanggal 27 September 2010, Obama merilis pernyataan yang mengomentari pandangan agamanya, “Aku Kristen karena pilihan. Keluargaku tidak—sejujurnya, mereka bukan orang-orang yang rajin ke gereja setiap minggu. Dan ibuku adalah orang paling spiritual yang pernah aku kenal, tetapi dia tidak membesarkanku di gereja. Jadi aku memeluk agama Kristen setelah dewasa, dan ini karena petunjuk Yesus Kristus berbicara kepadaku dalam bentuk kehidupan yang ingin aku pimpin—menjadi pelindung saudara-saudaraku, memperlakukan orang lain sebagaimana mereka memperlakukanku.”

Obama bertemu Trinity United Church of Christ Pdt. Jeremiah Wright pada bulan Oktober 1987 dan menjadi anggota Trinity tahun 1992. Ia keluar dari Trinity bulan Mei 2008 saat kampanye presiden pertamanya setelah pernyataan kontroversial Jeremiah Wright tersebar ke publik. Setelah lama mencari gereja yang cocok di Washington, Obama mengumumkan pada Juni 2009 bahwa tempat ibadah kesukaannya adalah Kapel Evergreen di Camp David.

Advertisements

Dalai Lama

BIOGRAPHY-NEW

Tenzin Gyatso. Tibet's exiled spiritual leader, the Dalai Lama, backed by the Tibetan flag, addresses a group at Australia's parliament in Canberra Friday, May 24, 2002, thanking supporters for backing his struggle for more autonomy for his homeland. The Dalai Lama is on a 10-day visit to Australia. (AP Photo/Rick Rycroft)

Tenzin Gyatso. Tibet’s exiled spiritual leader, the Dalai Lama, backed by the Tibetan flag, addresses a group at Australia’s parliament in Canberra Friday, May 24, 2002, thanking supporters for backing his struggle for more autonomy for his homeland. The Dalai Lama is on a 10-day visit to Australia. (AP Photo/Rick Rycroft)

The Dalai Lama is a high lama in the Gelug or “Yellow Hat” school of Tibetan Buddhism, founded by Tsongkhapa (1357–1419). The name is a combination of the Sino-Mongolian word dalai meaning “big sea” and the Tibetan word བླ་མ་ (bla-ma) meaning “guru, teacher”.

According to Tibetan Buddhist doctrine, the Dalai Lama is the rebirth in a line of tulkus who are metaphorically considered to be manifestations of the bodhisattva of compassion, Avalokiteśvara. The Dalai Lama is often thought to be the leader of the Gelug School, but this position belongs officially to the Ganden Tripa, which is a temporary position appointed by the Dalai Lama who, in practice, exerts much influence. The line of Dalai Lamas began as a lineage of spiritual teachers; the 5th Dalai Lama assumed political authority over Tibet.

For certain periods between the 17th century and 1959, the Dalai Lamas sometimes directed the Tibetan government, which administered portions of Tibet from Lhasa. The 14th Dalai Lama remained the head of state for the Central Tibetan Administration (“Tibetan government in exile”) until his retirement on March 14, 2011. He has indicated that the institution of the Dalai Lama may be abolished in the future, and also that the next Dalai Lama may be found outside Tibet and may be female. The Chinese government rejected this and asserted that only it has the authority to select the next Dalai Lama.

Dalai Lama

1st_Dalai_Lama

Gendun Drup, 1st Dalai Lama
Reign 1391–1474
Tibetan ཏཱ་ལའི་བླ་མ་
Wylie transliteration taa la’i bla ma
Pronunciation [taːlɛː lama]
conventional romanisation Dalai Lama
Royal House Dalai Lama

In 1578 the Mongol ruler Altan Khan bestowed the title Dalai Lama on Sonam Gyatso. The title was later applied retroactively to the two predecessors in his reincarnation line: Gendun Drup, founding abbot of Trashilhünpo and close disciple of Je Tsongkhapa; and Gendun Gyatso, abbot of Trashilhünpo, Drepung, and Sera. The current 14th Dalai Lama and others seeking to assert the historical independence of Tibet believe that Altan Khan did not bestow a title as such, only intending to translate the name “Sonam Gyatso” into Mongolian.</ref> Others have noted the title’s similarity to Čingis Qāghan, or “oceanic sovereign” (usually anglicized as “Ghengis Khan“), a name taken by the Mongol leader Temüjin in 1206 to commemorate his rule of a newly-united Mongolian Empire. Tibetans themselves address the Dalai Lama as Gyalwa Rinpoche (“Precious Victor”), Kundun (“Presence”), Yishin Norbu (“Wish fulfilling Gem“) and so on.

The current Dalai Lama is often called “His Holiness” (HH) by Westerners in imitation of the traditional address for the Pope. It should be noted that there is no correspondence to this form of address in Tibetan. Before the 20th century, European sources often referred to the Dalai Lama as the “Grand Lama”. For example, in 1785 Benjamin Franklin Bache mocked George Washington by terming him the “Grand Lama of this Country.”

History

Tibetan Buddhism

Kublai Khan

Kublai Khan

During 1252, Kublai Khan granted an audience to Drogön Chögyal Phagpa and Karma Pakshi, the 2nd Karmapa. Karma Pakshi, however, sought the patronage of Möngke Khan. Before his death in 1283, Karma Pakshi wrote a will to protect the established interests of his sect by advising his disciples to locate a boy to inherit the black hat. His instruction was based on the premise that Buddhist ideology is eternal, and that Buddha would send emanations to complete the missions he had initiated. Karma Pakshi’s disciples acted in accordance with the will and located the reincarnated boy of their master. The event was the beginning of the teacher reincarnation system for the Black-Hat Line of Tibetan Buddhism. During the Ming Dynasty, the Yongle Emperor bestowed the title Great Treasure Prince of Dharma, the first of the three Princes of Dharma, upon the Black-Hat Karmapa. Various sects of Tibetan Buddhism responded to the teacher reincarnation system by creating similar lineages.

Unification of Tibet

Güshi Khan

Güshi Khan

In the 1630s, Tibet became entangled in power struggles between the rising Manchu and various Mongol and Oirat factions. Ligden Khan of the Chakhar, retreating from the Manchu, set out to Tibet to destroy the Yellow Hat sect. He died on the way to Qinghai (Koko Nur) in 1634. His vassal Tsogt Taij continued the fight, even having his own son Arslan killed after Arslan changed sides. Tsogt Taij was defeated and killed by Güshi Khan of the Khoshud in 1637, who would in turn become the overlord of Tibet, and act as a “Protector of the Yellow Church.” Güshi helped the Fifth Dalai Lama to establish himself as the highest spiritual and political authority in Tibet and destroyed any potential rivals. The time of the Fifth Dalai Lama was, however, also a period of rich cultural development.

The Fifth Dalai Lama’s death was kept secret for fifteen years by the regent (Tibetan: སྡེ་སྲིད།, Wylie: sde-srid), Sanggye Gyatso. This was apparently done so that the Potala Palace could be finished, and to prevent Tibet’s neighbors taking advantage of an interregnum in the succession of the Dalai Lamas.

Tsangyang Gyatso, the Sixth Dalai Lama, was not enthroned until 1697. Tsangyang Gyatso enjoyed a lifestyle that included drinking, the company of women, and writing love songs. In 1705, Lobzang Khan of the Khoshud used the sixth Dalai Lama’s escapades as excuse to take control of Tibet. The regent was murdered, and the Dalai Lama sent to Beijing. He died on the way, near Koko Nur, ostensibly from illness. Lobzang Khan appointed a new Dalai Lama who, however was not accepted by the Gelugpa school. Kelzang Gyatso was discovered near Koko Nur and became a rival candidate.

The Dzungars invaded Tibet in 1717, and deposed and killed Lobzang Khan’s pretender to the position of Dalai Lama. This was widely approved. However, they soon began to loot the holy places of Lhasa, which brought a swift response from the Kangxi Emperor in 1718; but his military expedition was annihilated by the Dzungars in the Battle of the Salween River, not far from Lhasa.

A second, larger, expedition sent by the Kangxi Emperor expelled the Dzungars from Tibet in 1720 and the troops were hailed as liberators. They brought Kelzang Gyatso with them from Kumbum to Lhasa and he was installed as the seventh Dalai Lama in 1721.

After him [Jamphel Gyatso the eighth Dalai Lama (1758–1804)], the 9th and 10th Dalai Lamas died before attaining their majority: one of them is credibly stated to have been murdered and strong suspicion attaches to the other. The 11th and 12th were each enthroned but died soon after being invested with power. For 113 years, therefore, supreme authority in Tibet was in the hands of a Lama Regent, except for about two years when a lay noble held office and for short periods of nominal rule by the 11th and 12th Dalai Lamas.
It has sometimes been suggested that this state of affairs was brought about by the Ambans—the Imperial Residents in Tibet—because it would be easier to control the Tibet through a Regent than when a Dalai Lama, with his absolute power, was at the head of the government. That is not true. The regular ebb and flow of events followed its set course. The Imperial Residents in Tibet, after the first flush of zeal in 1750, grew less and less interested and efficient. Tibet was, to them, exile from the urbanity and culture of Peking; and so far from dominating the Regents, the Ambans allowed themselves to be dominated. It was the ambition and greed for power of Tibetans that led to five successive Dalai Lamas being subjected to continuous tutelage.

Thubten Jigme Norbu, the elder brother of the present 14th Dalai Lama, describes these unfortunate events as follows:

It is perhaps more than a coincidence that between the seventh and the thirteenth holders of that office, only one reached his majority. The eighth, Gyampal Gyatso, died when he was in his thirties, Lungtog Gyatso when he was eleven, Tsultrim Gyatso at eighteen, Khadrup Gyatso when he was eighteen also, and Krinla Gyatso at about the same age. The circumstances are such that it is very likely that some, if not all, were poisoned, either by loyal Tibetans for being Chinese-appointed impostors, or by the Chinese for not being properly manageable.

Thubten Gyatso, the 13th Dalai Lama, assumed ruling power from the monasteries, which previously had great influence on the Regent, during 1895. Due to his two periods of exile in 1904–1909, to escape the British invasion of 1904, and from 1910–1912 to escape a Chinese invasion, he became well aware of the complexities of international politics and was the first Dalai Lama to become aware of the importance of foreign relations. After his return from exile in India and Sikkim during January 1913, he assumed control of foreign relations and dealt directly with the Maharaja and the British Political officer in Sikkim and the king of Nepal rather than letting the Kashag or parliament do it.

Throne awaiting Dalai Lama's return. Summer residence of 13th Dalai Lama, Nechung, Tibet.

Throne awaiting Dalai Lama’s return. Summer residence of 13th Dalai Lama, Nechung, Tibet.

Thubten Gyatso issued a Declaration of Independence for his kingdom in Central Tibet from China during the summer of 1912 and standardised a Tibetan flag, though no other sovereign state recognized the independence. He expelled the Ambans and all Chinese civilians in the country, and instituted many measures to modernise Tibet. These included provisions to curb excessive demands on peasants for provisions by the monasteries and tax evasion by the nobles, setting up an independent police force, the abolishment of the death penalty, extension of secular education, and the provision of electricity throughout the city of Lhasa in the 1920s. Thubten Gyatso died in 1933.

The 14th Dalai Lama was not formally enthroned until 17 November 1950, during the People’s Republic of China invasion of the kingdom. In 1951, he and the Tibetan government formally accepted the Seventeen Point Agreement by which Tibet was formally incorporated into the People’s Republic of China. Fearing for his life in the wake of a revolt in Tibet in 1959, the 14th Dalai Lama fled to India where he has led a government in exile since. With the aim of launching guerrilla operations against the Chinese, the CIA funded the Dalai Lama $1.7 million a year in the 1960s. In 2001, he ceded his absolute power over the government to an elected parliament of selected Tibetan exiles. His original goal was full independence for Tibet, but by the late 1980s, he was seeking high-level autonomy instead. He is still seeking greater autonomy from China, although Dolma Gyari, deputy speaker of the parliament-in-exile has stated “If the middle path fails in the short term, we will be forced to opt for complete independence or selfdetermination as per the UN charter”.

Residence

Starting with the 5th Dalai Lama and until the 14th Dalai Lama’s flight into exile during 1959, the Dalai Lamas spent winters at the Potala Palace and summers at the Norbulingka palace and park. Both are in Lhasa and approximately 3 km apart.

Following the failed 1959 Tibetan uprising, the 14th Dalai Lama sought refuge in India. The then Indian Prime Minister, Jawaharlal Nehru, allowed in the Dalai Lama and the Tibetan government officials. The Dalai Lama has since lived in exile in Dharamshala, in the state of Himachal Pradesh in northern India, where the Central Tibetan Administration is also established. Tibetan refugees have constructed and opened many schools and Buddhist temples in Dharamshala.

Potala Palace

Potala Palace

Norbulingka

Norbulingka

Searching for the reincarnation

The search for the 14th Dalai Lama took the High Lamas to Taktser in Amdo

The search for the 14th Dalai Lama took the High Lamas to Taktser in Amdo

By the Himalayan tradition, phowa is the discipline that transfers the mindstream to the intended body. Upon the death of the Dalai Lama and consultation with the Nechung Oracle, a search for the Lama’s yangsi, or reincarnation, is conducted. Traditionally, it has been the responsibility of the High Lamas of the Gelugpa tradition and the Tibetan government to find his reincarnation. The process can take around two or three years to identify the Dalai Lama, and for the 14th, Tenzin Gyatso, it was four years before he was found. Historically, the search for the Dalai Lama has usually been limited to Tibet, though the third tulku[who?] was born in Mongolia. Tenzin Gyatso, however, has stated that he will not be reborn in the People’s Republic of China, though he has also suggested he may not be reborn at all, suggesting the function of the Dalai Lama may be outdated.

Palden Lhamo, the female guardian spirit of the sacred lake, Lhamo La-tso, who promised Gendun Drup the 1st Dalai Lama in one of his visions that

Palden Lhamo, the female guardian spirit of the sacred lake, Lhamo La-tso, who promised Gendun Drup the 1st Dalai Lama in one of his visions that “she would protect the reincarnation lineage of the Dalai Lamas”

The High Lamas used several ways in which they can increase the chances of finding the reincarnation. High Lamas often visit Lhamo La-tso, a lake in central Tibet, and watch for a sign from the lake itself. This may be either a vision or some indication of the direction in which to search, and this was how Tenzin Gyatso was found. It is said that Palden Lhamo, the female guardian spirit of the sacred lake Lhamo La-tso promised Gendun Drup, the 1st Dalai Lama, in one of his visions “that she would protect the reincarnation lineage of the Dalai Lamas.”[citation needed] Ever since the time of Gendun Gyatso, the 2nd Dalai Lama, who formalised the system, the Regents and other monks have gone to the lake to seek guidance on choosing the next reincarnation through visions while meditating there.

The particular form of Palden Lhamo at Lhamo La-tso is Gyelmo Maksorma, “The Victorious One who Turns Back Enemies”. The lake is sometimes referred to as “Pelden Lhamo Kalideva”, which indicates that Palden Lhamo is an emanation of the goddess Kali, the shakti of the Hindu God Shiva.

Lhamo Latso … [is] a brilliant azure jewel set in a ring of grey mountains. The elevation and the surrounding peaks combine to give it a highly changeable climate, and the continuous passage of cloud and wind creates a constantly moving pattern on the surface of the waters. On that surface visions appear to those who seek them in the right frame of mind.

It was here that in 1935, the Regent Reting Rinpoche received a clear vision of three Tibetan letters and of a monastery with a jade-green and gold roof, and a house with turquoise roof tiles, which led to the discovery of Tenzin Gyatso, the 14th Dalai Lama.

High Lamas may also have a vision by a dream or if the Dalai Lama was cremated, they will often monitor the direction of the smoke as an indication of the direction of the rebirth.

Once the High Lamas have found the home and the boy they believe to be the reincarnation, the boy undergoes a series of tests to affirm the rebirth. They present a number of artifacts, only some of which belonged to the previous Dalai Lama, and if the boy chooses the items which belonged to the previous Dalai Lama, this is seen as a sign, in conjunction with all of the other indications, that the boy is the reincarnation.

If there is only one boy found, the High Lamas will invite Living Buddhas of the three great monasteries, together with secular clergy and monk officials, to confirm their findings and then report to the Central Government through the Minister of Tibet. Later, a group consisting of the three major servants of Dalai Lama, eminent officials, and troops will collect the boy and his family and travel to Lhasa, where the boy would be taken, usually to Drepung Monastery, to study the Buddhist sutra in preparation for assuming the role of spiritual leader of Tibet.

If there are several possible reincarnations, however, regents, eminent officials, monks at the Jokhang in Lhasa, and the Minister to Tibet have historically decided on the individual by putting the boys’ names inside an urn and drawing one lot in public if it was too difficult to judge the reincarnation initially.

List of Dalai Lamas

There have been 14 recognised reincarnations of the Dalai Lama:

Name Picture Lifespan Recognised Enthronement Tibetan/Wylie Tibetan pinyin/Chinese Alternative spellings
1 Gendun Drup 1stDalaiLama.jpg 1391–1474 N/A[36] དགེ་འདུན་འགྲུབ་
dge ‘dun ‘grub
Gêdün Chub
根敦朱巴
Gedun Drub
Gedün Drup
2 Gendun Gyatso 2Dalai.jpg 1475–1542 N/A[36] དགེ་འདུན་རྒྱ་མཚོ་
dge ‘dun rgya mtsho
Gêdün Gyaco
根敦嘉措
Gedün Gyatso
Gendün Gyatso
3 Sonam Gyatso 3rdDalaiLama2.jpg 1543–1588  ? 1578 བསོད་ནམས་རྒྱ་མཚོ་
bsod nams rgya mtsho
Soinam Gyaco
索南嘉措
Sönam Gyatso
4 Yonten Gyatso 4DalaiLama.jpg 1589–1617  ? 1603 ཡོན་ཏན་རྒྱ་མཚོ་
yon tan rgya mtsho
Yoindain Gyaco
雲丹嘉措
Yontan Gyatso, Yönden Gyatso
5 Ngawang Lobsang Gyatso NgawangLozangGyatso.jpg 1617–1682 1618 1622 བློ་བཟང་རྒྱ་མཚོ་
blo bzang rgya mtsho
Lobsang Gyaco
羅桑嘉措
Lobzang Gyatso
Lopsang Gyatso
6 Tsangyang Gyatso 6DalaiLama.jpg 1683–1706 1688 1697 ཚངས་དབྱངས་རྒྱ་མཚོ་
tshang dbyangs rgya mtsho
Cangyang Gyaco
倉央嘉措
Tsañyang Gyatso
7 Kelzang Gyatso 7DalaiLama.jpg 1707–1757  ? 1720 བསྐལ་བཟང་རྒྱ་མཚོ་
bskal bzang rgya mtsho
Gaisang Gyaco
格桑嘉措
Kelsang Gyatso
Kalsang Gyatso
8 Jamphel Gyatso 8thDalaiLama.jpg 1758–1804 1760 1762 བྱམས་སྤེལ་རྒྱ་མཚོ་
byams spel rgya mtsho
Qambê Gyaco
強白嘉措
Jampel Gyatso
Jampal Gyatso
9 Lungtok Gyatso 9thDalaiLama.jpg 1805–1815 1807 1808 ལུང་རྟོགས་རྒྱ་མཚོ་
lung rtogs rgya mtsho
Lungdog Gyaco
隆朵嘉措
Lungtog Gyatso
10 Tsultrim Gyatso 10thDalaiLama.jpg 1816–1837 1822 1822 ཚུལ་ཁྲིམས་རྒྱ་མཚོ་
tshul khrim rgya mtsho
Cüchim Gyaco
楚臣嘉措
Tshültrim Gyatso
11 Khendrup Gyatso 11thDalaiLama1.jpg 1838–1856 1841 1842 མཁས་གྲུབ་རྒྱ་མཚོ་
mkhas grub rgya mtsho
Kaichub Gyaco
凱珠嘉措
Kedrub Gyatso
12 Trinley Gyatso 12thDalai Lama.jpg 1857–1875 1858 1860 འཕྲིན་ལས་རྒྱ་མཚོ་
phrin las rgya mtsho
Chinlai Gyaco
成烈嘉措
Trinle Gyatso
13 Thubten Gyatso BMR.86.1.23.3-O-1- cropped.jpg 1876–1933 1878 1879 ཐུབ་བསྟན་རྒྱ་མཚོ་
thub bstan rgya mtsho
Tubdain Gyaco
土登嘉措
Thubtan Gyatso
Thupten Gyatso
14 Tenzin Gyatso Dalai Lama at WhiteHouse (cropped).jpg born 1935 1937 1950
(currently in exile)
བསྟན་འཛིན་རྒྱ་མཚོ་
bstan ‘dzin rgya mtsho
Dainzin Gyaco
丹增嘉措
Tenzing Gyatso

There has also been one nonrecognised Dalai Lama, Ngawang Yeshey Gyatso, declared 28 June 1707, when he was 25 years old, by Lha-bzang Khan as the “true” 6th Dalai Lama – however, he was never accepted as such by the majority of the population.

Future of the position

In the mid-1970s, Tenzin Gyatso, the Fourteenth Dalai Lama, told a Polish newspaper that he thought he would be the last Dalai Lama. In a later interview published in the English language press he stated, “The Dalai Lama office was an institution created to benefit others. It is possible that it will soon have outlived its usefulness.” These statements caused a furor amongst Tibetans in India. Many could not believe that such an option could even be considered. It was further felt that it was not the Dalai Lama’s decision to reincarnate. Rather, they felt that since the Dalai Lama is a national institution it was up to the people of Tibet to decide whether the Dalai Lama should reincarnate.
The main teaching room of the Dalai Lama in Dharamshala, India

The main teaching room of the Dalai Lama in Dharamshala, India

The government of the People’s Republic of China (PRC) has claimed the power to approve the naming of “high” reincarnations in Tibet, based on a precedent set by the Qianlong Emperor of the Qing Dynasty. The Qianlong Emperor instituted a system of selecting the Dalai Lama and the Panchen Lama by a lottery that used a golden urn with names wrapped in clumps of barley. This method was used a few times for both positions during the 19th century, but eventually fell into disuse. In 1995, the Dalai Lama chose to proceed with the selection of the 11th reincarnation of the Panchen Lama without the use of the Golden Urn, while the Chinese government insisted that it must be used. This has led to two rival Panchen Lamas: Gyaincain Norbu as chosen by the Chinese government’s process, and Gedhun Choekyi Nyima as chosen by the Dalai Lama.

During September 2007 the Chinese government said all high monks must be approved by the government, which would include the selection of the 15th Dalai Lama after the death of Tenzin Gyatso. Since by tradition, the Panchen Lama must approve the reincarnation of the Dalai Lama, that is another possible method of control.

In response to this scenario, Tashi Wangdi, the representative of the 14th Dalai Lama, replied that the Chinese government’s selection would be meaningless. “You can’t impose an Imam, an Archbishop, saints, any religion…you can’t politically impose these things on people,” said Wangdi. “It has to be a decision of the followers of that tradition. The Chinese can use their political power: force. Again, it’s meaningless. Like their Panchen Lama. And they can’t keep their Panchen Lama in Tibet. They tried to bring him to his monastery many times but people would not see him. How can you have a religious leader like that?”

The Dalai Lama said as early as 1969 that it was for the Tibetans to decide whether the institution of the Dalai Lama “should continue or not”. He has given reference to a possible vote occurring in the future for all Tibetan Buddhists to decide whether they wish to recognize his rebirth. In response to the possibility that the PRC may attempt to choose his successor, the Dalai Lama has said he will not be reborn in a country controlled by the People’s Republic of China or any other country which is not free. According to Robert D. Kaplan, this could mean that “the next Dalai Lama might come from the Tibetan cultural belt that stretches across northern India, Nepal, and Bhutan, presumably making him even more pro-Indian and anti-Chinese”.
The Dalai Lama has enthusiastically supported the possibility that his next incarnation could be a woman. “Despite the complex historical, religious and political factors surrounding the selection of incarnate masters in the exiled Tibetan tradition, the Dalai Lama is open to change,” author Michaela Haas writes. “Why not? What’s the big deal?”

dalai-lama

Tenzin Gyatso

Tenzin Gyatso adalah Dalai Lama saat ini yang ke-14. Anak kelima dari sembilan bersaudara keluarga petani ini dinyatakan sebagai tulku Dalai Lama ke-13 pada usia tiga tahun.
  • Lahir: 6 Juli 1935 (78 tahun), Taktser
  • Penghargaan: Penghargaan Perdamaian Nobel, Penghargaan Templeton
  • Orang tua: Diki Tsering, Choekyong Tsering
  • Saudara kandung: Jetsun Pema, Thubten Jigme Norbu, Tsering Dolma
  • Album: The Essence of Happiness: A Guidebook for Living
Source: Wikipedia

DALAI LAMA QUOTES

 

Soekarno

BIOGRAPHY-NEW

7 Juli 2013

 

BUNG KARNO

Patung Lilin Bung Karno di Madame Tussauds Bangkok

Patung Lilin Bung Karno di Madame Tussauds Bangkok (Closed Up)

Ringkasan Tentang Soekarno

Soekarno

Dr. Ir. Soekarno adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945–1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Wikipedia
  • Lahir: 6 Juni 1901, Kota Blitar, Indonesia
  • Meninggal: 21 Juni 1970, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia
  • Pendidikan: Institut Teknologi Bandung
  • Anak: Megawati Soekarnoputri, Guruh Soekarnoputra, Lainnya
  • Pasangan: Heldy Djafar (m. 1966–1969), Lainnya
  • Orang tua: Soekemi Sosrodihardjo, Ida Ayu Nyoman Rai
Patung Lilin Bung Karno

Patung Lilin Bung Karno di Madame Tussauds Bangkok (Full Body)

Bung Karno 2Ir Soekarno dikenal sebagai Presiden pertama Republik Indonesia dan juga sebagai Pahlawan Proklamasi, Bung Karno merupakan salah satu Presiden yang paling berani melawan musuh-musuh yang dianggap bisa mengacaukan keutuhan Indonesia, banyak pemimpin dunia menghormatinya.  Nama Presiden Soekarno dikenal sangat besar dan harum oleh rakyat Indonesia karena jasa-jasanya. Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan wafat pada tanggal 21 Juni 1970 di Jakarta. Saat ia lahir dinamakan Koesno Sosrodihardjo. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika..

Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar. Semasa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar “Ir” pada 25 Mei 1926.

Kemudian, beliau merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Saat dipenjara, Soekarno mengandalkan hidupnya dari sang istri. Seluruh kebutuhan hidup dipasok oleh Inggit yang dibantu oleh kakak kandung Soekarno, Sukarmini atau yang lebih dikenal sebagai Ibu Wardoyo. Saat dipindahkan ke penjara Sukamiskin, pengawasan terhadap Soekarno semakin keras dan ketat.

Dia dikategorikan sebagai tahanan yang berbahaya. Bahkan untuk mengisolasi Soekarno agar tidak mendapat informasi dari luar, dia digabungkan dengan para tahanan ‘elite’. Kelompok tahanan ini sebagian besar terdiri dari orang Belanda yang terlibat korupsi, penyelewengan, atau penggelapan. Tentu saja, obrolan dengan mereka tidak nyambung dengan Bung Karno muda yang sedang bersemangat membahas perjuangan kemerdekaan. Paling banter yang dibicarakan adalah soal makanan, cuaca, dan hal-hal yang tidak penting. Beberapa bulan pertama menjadi tahanan di Sukamiskin, komunikasi Bung Karno dengan rekan-rekan seperjuangannya nyaris putus sama sekali. Tapi sebenarnya, ada berbagai cara dan akal yang dilakukan Soekarno untuk tetap mendapat informasi dari luar.

Hal itu terjadi saat pihak penjara membolehkan Soekarno menerima kiriman makanan dan telur dari luar. Telur yang merupakan barang dagangan Inggit itu selalu diperiksa ketat oleh sipir sebelum diterima Bung Karno. Seperti yang dituturkan Ibu Wardoyo yang dikutip dalam buku ‘Bung Karno Masa Muda’ terbitan Pustaka Antarkota tahun 1978, telur menjadi alat komunikasi untuk mengabarkan keadaan di luar penjara. Caranya, bila Inggit mengirim telur asin, artinya di luar ada kabar buruk yang menimpa rekan-rekan Bung Karno. Namun dia hanya bisa menduga-duga saja kabar buruk tersebut, karena Inggit tidak bisa menjelaskan secara detail.

Seiring berjalannya waktu, Soekarno dan Inggit kemudian menemukan cara yang lebih canggih untuk mengelabui Belanda. Medianya masih sama, telur. Namun, telur tersebut telah ditusuk-tusuk dengan jarum halus dan pesan lebih detail mengenai kabar buruk itu dapat dipahami Bung Karno. Satu tusukan di telur berarti semua kabar baik, dua tusukan artinya seorang teman ditangkap, dan tiga tusukan berarti ada penyergapan besar-besaran terhadap para aktivis pergerakan kemerdekaan.

Selama menjalani masa hukuman dari Desember 1929 hingga dibebaskan pada tanggal 31 Desember 1931, Soekarno tidak pernah dijenguk oleh kedua orangtuanya yang berada Blitar. Menurut Ibu Wardoyo, orang tua mereka Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai tidak sanggup melihat anak yang mereka banggakan itu berada di tempat hina yakni penjara dan dalam posisi yang tidak berdaya.

Apalagi, saat di Sukamiskin, menurut Ibu Wardoyo, kondisi Soekarno demikian kurus dan hitam. Namun Bung Karno beralasan, dia sengaja membuat kulitnya menjadi hitam dengan bekerja dan bergerak di bawah terik matahari untuk memanaskan tulang-tulangnya. Sebab di dalam sel tidak ada sinar matahari, lembab, gelap, dan dingin. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu.

Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.

Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir.Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila. Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama.

Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.

Presiden Soekarno semasa hidupnya dikenal memiliki pesona, sehingga dengan mudah menaklukkan wanita-wanita cantik yang diinginkannya. Sejarah mencatat Bung Karno sembilan kali menikah. Namun banyak yang tidak tahu wanita seperti apa yang dicintai Sang Putra Fajar itu. Untuk urusan kriteria ternyata Bung Karno bukanlah sosok pria neko-neko. Perhatian Bung Karno akan mudah tersedot jika melihat wanita sederhana yang berpakaian sopan. Lalu, bagaimana Bung Karno memandang wanita berpenampilan seksi? Pernah di satu kesempatan ketika sedang jalan berdua dengan Fatmawati, Bung Karno bercerita mengenai penilaiannya terhadap wanita. Kala itu Bung Karno benar-benar sedang jatuh hati pada Fatmawati.

“Pada suatu sore ketika kami sedang berjalan-jalan berdua, Fatmawati bertanya padaku tentang jenis perempuan yang kusukai,” ujar Soekaro dalam buku ‘Bung Karno Masa Muda’ terbitan Pustaka Antar Kota. Sesaat Bung Karno memandang sosok Fatmawati yang saat itu berpakaian sederhana dan sopan. Perasaan Bung Karno benar-benar bergejolak, dia sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. “Aku memandang kepada gadis desa ini yang berpakaian baju kurung merah dan berkerudung kuning diselubungkan dengan sopan. Kukatakan padanya, aku menyukai perempuan dengan keasliannya, bukan wanita modern yang pakai rok pendek, baju ketat dan gincu bibir yang menyilaukan,” kata Soekarno.

“Saya lebih menyukai wanita kolot yang setia menjaga suaminya dan senatiasa mengambilkan alas kakinya. Saya tidak menyukai wanita Amerika dari generasi baru, yang saya dengar menyuruh suaminya mencuci piring,” tambahnya. Mungkin saat itu Fatmawati begitu terpesona mendengar jawaban Soekarno yang lugas. Sampai pada akhirnya jodoh mempertemukan keduanya. Soekarno menikah dengan Fatmawati pada tahun 1943, dan dikarunia 5 anak yakni Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. “Saya menyukai perempuan yang merasa bahagia dengan anak banyak. Saya sangat mencintai anak-anak,” katanya.

Menurut pengakuan Ibu Fatmawati, dia dan Bung Karno tidak pernah merayakan ulang tahun perkawinan, Jangankan kawin perak atau kawin emas, ulang tahun pernikahan ke-1, ke-2 atau ke-3 saja tidak pernah. Sebabnya tak lain karena keduanya tidak pernah ingat kapan menikah. Ini bisa dimaklumi karena saat berlangsungnya pernikahan, zaman sedang dibalut perang. Saat itu Perang Dunia II sedang berkecamuk dan Jepang baru datang untuk menjajah Indonesia.

“Kami tidak pernah merayakan kawin perak atau kawin emas. Sebab kami anggap itu soal remeh, sedangkan kami selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan besar yang hebat dan dahsyat,” begitu cerita Ibu Fatmawati di buku Bung Karno Masa Muda, terbitan Pustaka Antar Kota, 1978.

Kehidupan pernikahan Bung Karno dan Fatmawati memang penuh dengan gejolak perjuangan. Dua tahun setelah keduanya menikah, Indonesia mencapai kemerdekaan. Tetapi ini belum selesai, justru saat itu perjuangan fisik mencapai puncaknya. Bung Karno pastinya terlibat dalam setiap momen-momen penting perjuangan bangsa. Pasangan ini melahirkan putra pertamanya yaitu Guntur Soekarnoputra. Guntur lahir pada saat Bung Karno sudah berusia 42 tahun. Berikutnya lahir Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. Putra-putri Bung Karno dikenal memiliki bakat kesenian tinggi. Hal itu tak aneh mengingat Bung Karno adalah sosok pengagum karya seni, sementara Ibu Fatmawati sangat pandai menari.

Sejak kecil, Soekarno sangat menyukai cerita wayang. Dia hapal banyak cerita wayang sejak kecil. Saat masih bersekolah di Surabaya, Soekarno rela begadang jika ada pertunjukan wayang semalam suntuk. Dia pun senang menggambar wayang di batu tulisnya. Saat ditahan dalam penjara Banceuy pun kisah-kisah wayanglah yang memberi kekuatan pada Soekarno. Terinspirasi dari Gatot Kaca, Soekarno yakin kebenaran akan menang, walau harus kalah dulu berkali-kali. Dia yakin suatu saat penjajah Belanda akan kalah oleh perjuangan rakyat Indonesia.

Pertunjukan wayang di dalam sel itu tidak hanya menyenangkan dan menghiburku. Dia juga menenangkan perasaan dan memberi kekuatan pada diriku. Bayangan-bayangan hitam di kepalaku menguap bagai kabut dan aku bisa tidur nyenyak dengan penegasan atas keyakinanku. Bahwa yang baik akan menang atas yang jahat,” ujar Soekarno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams “Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang diterbitkan Yayasan Bung Karno tahun 2007. Soekarno tidak hanya mencintai budaya Jawa. Dia juga mengagumi tari-tarian dari seantero negeri. Soekarno juga begitu takjub akan tarian selamat datang yang dilakukan oleh penduduk Papua. Karena kecintaan Soekarno pada seni dan budaya, Istana Negara penuh dengan aneka lukisan, patung dan benda-benda seni lainnya. Setiap pergi ke daerah, Soekarno selalu mencari sesuatu yang unik dari daerah tersebut. Dia menghargai setiap seniman, budayawan hingga penabuh gamelan. Soekarno akan meluangkan waktunya untuk berbincang-bincang soal seni dan budaya setiap pagi, di samping bicara politik.

Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Saat-saat diasingkan di Istana Bogor selepas G-30S/PKI, Soekarno membunuh waktunya dengan mengiventarisir musik-musik keroncong yang dulu populer tahun 1930an dan kemudian menghilang. Atas kerja kerasnya dan beberapa seniman keroncong, Soekarno berhasil menyelamatkan beberapa karya keroncong. Setlah itu Kesehatannya terus memburuk, yang pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah menganugerahkannya sebagai “Pahlawan Proklamasi”.

Detik Detik Kematian Sang Presiden

“Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970. Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir.”

  • Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer.
  • Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.

“Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa, dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.”

  • Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu
  • Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini.
  • “Pak, Pak, ini Ega…”
  • Senyap.

“Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi.”

  • Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar.
  • Harum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap dengan senjata.
  • Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia coma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.
  • Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah.
  • “Hatta.., kau di sini..?”
  • Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur.
  • “Ya, bagaimana keadaanmu, No ?”

“Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.”

  • Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal. “Hoe gaat het met jou…?” Bagaimana keadaanmu?
  • Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno.
  • Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.
  • Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.
  • “No…” Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang.

“Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus.”

  • Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.
  • Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka. Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.
  • Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.
  • Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi.
  • Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.

“Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.”

  • Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada.
  • Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Soekarno telah meninggal.

Isu di bunuh secara perlahan

Banyak Keyakinan orang banyak bahwa Bung Karno dibunuh secara perlahan mungkin bisa dilihat dari cara pengobatan proklamator RI ini yang segalanya diatur secara ketat dan represif oleh Presiden Soeharto. Bung Karno ketika sakit ditahan di Wisma Yasso (Yasso adalah nama saudara laki-laki Dewi Soekarno) di Jl. Gatot Subroto. Penahanan ini membuatnya amat menderita lahir dan bathin. Anak-anaknya pun tidak dapat bebas mengunjunginya.

Banyak resep tim dokternya, yang dipimpin dr. Mahar Mardjono, yang tidak dapat ditukar dengan obat. Ada tumpukan resep di sebuah sudut di tempat penahanan Bung Karno. Resep-resep untuk mengambil obat di situ tidak pernah ditukarkan dengan obat. Bung Karno memang dibiarkan sakit dan mungkin dengan begitu diharapkan oleh penguasa baru tersebut agar bisa mempercepat kematiannya.

Permintaan dari tim dokter Bung Karno untuk mendatangkan alat-alat kesehatan dari Cina pun dilarang oleh Presiden Soeharto. “Bahkan untuk sekadar menebus obat dan mengobati gigi yang sakit, harus seizin dia, ” demikian Rachmawati Soekarnoputeri pernah bercerita.

Jika anda berkunjung ke Bangkok, Thailand jangan lupa untuk berkunjung ke Museum Madame Tussauds untuk melihat Patung Soekarno yang terbuat dari lilin. Patung lilin tersebut dibuat menyerupai Presiden Soekarno. Patung tersebut dibuat sebagai salah satu bentuk penghormatan oleh Madame Tussauds kepada Presiden Soekarno sebagai salah satu Proklamator dan sebagai Bapak Bangsa Indonesia dan juga peranan Soekarno bagi dunia internasional selama menjabat sebagai Presiden Soekarno.

Kata Kata Bijak Soekarno

  1. Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu ! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, dari pada makan bestik tetapi budak. [Pidato HUT Proklamasi, 1963]
  2. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. (Pidato Hari Pahlawan 10 Nop.1961)
  3. Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.
  4. Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun.
  6. Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.
  7. ……….Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan……
  8. Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai ! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat.
  9. Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia
  10. Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya
  11. Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang.

Bung Karno (Ir. Soekarno) Presiden Indonesia Pertama bersama Presiden Amerika John F. Kennedy

Ir. Soekarno 18 Desember 2010 00-37

Politik Luar Negeri Bung Karno. Pidato Presiden Soekarno saat Berkunjung ke Amerika Serikat (bersama Presiden John F. Kenndy)

Politik Luar Negeri Bung Karno. Pidato Presiden Soekarno saat Berkunjung ke Amerika Serikat (bersama Presiden John F. Kenndy)

Buku “Bung Karno – Penjambung Lidah Rakjat Indonesia” karya Cindy Adams

Buku Bung Karno - Penjambung Lidah Rakjat Indonesia karya Cindy Adams

Judul Buku : BUNG KARNO, BAPAKKU, KAWANKU, GURUKU
OLEH : GUNTUR SOEKARNO
Di Terbitkan oleh : PT. DELA-ROHITA, JAKARTA PUSAT
Tebal : 168 hlm.
Genre: Biografi

Bung Karno-Bpaku-Kawanlu-Guruku

DSC_2785

Patung Lilin Bung Karno

Madame Tussauds Bangkok

161351_soekarnoistimewa1-small 161648_soekarnoistimewa2-small-250-167

Jakarta – Para wisatawan terutama dari Indonesia,yang berkunjung ke Madame Tussauds Bangkok bisa melihat koleksi terbaru: patung lilin Presiden Soekarno. Patung ini begitu mirip aslinya, dengan detil yang sempurna.

Megawati saat Melihat Patung Lilin Bung Karno di Madame Tussauds Bangkok

Megawati saat Melihat Patung Lilin Bung Karno di Madame Tussauds Bangkok

detikTravel secara ekslusif menerima foto Sang Proklamator, dari pihak Madame Tussauds dan Tourism Authority Thailand (TAT), Senin (24/9/2012). Ini adalah tampilan patung Bung Karno yang sudah selesai.

Penilaian detikTravel, detil patung lilin ini begitu luar biasa. Sang Proklamator berdiri dengan tegap dan gagah sesuai tinggi badan aslinya. Bung Karno tampak tersenyum penuh kharisma dengan tangan kanan memegang kepalan tangan kiri di depan perut.

Soekarno memakai bajunya yang terkenal, yaitu kemeja jas empat saku yang berwarna putih dan berkancing emas. Soekarno juga memakai celana panjang putih. Pada bajunya tersemat bintang pada bagian kerah dan tanda kenegaraan pada dada kirinya.

Di balik jas, Bung Karno memakai kemeja putih lengan panjang dan dasi hitam. Sepatu pantofel hitam tampak mengkilat menjadi alas kaki Sang Presiden.

Detil paling sempurna tentu saja ada pada bagian kepala. Gurat mukanya komplit menggambarkan Soekarno yang berusia paruh baya. Soekarno sudah memiliki kerut wajah di tepi mata, di bawah kelopak mata, dan di pipinya.

Gigi Bung Karno berderet rapi memberikan senyuman terbaiknya. Bola mata Soekarno tampak kecoklatan dengan alis yang tebal. Rambutnya yang tebal menyembul dari balik peci.

Peci ini juga merupakan bagian yang khas dari Soekarno. Soekarno selalu memakai peci hitam dalam berbagai kesempatan. Foto yang diterima detikTravel tidak menyertakan Tongkat Komando. Namun dalam display di Madame Tussauds, Soekarno mengapit Tongkat Komando-nya yang legendaris di tangan kiri.

Tidak rugi bagi para wisatawan untuk berjumpa dengan Bung Karno di Madame Tussauds. Detil patung Sang Proklamator begitu sempurna. Keren! (detik)

Berbagai Sumber