Tag Archives: UGM

Pengertian Internet of Things (IoT)

Sebelum berlanjut ke pembahasan yang lebih jauh mengenai IoT, pada artikel ini akan memberikan gambaran umum tentang bagaimana IoT mencoba untuk merevolusikan dunia. IoT telah menciptakan jaringan raksasa dimana setiap perangkat terhubung satu sama lain dan mempunyai kemampuan untuk saling berkomunikasi satu sama lain. Hal tersebut mengarahkan sistem automation menuju ke level selanjutnya dimana setiap perangkat dapat berkomunikasi satu sama lain dan menentukan keputusan sendiri tanpa intervensi manusia. Secara tidak sadar, IoT telah menjadi aspek penting dalam kehidupan sehari-hari manusia.

Sejarah singkat IoT

Pertama dimulai dengan memperkenalkan seseorang yang telah menciptakan istilah “Internet of Thing”. Istilah “Internet of Thing” (IoT) telah diperkenalkan oleh Kevin Ashton pada presentasi kepada Proctor & Gamble di tahun 1999. Kevin Ashton merupakan co-founder dari Auto-ID Lab MIT. Kevin Ashton mempiornisrkan RFID (digunakan pada bar code detector) untuk supply-chain management domain. Dia juga telah memulai Zensi, sebuah perusahaan yang membuat energi untuk teknologi penginderaan dan monitoring.

Berikut adalah kutipan dari Kevin Ashton yang di tulis pada tahun 2009 untuk jurnal RFID yang akan membantu dalam memahami tentang inti dari IoT:

“If we had computers that knew everything there was to know about things—using data they gathered without any help from us—we would be able to track and count everything, and greatly reduce waste, loss and cost. We would know when things needed replacing, repairing or recalling, and whether they were fresh or past their best.”

“We need to empower computers with their own means of gathering information, so they can see, hear and smell the world for themselves, in all its random glory.”

Dari kutipan diatas dapat memberikan ide tentang ideologi yang melatarbelakangi dari pengembangan IoT.

Apa itu IoT?

“Thing” pada konteks IoT dapat bberupa perangkat apa saja dengan sendor internal apa pun yang memiliki kemampuan untuk mengumpulkan dan mentransfer data melalui jaringan tanpa intervensi manual. Teknologi tertanam dalam objek membantu perangkat IoT untuk berinteraksi dengan keadaan internal dan lingkungan eksternal, yang pada gilirannya membantu dalam proses pengambilan keputusan.

Singkatnya, IoT adalah konsep yang menghubungkan semua perangkat ke internet dan memungkinkan perangkat IoT berkomunikasi satu sama lain melalui internet. IoT adalah jaringan raksasa dari perangkat yang tehubung – semua yang mengumpulkan dan membagikan data tentang bagaimana suatu oerangkat tersebut digunakan dan lingkungan dimana perangkat tersebut di operasikan.

Dengan melakukan itu, tiap perangkat akan belajar dari pengalaman yang didapat dari perangkat lain, layaknya manusia. IoT mencoba untuk memperluas interpendensi pada manusia, contohnya interaksi, kontribusi, dan kolaborasi pada sesuatu.

Pengembang aplikasi IoT akan mengirimkan sebuah aplikasi dengan dokumen yang berisi standar, logika, kesalahan, & pengecualian yang ditangani oleh pengembang itu sendiri kepada penguji. Sekali lagi, jika terdapat masalah pada aplikasi, penguji akan berkomunikasi kembali dengan pengembang aplikasi. Diperlukan beberapa iterasi & dengan cara seperti inilah suatu aplikasi pintar dapat dibuat.

Demikian pula, sensor suhu ruangan mengumpulkan data dan mengirimkannya melalui jaringan, yang kemudian digunakan oleh beberapa sensor perangkat untuk menyesuaikan suhu suatu ruangan. Misalnya, sensor pada lemari es dapat mengumpulkan data terkait suhu luar dan menyesuaikan suhu lemari es. Demikian pula, AC (Air Conditioner) juga dapat menyesuaikan suhunya. Hal ini adalah bagaimana suatu perangkat dapat berinteraksi, berkontribusi & berkolaborasi.

Manfaat dari IoT

Karena IoT memungkinkan perangkat dikontrol dari jarak jauh dengan internet, maka hal tersebut menciptakan peluang untuk langsung menghubungkan & mengintegrasikan dunia fisik ke sistem berbasis komputer menggunakan sensor dan internet. Interkoneksi beberapa perangkat tersemat (embedded deivices) ini akan menghasilkan otomatisasi di hampir semua bidang dan juga memungkinkan aplikasi tingkat lanjut. Hal ini menghasilkan peningkatan akurasi, efisiensi dan manfaat dalam segi ekonomi dengan intervensi / campur tangan manusia yang berkurang. Hal tersebut mencakup teknologi seperti jaringan cerdas, rumah pintar, transportasi cerdas dan kota pintar. Manfaat utama IoT adalah:

  • Improved Customer Engagement – IoT dapat meningkatkan pengalaman pengguna dengan mengotomatisasikan segala tindakan. Untuk contohnya, masalah apa pun di mobil akan terdeksi secara otomatis oleh sensor. Pengemudi, serta pabrikan, akan diberitahu tentang hal tersebut. Hingga pada waktu pengemudi akan mencapai masa servis dan akan melakukan servis, pabrikan akan dapat memastikan bahwa bagian yang kemungkinan rusak telah tersedia di bengkel.
  • Technical Optimization – IoT telah membantu banyak dalam meningkatkan kegunaan teknologi dan membuatnya menjadi lebih baik. Pabrikan dapat mendapatkan data dari sensor mobil yang berbeda dan menganalisanya untuk meningkatkan desain dan membuatnya menjadi lebih efisien.
  • Reduce Waste – Wawasan kita saat ini masih bisa terbilang dangkal, namun IoT menyediakan informasi rela-time yang mengarah ke pengambilan keputusan yang efektif dan pengolaan sumber daya. Sebbagai contohnya, jika pabrikan menemukan kesalahan pada banyak mesin, pabrikan tersebut dapat melacak pabrik pembuatan mesin tersebut dan dapat memperbaiki masalah dengan sabuk manufaktur.

Saat ini, kita telah dikelilingi oleh banyak perangkat yang diaktifkan oleh IoT yang terus memancarkan data dan berkomunikasi melalui beberapa perangkat. Selanjutnya, akan dibahas mengenai perangkat keras yang diperlukan untuk membangun IoT.

Perangkat Keras IoT

Hal pertama yang dibutuhkan untuk membangun perangkat IoT adalah sensor yang akan merasakan keadaan di lingkungan tertentu, selanjutnya dibutuhkan remote dashboard untuk memonitoring output dari sensor dan menampilkannya dalam antarmuka dengan bentuk yang lebih jelas dan mudah dipahami. Terakhir, akan dibutuhkan sebuah perangkat dengan kemampuan untuk serving dan routing. Tugas utama dari sistem adalah mendeteksi kondisi spesifik dan mengambil tindakan yang sesuai. Satu hal yang perlu diingat adalah mengamnkan komunikasi antara perangkat dan dashboard.

Beberapa sensor umum yang berada di lingkungan kita adalah accelerometer, sensor suhu, magnetometer, proximity sensor, gyroscope, image sensor, acoustic sensor, light sensor, pressure sensor, gas RFID sensor, humidity sensor dan micro-flow sensor.

Saat ini kita juga memiliki banyak perangkat yang dapat dikendalikan seperti smartwatches (jam tangan cerdas), sepatu dan kacamata 3D. Hal ttersebut adalah contoh terbaik dari smart solution (solusi cerdas). Kacamata 3D menyesuaikan kecerahan dan kontras televisi sesuai dengan mata kita dan jam tangan cerdasakan melacak aktivitas harian dan kebugaran tubuh pengguna.

Namun perangkat yang paling penting yang sangat berkontribusi pada IoT adalah telepon seluler / smartphone. Aplikasi seluler sangat berkontribusi dalam merevolusi dunia teknologi. Ponsel sudah terbungkus dengan aplikasi dan sensor yang memberikan banyak informasi tentang penggunanya. Aplikasi ponsel tersebut memiliki informasi Geo-lokasi, dapat merasakan dan melacak kondisi cahaya, orientasi perangkat dan lebih banyak informasi. Aplikasi tersebut juga dilengkapi dengan beberapa opsi konektivitas seperti Wi-Fi, Bluetooth, dan data seluler yang membantu suatu perangkat berkomunikasi dengan perangkat lainnya. Jadi, karena kualitas standar ponsel ini, yang merupakan inti dari ekosistem IoT. Hari ini, Smartphone dapat berinteraksi dengan smartwatch dan fitness band untuk lebih memudahkan dan meningkatkan pengalaman pengguna.

IoT menggunakan banyak teknologi dan protokol untuk berkomunikasi dengan perangkat berbasis pada kebutuhan. Mayoritas teknologi dan protokol adalah Bluetooth, wireless, NFC, RFID, radio protocols, dan WiFi-Direct.

Aplikasi IoT terus perkembang di dunia industri dan pemasaran. IoT memiliki banyak perluasan di berbagai bidang industri. Hal tersebut menjangkau semua kelompok dari pengguna, mulai dari yang mencoba untuk mereduksi dan mengkonversikan energi pada rumah mereka hingga organisasi besar yang ingin meningkatkan operasi bisnis mereka. IoT tidak hanya berguna dalam mengoptimalkan aplikasi penting di banyak organisasi, tapi juga telah mendorong konsep otomatisasi tingkat lanjut yang telah kita bayangkan sekitar satu dekade sebelumnya.

IoT dalam berbagai bidang/domain

Aplikasi Energi : Tingkat energi telah meningkat menjadi naluri yang hebat. Individu dan organisasi, keduanya mencari cara untuk mengurangi dan mengendalikan konsumsi energi. IoT menyediakan cara untuk tidak hanya memonitor penggunaan energi pada tingkat alat industri tetapi juga di tingkat rumah, tingkat jaringan atau bisa berada di tingkat distribusi. Smart Meter & Smart Grid digunakan untuk memonitor konsumsi energi. Ia juga mendeteksi ancaman terhadap kinerja dan stabilitas sistem, yang melindungi peralatan dari downtime dan kerusakan.

Aplikasi Kesehatan : Jam tangan cerdas dan perangkat fitness telah mengubah frekuensi pemantauan kesehatan. Seseorang dapat memantau kesehatan mereka sendiri secara berkala. Tidak hanya ini, sekarang jika seorang pasien datang ke rumah sakit dengan ambulans, pada saat dia mencapai rumah sakit, laporan kesehatannya didiagnosis oleh dokter dan rumah sakit segera memulai perawatan. Data yang dikumpulkan dari beberapa aplikasi perawatan kesehatan sekarang dikumpulkan dan digunakan untuk menganalisa berbagai penyakit dan menemukan metode yang tepat untuk menyembuhkannya.

Edukasi: IoT memberikan bantuan edukasi yang membantu dalam memenuhi kesenjangan dalam bidang pendidikan. Tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan tetapi juga mengoptimalkan biaya dan meningkatkan manajemen dengan mempertimbangkan respon dan kinerja siswa.

Kepemerintahan: Pemerintah berusaha membangun kota pintar (smart city) menggunakan solusi IoT. IoT meningkatkan sistem dan layanan angkatan bersenjata. IoT memberikan keamanan yang lebih baik di seluruh perbatasan melalui perangkat yang murah & berkinerja tinggi. IoT membantu instansi pemerintah untuk memonitor data secara real-time dan meningkatkan layanan mereka seperti perawatan kesehatan, transportasi, pendidikan, dll.

Polusi Udara dan Air: Melalui berbagai sensor, kita dapat mendeteksi polusi di udara dan air dengan sering sampling. Hal ini membantu dalam mencegah kontaminasi substansial dan bencana yang terkait. IoT memungkinkan operasi untuk meminimalkan intervensi manusia dalam analisis dan pemantauan sistem pertanian. Sistem secara otomatis mendeteksi perubahan pada tanaman, tanah, lingkungan, dan lainnya.

Transportasi: IoT telah mengubah sektor transportasi. Sekarang, dunia telah memiliki mobil self-driving dengan menggunakan beberapa sensor, lampu lalu lintas yang dapat memantau lalu lintas dan beralih secara otomatis, bantuan parkir, memberi kita lokasi tempat parkir gratis dll. Juga, berbagai sensor di kendaraan pribadi menunjukkan informasi tentang status kendaraan saat ini, sehingga pengemudi tidak menghadapi masalah apa pun saat mengemudi.

Pemasarkan Produk : Menggunakan IoT, suatu organisasi dapat menganalisis dan menanggapi preferensi pelanggan dengan lebih baik dengan mengirimkan konten dan solusi yang relevan. Hal ini membantu dalam meningkatkan strategi bisnis secara real-time.

Aplikasi IoT

Berikut merupakan beberapa contoh aplikasi dari IoT yang telah diterapkan pada kehidupan sehari-hari :

  • Nest Smart Thermostat : Salah teknologi Internet of things Indonesia yang sudah banyak dicicipi oleh masyarakat indonesia adalah Nest Smart Thermostat, termostat cerdas yang terhubung ke internet. Nest belajar rutinitas keluarga Anda dan secara otomatis akan menyesuaikan suhu berdasarkan ketika Anda di rumah atau jauh, hidup atau mati, panas atau dingin, untuk membuat rumah Anda lebih efisien dan membantu Anda menghemat tagihan. Aplikasi seluler memungkinkan Anda untuk mengedit jadwal, mengubah suhu ketika Anda jauh dari rumah, dan bahkan menerima peringatan ketika terlihat seperti sesuatu yang tidak beres dengan pemanasan atau sistem pendingin.
  • WeMo Switch Smart Plug : Salah satu perangkat yang paling berguna dalam kisaran Belkin untuk WEMO terhubung perangkat rumah di Switch, plug cerdas. Ini dihubungkan ke stopkontak biasa, menerima kabel daya dari perangkat apapun, dan dapat digunakan untuk menghidupkan dan mematikan pada jadwal yang ditetapkan atau ketika anda menekan tombol pada smartphone Anda. Model lain plug cerdas, saklar Insight, juga memantau berapa banyak energi perangkat Anda gunakan, membantu Anda membuat rumah Anda lebih hemat energi. Anda dapat melihat ketika colokan yang, seberapa banyak daya yang mereka gunakan, dan mengatur jadwal untuk operasi yang tepat dari aplikasi mobile.
  • Philips Hue Smart Bulbs : Sistem pencahayaan Philips Hue adalah yang paling populer dari lampu pintar yang saat ini tersedia. Pertama, warna-lampu Philips Hue dapat berubah warna sesuai yang Anda pilih; mereka bahkan akan cocok dengan nada dalam foto yang Anda upload melalui aplikasi. Mereka juga dapat dihidupkan dan dimatikan pada jadwal atau dari smartphone Anda, dan lampu Hue bahkan dapat disinkronkan dengan musik Anda untuk suara-dan-cahaya partai mengagumkan. perusahaan lain mulai melepaskan alat pintar juga, membuat ini lebih niche kompetitif; LIFX, Lumen, ilumi, dan Belkin semua memiliki versi mereka sendiri dari teknologi ini. Seperti kebanyakan perangkat rumah pintar IOT lainnya, ini dapat membantu Anda menyimpan uang pada energi serta memiliki banyak menyenangkan bermain-main dengan lampu Anda.
  • August Smart Lock : Dengan kunci pintar ini, Anda tidak perlu kunci lagi untuk membuka pintu ketika Anda tiba di rumah. Anda dapat memberikan kunci tamu untuk teman-teman atau siapapun yang Anda mau, dan anda bisa mencabut kunci tersebut ketika Anda tidak lagi ingin memberikan orang akses ke rumah Anda. Keypad opsional berarti Anda dapat mengatur kode untuk membuka pintu Anda jika Anda tidak sedang membawa ponsel . Anda bahkan dapat melihat log aktivitas dan memberikan akses dari smartphone Anda dari jarak jauh. sistem keamanan pintar menjadi lebih populer dengan meningkatnya pilihan, dan kunci pintar seperti ini adalah tempat yang bagus untuk memulai.
  • Canary Smart Security : Di masa lalu, detektor gerakan adalah tentang perangkat yang paling canggih yang dapat Anda gunakan untuk mengamankan rumah Anda terhadap penyusup-tapi monitor rumah saat ini jauh lebih maju. Sebagai contoh, Canary menggabungkan video, audio, deteksi gerak, night vision, sirene, dan kualitas udara, suhu, dan sensor kelembaban dalam satu perangkat yang dapat Anda kontrol dari ponsel Anda. Piper adalah sistem serupa yang berfungsi sebagai sistem keamanan dan perangkat monitoring rumah, dan juga dapat berfungsi sebagai pembicara, membiarkan Anda berbicara dengan siapa pun di rumah Anda bahkan jika Anda pergi. Sistem ini mendorong batas bagaimana mengendalikan Anda bisa, terlepas dari mana Anda berada dalam kaitannya dengan rumah Anda.

Source: otomasi sv ugm ac id | 2 June 2018 Maruf Shidiq

International Mathematics Competition Bulgaria 2018: Indonesia Raih 2 Medali dan 1 Penghargaan

Mahasiswa UGM Berprestasi di Olimpiade Matematika Internasional (Foto: UGM)

Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta berhasil menorehkan prestasi di kancah International yaitu International Mathematics Competition (IMC) 2018 yang dihelat di Kota Blagoevard, Bulgaria pada 22-28 Juli 2018 dengan sukses membawa pulang dua medali perunggu dan 1 penghargaan honorable mention.

Mahasiswa tersebut di antaranya adalah Alzimna Badril Uman dan Adryan Wiradinata yang menyumbangkan medali perak. Lalu, Resita Sri Wahyuni yang berhasil meraih penghargaan honorable mention. Ketiga mahasiswa UGM ini terpilih menjadi perwakilan Indonesia di IMC 2018 bersama enam mahasiswa dari perguruan tinggi Indonesia lainnya.

Alzimna mengatakan, keikutsertaannya dalam IMC ini merupakan yang pertama kali. Dia pun mengaku bangga ketika bisa membawa pulang medali dari kompetisi dunia ini.

“Bangga bisa meraih predikat third prize dan mengharumkan nama UGM serta Indonesia di tingkat dunia,” jelasnya, dalam website UGM, Jumat (10/8).

Kendati demikian, perasaan kecewa sempat menghinggapi Alzimna. Sebab, perolehan nilai yang didapatnya hanya terpaut tiga poin untuk menyabet predikat juara dua.

“Sempat ada rasa kecewa karena tidak bisa memenuhi target saya untuk meraih second prize karena hanya mendapat 30 poin dari 33 poin cut off second prize. Namun begitu, saya tetap bersyukur sudah meraih predikat ini serta mendapat banyak sekali ilmu dan pengalaman baru,” urainya.

Keberhasilan yang diraih Alzimna dan dua rekannya tidak lepas dari usaha dan kerja keras mereka dalam berlatih dan belajar menghadapi IMC. Selain itu, juga dukungan dari dosen pembina UGM dan alumni IMC UGM yang telah menorehkan prestasi dalam kompetisi tahun-tahun sebelumnya serta pembinaan intensif dari Kemenristekdikti.

“Pencapaian ini merupakan hasil dari kerja keras dan dukungan semua pihak. Semoga dalam IMC mendatang Indonesia bisa semakin berjaya,” pungkas Alzimma.

Source: okezone | Vanni Firdaus Yuliandi 10 Agustus 2018

Aldo Meyolla Geraldino

Aldo Meyolla Geraldino Mahasiswa Termuda UGM Tahun 2015 – Jurusan Fakultas Kedokteran pada Usia 14 Tahun 


aldo-meyolla

Perintah itu melengking lewat pengeras suara. Mengegas seorang remaja tanggung, yang duduk berjejalan dengan ribuan orang. Bercaping rupa-rupa warna, anak-anak muda itu memenuhi Graha Sabha Pramana, Universitas Gajah Mada (UGM). Ya, para mahasiswa baru itu tengah mengikuti acara Ospek, tradisi tahunan yang umumnya digelar di berbagai kampus di seluruh Indonesia.

Pria berpostur tinggi yang memberi perintah itu, berdiri di tengah lapangan. Dia terlihat gagah. Berbaur dengan ribuan mahasiswa baru. Berpanas-panasan, memakai celana jeans dipadu dengan kemeja putih polos. Dan ini sungguh tak biasa, lelaki itu adalah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah yang karir politiknya dirakit lewat PDI Perjuangan.

Jika kemudian dia hadir di situ, dan memberi perintah pula, itu bukan karena Ganjar menjadi orang nomor satu di Jawa Tengah, tapi karena dia adalah Ketua Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (Kagama), yang lulusannya banyak yang menjadi petinggi negeri ini, sebagai misal, Presiden Indonesia Joko Widodo dan begitu banyak menteri, juga ilmuwan.

Dan pemuda tanggung yang digegas sang gubernur itu berlari maju. Dia berperawakan ceking, rambut klimis. Kacamata minus melindungi dua matanya. Sedikit tergopoh-gopoh. Dan sekilas tak ada yang istimewa dari penampilannya, sehingga orang lain tak tahu mengapa dia yang meraih kehormatan itu.

Jaket hijau lumut, ciri khas kampus itu, yang membalut tubuhnya terlihat kedodoran. Tapi bersanding dengan sang gubernur dia berusaha gagah berdiri. Tak canggung. Ribuan mata yang mematut ke arahnya juga tak membuat kikuk.

Pada Selasa, 18 Agustus 2015 iu, Aldo Meyolla Geraldino, begitu nama anak muda itu, dinobatkan sebagai mahasiswa termuda. Dari 9.536 mahasiswa baru tahun akademik 2015-2016 di kampus itu. Dan tampangnya memang terlihat seperti remaja tanggung. Usianya 14 tahun, 7 bulan, 29 hari. Pada usia yang terbilang belia untuk kuliah itu, dia lulus bersaing dengan ribuan orang, masuk Fakultas Kedokteran.

Ketika ribuan anak-anak seusianya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Aldo sudah menyandang status mahasiswa. Dia tidak hanya cerdas, tapi juga menyimpan mental yang prima. Tak kikuk ketika menjawab sang gubernur, meski pertanyaannya bersifat “ dilematis.”

  • Do, kalau kamu melihat tetangga kanan kirimu, yang untuk urusan makan saja susah dan jatuh sakit tapi tidak ada yang menolong, apa yang kamu lakukan? tanya Ganjar.
  • Aldo menjawab dengan tenang bahwa pertama-tama dia akan membeli makanan, Kemudian saya suruh makan dan baru diobati.
  • Ganjar kemudian bertanya lagi,  Disuruh bayar?
  • Enggak usah, cepat Aldo menjawab.

Ganjar lalu memberi sanjungan bahwa Aldo adalah dokter masa depan yang dimimpikan Indonesia. Memberi selamat, memberi semangat. “ Aldo keren,” puji Ganjar, yang disambut tepuk tangan membahana ribuan tangan. Dan semenjak hari itulah nama Aldo menjadi sohor. Para netizen ramai menyanjung di media sosial. Dikagumi banyak orang. Media massa juga antri mewawancara, mengali kisah hidup hingga tips belajar. Dia kemudian disemat sebagai bocah jenius Indonesia.

Mencetak anak jenius seperti Aldo sudah pastilah susah. Anak-anak yang mengalahkan usianya itu memang langka. Bahkan di negeri maju yang gizi dan kurikulumnya paling manjur sekalipun. Jumlahnya sedikit.

Lihatlah data Mensa Indonesia, sebuah perkumpulan untuk orang-orang yang ber-IQ tinggi berikut ini. Dari setidaknya 250 juta penduduk bumi pertiwi ini, hanya sekitar 2 persen yang bisa disebut jenius. Dan mirisnya lagi, sebagian dari orang jenius itu memilih berkiprah di luar negeri ketimbang di tanah air.

Secara umum, di seluruh dunia, jumlah rasio orang jenius yang biasa-biasa saja terpaut jauh. Psikolog dari Ohio State University, Joanne Ruthsatz, bahkan ragu menyebut jumlahnya. ” Saya hanya bisa mengatakan, anak ajaib sesungguhnya sangat langka, mungkin hanya ada 1 dari 5 juta atau 1 dari 10 juta orang di dunia,” katanya mengutip popsci.com.

Berapa jumlah pasti orang jenius di seluruh dunia, belum ada juga data pastinya. Hanya perkiraan kasar. Cuma sekitar 2 hingga 5 persen dari total penduduk dunia. Nilai IQ memang masih menjadi standar kejeniusan seseorang. National Association for Gifted Children menyebut anak dengan IQ rentang 130-144, layak disebut jenius moderat. Sementara IQ 145-159 disebut sangat jenius.

Dari dua tingkatan itu, posisi terhormat diberikan bagi anak ber-IQ lebih dari 180. Anak dengan IQ setinggi ini bisa dipastikan sebagai anak superjenius.

Menilai kejeniusan memang menjadi relatif. Mensa internasional sendiri hanya menyebut tanda-tanda seorang anak layak disebut jenius. Memiliki kemampuan mengingat tak biasa, membaca di usia lebih cepat, punya hobi atau ketertarikan unik, serta melek dengan kejadian di dunia.

Tak hanya itu, anak jenius cenderung menunjukan tanda-tanda sering bertanya, punya selera humor, suka musik, senang berkuasa, dan seringkali menambahkan aturan sendiri dalam sebuah permainan. Aldo, remaja tanggung calon dokter masa depan cukup layak disebut jenius. Pada usia 14 tahun dia menjadi mahasiswa. Fakultas kedokteran. Tempat yang diincar puluhan ribu siswa di seluruh negeri.

Agung Bakhtiyar

Agung Bakhtiyar, Anak Tukang Becak yang Sukses Jadi Dokter UGM


Sunday, July 10, 2011

Agung Bakhtiyar Tekan Biaya Kuliah dengan Pinjam Buku ke Senior

Meski hidup dengan kondisi ekonomi yang serba kekurangan, Agung Bakhtiyar mampu mewujudkan impiannya. Anak tukang becak itu kemarin (8/7) diwisuda menjadi dokter dari Fakultas Kedokteran UGM dengan IPK 3,51.

Rumah bercat hijau dan berdinding gedhek itu begitu sederhana. Di salah satu sisinya terbuka sebuah jendela kecil. Seorang pria tua dengan ramah menyapa dan mempersilakan Jogja Raya masuk ke rumah di

Terban GK/V No 719,
Kelurahan Terban,
Kecamatan Gondokusuman.
Yogyakarta 55224

Kotabaru,Gondokusumanminiaturjogja_becak Lukis_T190rb_D220rb

Di ruang tamu seluas 3×4 meter tersebut, ada beberapa perabotan yang ditaruh sekenanya. Meja kayu bundar yang tak begitu besar diletakkan di sudut ruangan. Sebuah pesawat televisi diletakkan di atas meja plastik berwarna hijau. Menghadap ke pintu masuk, ada tiga kursi lainnya. Di seberangnya, sebuah kursi bambu difungsikan sebagai kursi untuk menerima tamu. Sepiring makanan tradisional seperti jadah, getas, dan sesisir pisang tersaji di atas meja bertaplak warna merah. Satu-satunya cahaya di ruangan itu berasal dari jendela kecil yang terbuka lebar tadi.

Dari balik tirai, tuan rumah Agung Bakhtiyar muncul dengan mengenakan baju batik warna terang dipadu celana kain hitam. Memakai kacamata, wajahnya terlihat bersih terawat dengan janggut tipis di dagu. Tidak ada yang mengira apabila dia anak tukang becak yang biasa mangkal di depan Hotel Santika Jogja.

Awalnya, Agung terlihat kikuk saat menceritakan keberhasilannya menjadi dokter. Tangannya terlihat menggenggam buku rekening BNI. ’’Waduh… mau cerita apa ya,” katanya malu-malu, Jumat (8/7).

Agung resmi bergelar dokter setelah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran UGM selama lima tahun tujuh bulan. Sebelum diwisuda kemarin, dia menjalani profesi dokter muda di Klaten serta menempuh pendidikan dokter dengan dengan nilai IPK (indeks prestasi kumulatif) 3,51. Saat diwisuda, dia didampingi kedua orang tua dan salah seorang kakaknya. Usai wisuda, Agung dan keluarga langsung pulang. Tidak ada acara perayaan untuk menandai keberhasilan pemuda 24 tahun itu menyelesaikan pendidikan dokternya.

’’Ibu tidak mau ada perayaan untuk syukuran kuliah. Rencananya ingin mengadakan aqiqah saya dan dua kakak laki-laki saya, kalau ada uang lebih,” tuturnya.

Agung Bakhtiyar anak tukang becak diwisuda dokter 2Agung mengaku sebenarnya dia tidak ingin melanjutkan kuliah karena melihat kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Ayahnya, Suyatno, hanya seorang tukang becak yang penghasilannya tidak tetap dan hanya cukup untuk makan sehari-hari. Sedangkan ibunya, Saniya, saat itu (2005)  berjualan botol bekas.

Meski begitu, orang tua Agung  menginginkan bungsu dari empat bersaudara itu melanjutkan kuliah hingga lulus, tidak seperti tiga kakaknya yang hanya lulus SMA. ’’Ibu saya sangat kepingin saya kuliah,” katanya

Awalnya, Agung menjajal ikut seleksi ujian masuk di Fakultas Pertanian UGM namun gagal. Meski begitu, alumnus SMAN 6 Jogjakarta itu tidak putus asa. Dia lalu ikut seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB). Kali ini dia memilih Fakultas Kedokteran sebagai pilihan pertama dan ilmu hama Fakultas Pertanian di pilihan kedua.

’’Saya tidak tahu kenapa memilih kedokteran saat itu. Mungkin karena saya gampang tersentuh kalau melihat pasien,” katanya.

Saat berbincang, gaya bertutur lelaki kelahiran Jogja 30 Juni 1987 itu terkesan slengekan meski beberapa kali tatapannya menerawang jauh. Perbincangan sempat terhenti saat ibu Agung datang membawa nampan berisi dua gelas teh hangat. Tidak lama kemudian, dia pergi meninggalkan rumah. ’’Ibu kembali ke Pasar Terban, jualan rongsokan,” kata Agung.

Tak disangka, lanjut cerita Agung, dia diterima di Fakultas Kedokteran UGM. Dia sempat kebingungan mengetahui diterima di fakultas bergengsi itu. Dia pun takut memberitahukan kabar menggembirakan itu kepada orang tuanya. Salah satu yang menjadi bebannya saat itu adalah biaya pendidikan kedokteran yang sangat besar.

Sebelumnya, Agung juga diterima di D3 Komputer dan Sistem Informasi (Komsi) UGM. Mau tidak mau akhirnya dia memberi tahu orang tuanya sekaligus minta pertimbangan untuk memilih fakultas yang akan dimasuki. Tapi, orang tua menyerahkan sepenuhnya keputusan itu kepada Agung. Agung pun akhirnya memilih kedokteran setelah mendapat masukan teman-temannya.

Untuk menunjang kuliah, Agung sempat ’’nodong’’ orang tuanya untuk dibelikan komputer dan ternyata dikabulkan. ’’Saya sungguh terharu dengan orang tua saya yang berkomitmen mendukung saya kuliah,” katanya.

Ayah Agung Bakhtiyar
Ayah Agung Bakhtiyar

Hambatan terus menghadang Agung ketika menjalani perkuliahan. Yang paling tampak mengenai gaya hidup mahasiswa Fakultas Kedokteran yang kebanyakan dari kalangan the have dan glamor. Mulai gaya berpakaian, kendaraan, hingga peralatan pendukung perkuliahan lainnya. Orang tuanya sempat khawatir dengan kondisi psikologis Agung menghadapi teman-temannya yang serba berkecukupan. ’’Tapi saya meyakinkan orang tua untuk tidak perlu khawatir,” tuturnya.

Soal pelajaran di kampus, setahun pertama Agung sempat tidak betah gara-gara dia lebih senang ilmu eksak seperti fisika, matematika, dan kimia. Sedangkan di kedokteran, nilai-nilai humanisme dikedepankan. Tetapi, perubahan terjadi ketika dia sudah mulai bersentuhan dengan pasien di rumah sakit. ’’Dari sana tumbuh kecintaan saya untuk kuliah di kedokteran hingga lulus,” tuturnya.

Alumnus SMPN 5 Jogja itu berupaya untuk bisa menekan ’’biaya kuliah’’ hingga seminim mungkin. Beberapa cara yang dilakukan dengan memfoto-copy materi kuliah, men-download referensi di internet atau meminjam buku-buku ke senior. Dalam pergaulan Agung juga tidak minder bila temannya mengajak dia untuk nongkrong di tempat-tempat gaul.

’’Teman-teman saya baik-baik semua. Mereka tahu dengan kondisi saya,’’ ujar Agung yang mulai mendapatkan beasiswa dari UGM pada tahun ketiga kuliahnya.

Salah satu yang memudahkan dia berbaur dengan teman-teman kampus adalah sistem pendidikan di Fakultas Kedokteran yang membagi mahasiswa dalam kelompok-kelompok  belajar. Dari sana, teman-temannya mengetahui bahwa Agung berasal dari kalangan kurang mampu. Mereka juga tidak memandang sebelah mata atas kondisi Agung itu. ’’Mereka paham dan bahkan saya sering meminjam laptop teman-teman ke rumah,” katanya terkekeh.

Selama kuliah, Agung mengaku sempat ikut membantu ibunya berjualan barang bekas di Pasar Terban. Tetapi, seiring dengan makin padatnya jadwal kuliah dan praktik, maka kegiatan di pasar itu lama-kelamaan tak bisa dia penuhi.

Kini, setelah diwisuda menjadi dokter, dia mengaku lega sekaligus tertantang untuk bisa mengentaskan keluarganya dari kemiskinan. ’’Saya harus bisa membantu ibu agar usaha jualan barang rongsok itu berkembang dan bisa memperbaiki ekonomi keluarga,” katanya.

Sudah dua setengah bulan ini Agung bekerja di klinik sebuah perusahaan di wilayah Tangerang. Kemarin dia harus pulang ke Jogja untuk mengikuti upacara pelantikannya sebagai dokter, sekaligus  mengurus KTP-nya yang hilang saat naik angkot.

Ditanya soal rencana masa depan, Agung mengaku ingin meneruskan pendidikan dokter spesialis. Namun, dia sadar dengan kondisi ekonomi kedua orang tuanya sehingga tidak terlalu berharap bisa meneruskan pendidikan dalam waktu dekat.

’’Mungkin saya menabung dulu karena jadi dokter spesialis kan butuh dana ratusan juta,” pungkasnya.

Riani Helmi

Riani Dokter Termuda di Indonesia


664xauto-kisah-hijaber-jadi-dokter-termuda-di-indonesia--140613fRiana mulai masuk Sekolah Dasar (SD) pada usia 4 tahun. Bukan lantaran paksaan dari kedua orangtua. Namun, kecerdasan Riana memang sudah tampak setahun sebelumnya.

Kisah mahasiswa lulusan terbaik Universitas Negeri Semarang (Unnes) 2014, Riana menjadi sumber inspirasi bagi semua orang, termasuk hijabers. Ia membuktikan kepada kita, kondisi keluarga yang berkekurangan tak jadi kendala jika diiringi tekad kuat memperoleh prestasi cemerlang.

Kisah lain yang layak jadi panutan adalah seorang remaja putri berusia 19 tahun 9 bulan yang berhasil lulus sebagai dokter termuda di Indonesia. Dia adalah Riana Helmi, gadis berhijab kelahiran Banda Aceh 22 Maret 1991 yang menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran (FK), Universitas Gadjah Mada (UGM).

Putri pasangan Helmi dan Rofi’ah ini juga tercatat sebagai sarjana termuda di Indonesia dengan predikat cumlaude dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,67.

Riana sebelumnya pernah tercatat dalam rekor MURI saat menjadi dokter muda pada usia 17 tahun 9 bulan pada Mei 2009. Kemudian ia menyelesaikan kuliahnya hingga menjadi dokter penuh di usia 19 tahun 9 bulan.

Keberhasilan Riana tentu melalui proses tidak mudah. Riana Helmi hidup di keluarga sederhana. Ayahnya seorang polisi, membuat anak pertama dari tiga bersaudara ini beserta keluarganya terpaksa berpindah-pindah domisili. Mulai Aceh, Karawang dan berakhir di Sukabumi, tergantung tugas yang diemban sang ayah.

Di usia 3 tahun, Riana sudah pandai membaca. “Beliau sendiri yang mengajari saya membaca, menulis, berhitung, juga membaca Alquran,” kenang Riana.

Sang ayah juga berperan aktif. Riana menilai ayahnya sebagai orangtua yang sangat peduli terhadap perkembangan pendidikan anaknya. Ayahnya selalu mengajarkan tentang kegigihan, sifat bersunguh-sungguh dan kerja keras.

Riana mulai masuk Sekolah Dasar (SD) pada usia 4 tahun. Bukan lantaran paksaan dari kedua orangtua. Namun, kecerdasan Riana memang sudah tampak setahun sebelumnya.

Riana sejak kecil memang jarang bermain layaknya anak seusianya. Ia menghabiskan waktunya dengan banyak belajar dan ia sangat menikmatinya.

Riana menyelesaikan SD selama 6 tahun dengan prestasi sangat memuaskan. Setelah itu ia mengikuti program percepatan (akselerasi) di SMP dan SMA melalui beberapa tes IQ akademik.

Hasilnya, Riana selalu lolos uji, sehingga ia bisa menamatkan SMP dan SMA, masing-masing 2 tahun lamanya. Dia pun sudah lulus SMA saat usianya baru 14 tahun.

Cita-citanya sejak kecil yang ingin menjadi dokter, membuat dia begitu mantap untuk mendaftar ke Fakultas kedokteran di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, melalui jalur Penelusuran Bakat Skolastik (PBS).

Masuk dunia kampus, Riana menghabiskan waktu dengan banyak membaca buku serta berdiskusi dengan teman-teman kuliahnya. Bagi Riana gerbang menuju ilmu pengetahun tiada lain adalah dengan rajin membaca. Selain aktif belajar di kampus ia juga rutin mengikuti kajian Islam ilmiah di sekitar kampus.

“Banyak sekali waktu untuk membaca. Terkadang, saya menargetkan 1 buku untuk tiap akhir pekan, jika tidak ada tugas kuliah yang harus segera diselesaikan,” kata Riana.

Selain bercita-cita menjadi dokter, ia juga ingin menjadi dosen. Alasannya, agar bisa terus belajar dan mengajarkan, serta terus terdorong untuk menambah pengetahuan.

.