Tag Archives: Youngest College Student

Audrey

Related Posts:

“Anak Ajaib” asal Surabaya


TERNYATA INDONESIA (PERNAH) PUNYA “ANAK AJAIB” ASAL SURABAYA

audrey_20180129_085743

Anak ajaib itu bernama Audrey.

Prestasi Pendidikan Audrey:

  • Audrey selesaikan SD 5 tahun
  • SMP 1 tahun, dan SMA 11 bulan
  • Dia lulus SMA di umur yg sangat muda, 13 tahun!
  • Masalah terjadi karena tidak ada kampus di Indonesia yang mau terima anak umur 13 tahun jadi mahasiswa
  • Jadi dia kuliah di luar negeri, di University of Virginia
  • Kalian tau jurusan apa? FISIKA! Dia selesaikan studinya dlm tahun
  • Di umur 16 tahun dia jadi Sarjana Fisika dgn predikat Summa Laude! Sempurna!

Gak cuma itu,

  • umur 10 tahun skor TOEFL nya 573, memecahkan rekor MURI dgn nilai TOEFL tertinggi di usia termuda.
  • Umur 11 tahun hafal luar kepala kamus Indonesia–Inggris setebal 650 halaman.
  • Umur 14 tahun skor TOEFL 670!!
  • Skrg Audrey se-kurang²nya bisa menguasai 6 bahasa asing:
    • Inggris
    • Prancis
    • Jerman
    • Mandarin
    • Rusia
    • Latin

Tapi karena keajaibannya itu membuat dia terkucilkan. Kalangan dewasa anggap dia tdk normal. Teman sebaya anggap dia aneh sendiri, Harus dijauhi, tak bisa diajak berteman, hrs dikucilkan.

Kondisi lingkungan seperti itu membuatnya menderita. Di rumah, dia selalu dimarahi. Di sekolah selalu di-bully. Di pergaulan ibunya selalu jadi bahan gunjingan.

Banyak orang luar negeri menyayangkan karena kondisinya di Indonesia yg demikian itu membuat kemampuan Audrey di masa remajanya ter sia²kan. Tapi di balik semua perlakuan itu ternyata Audrey adalah orang yg begitu bangga dengan Indonesia. Banyak buku yg dia tulis yang menggambarkan kecintaannya terhadap negeri ini.

Tahun 2017 kemarin dia dinobatkan menjadi salah satu dari 72 ikon prestasi Indonesia.

Berikut ini ulasan dari Pak Dahlan Iskan:

SULITNYA (PUNYA) ANAK SUPER PANDAI

  • UMUR Audrey baru 4 thn saat itu. tapi pertanyaannya setinggi filsuf: Kemana perginya rasa bahagia? Atau: Apa arti kehidupan?
  • Pertanyaan seperti itu membuat orangtuanya kewalahan. Begitu sering dia tanyakan. Dan tidak ada jawaban. Gurunya belingsatan. Lingkungannya jengkel.
  • Di mata mereka , Audrey-cilik tetap dianggap bocah ingusan, tak pantas bertanya ­seperti itu. Bahkan, ada yg menganggapnya mengidap kelainan jiwa.
  • Padahal dia merasa normal. Semua pelajaran bisa dia ikuti dengan baik. Sangat baik. Bahkan istimewa. Semua bisa dia jawab. Bahkan yang belum ditanyakan sekalipun. Ta[i dia merasa terasing. Di rumahnya, di sekolahnya, di pergaulannya, dan jg di gerejanya.
  • Orangtuanya, terutama ibunya, kian jengkel. Yakni saat Audrey melanjutkan pertanyaan ”arti kehidupan” itu dgn pertanyaan yg lebih sulit dijawab: Mengapa ada org miskin & miskin sekali sampai hrs jadi pemulung atau gelandangan? 
  • Anak kecil yg tambah menjengkelkan.

Ketika sudah di SD dia ngotot mau ke tempat sampah. Mencari pemulung. Ingin membantu. Ingin melakukan spt yg disebut dalam Pancasila. Khususnya sila kelima. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dia tidak hanya hafal Pancasila. Tapi merasuk sekali dalam jiwanya. Saking merasuknya, sampai dia selalu mempersoalkan ini:

Mengapa yg tertulis & diajarkan di Pancasila tidak sesuai dgn kenyataan? Dalam kehidupan se-hari² di masyarakat. Seperti yang dia lihat. Dan yg dia alami sendiri. Sebagai pribadi, sebagai anak, bahkan sebagai anak keluarga Tionghoa.

Dia ngotot ingin selalu ke tempat pemulung, ingin tau arti kehidupan. Tentu ibunya melarang, bahkan memarahinya. Semua ibu mgkn akan seperti itu.

Lain waktu, Audrey bikin kejutan lagi. Cita²nya ingin jadi tentara. Agar bisa jadi pejuang. Seperti pahlawan. Yg fotonya dipajang di dinding kelasnya. Heroik. Seperti kisah pahlawan dari guru² nya.

Ibunya tentu marah lagi.

Waktu ibunya menikah dulu, bukan anak seperti itu yang dia impikan. Begitu lama sang ibu mendambakan segera punya anak. Tidak kunjung hamil. Tiga tahun. Empat tahun. Lima tahun. Lama sekali menanti. Setelah itu barulah hamil.

Begitu besar harapan pada anak itu. Apalagi, Audrey tidak kunjung punya adik. Audrey menjadi satu²nya anaknya. Terlalu banyak keinginan sang ibu pada masa depan Audrey kecilnya. Sang ibu mampu untuk menyiapkan apa saja. Dia insinyur kimia. Suaminya Insinyur Mesin. Kedudukan suaminya sangat tinggi di sebuah perusahaan raksasa. Di luar itu masih punya usaha. Bahkan beberapa . Pokoknya, dia cukup  kaya. Kurang apa.

Harapan pada  anaknya tentu seperti umumnya harapan orangtua. Apalagi anak tunggal. Yg untuk menanti kehadirannya begitu lama. Anaknya harus pandai, cantik, dan kelak bisa jadi orang sukses. Terkemuka. Kaya. Lebih sukses dari orang tuanya. Kemudian bisa mendapat suami yg setara.

Tapi ternyata anaknya telah membuatnya repot. Malu. Marah. Teman² sang ibu menyarankan agar membawa Audrey ke dokter jiwa. Begitu banyak yang menyarankan langkah itu. Begitu sering diucapkan. Secara nyata maupun isyarat. Kadang ia dengar sendiri saran ke dokter jiwa itu.

Ada yg mengucapkannya terang²an. Di depan si anak. mungkin mengira toh anak ini tidak akan paham apa yg diucapkan orang dewasa. Ternyata Audrey lebih dari sekadar paham. Baru mendengar saran itu saja, Audrey sudah kian merasa disakiti hatinya. Apalagi setelah benar² dibawa ke dokter jiwa.

Dasar anak cerdas, dia tau apa yg harus diperbuat di dokter jiwa. Jawaban apa yang harus diberikan. Bahkan, dia bisa menilai dokternya. Berkualitas atau tidak. Krn tidak ”sembuh”, Audrey dibawa ke dokter yang lain lagi. Yang berikutnya lagi. Bahkan, Audrey pun bisa membandingkan. Mana dokter yang kurang paham dan mana yang lebih kurang paham. Ketika ada dokter jiwa yang kemudian memberinya obat, Audrey pun kian merasa betapa sulit orang lain memahami dirinya. Bahkan dokter jiwa sekalipun.

Ketika kelas tiga SD, Audrey bikin kejutan lagi. Gak mau sekolah. Terlalu mudah. Orangtuanya mencarikan jalan keluar. Pindah sekolah. Memang dia bisa menjawab pertanyaan² untuk kelas enam sekalipun. Audrey akhirnya bisa mendapat percepatan. Umur 12 tahun sudah kelas tiga SMA. Kesulitan muncul. Tidak ada universitas yg bisa menerima mahasiswa baru yang umurnya baru 13 tahun.

Dicarilah berbagai informasi. Di dalam negeri. Di luar negeri. Ketemu. Di Amerika Serikat. Di Negara Bagian Virginia. Di Kota Williamburg. Termasuk kota pertama dalam sejarah AS yang didarati bangsa Eropa.

Audrey tentu harus dites. Lulus. Dalam tes bhs Inggris, tidak ada masalah. Bahkan, Audrey bisa bahasa Prancis, Rusia. Di William and Marry University ini, Audrey ambil mata kuliah yang  wow: Fisika Murni. Dia pun lulus S-1 Fisika Murni hanya dlm waktu dua tahun. Dgn tingkat kelulusan summa cum laude pula.

Orangtuanya tentu gembira. Tapi sekaligus sedih. Marah. Sulit. Audrey tetap ingin masuk tentara. Jadi pejuang negara. Seperti pahlawan yang dikenalnya di foto² di dinding taman kanak-kanaknya.

Nasihat orangtuanya tidak pernah dia terima. Misalnya, nasihat untuk menyadari bahwa dirinya itu keluarga Tionghoa. Minoritas. Belum tentu bisa diterima baik oleh lingkungan yg luas. Kok mau masuk tentara. Jadi pejuang bangsa.

Sejak kecil Audrey terus dinasihati tentang sulitnya jadi minoritas. Tentang bahayanya menjadi golongan Tionghoa. Risiko bermata sipit. Berkulit kuning. Tentang risiko² pergaulan. Kekerasan. Apalagi dia seorang wanita. Begitu protektif si ibu sampai² saat ada tukang di rumahnya, Audrey tidak boleh keluar kamar.

Begitu ketatnya aturan yang harus dijalani seorang anak kecil bermata sipit membuat Audrey memberontak. Diam² Dia ­pendam dalam hati. Dia berusaha menghitamkan kulitnya. Tapi tiap becermin dia mengakui matanya masih sipit. Dia bertekad tidak mau berbahasa Mandarin. Dia berhenti kursus Mandarin. Bahkan, dia bertekad tidak akan mau menikah dengan pemuda Tionghoa.

Dia tidak percaya soal perbedaan ras tidak bisa diatasi. Dia percaya pada Pancasila. Yg ajarannya mulia. Tidak mem-beda² kan warga negara. Dia tahu dlm kenyataan bhw pembedaan itu ada. Justru itu hrs diperjuangkan. Agar Pancasila bisa dilaksanakan.

Dia tidak mau kaya raya. Tidak mau jadi pengusaha. Dia juga masih melihat banyak golongan Tionghoa yg tidak melaksanakan Pancasila. Di tengah bangsa yang masih  begini miskinnya. Tapi dia juga kecewa bahwa golongan Tionghoa masih  diperlakukan tidak adil & beradab oleh golongan lainnya. Dia kecewa dalam hal ini Pancasila baru di bibir saja.

Mengapa saat berumur empat tahun Audrey sudah mempertanyakan arti kehidupan dan kemana perginya rasa bahagia?

Hari itu Audrey mendadak diajak ke Tulungagung. Kakeknya meninggal. Kakek yang dia sayangi. Kakek yang periang & penyayang. Sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Tulungagung, dia mendengar pembicaraan orangtuanya. Terutama tentang penyebab meninggalnya. Yakni, meninggal karena sedih. Ditinggal mati istrinya. Sang istri meninggal setelah menderita lama: korban tabrak lari.

Audrey kecil sangat sayang oma & opanya. Audrey memanggilnya Ama & Akong. Pagi itu jam 4 pagi, Ama bersepeda sehat ke arah alun² Tulungagung. Sebuah mobil menabraknya. Tidak pernah diketahui siapa penabraknya.

Dari situlah Audrey terus berpikir. Mengapa orang  yang begitu menyenangkan harus meninggal. Bahagia itu ternyata bisa datang & pergi. Banyak sekali yang dia renungkan. Padahal, kalau ada orang dewasa bicara, Audrey itu hanya diam. Begitulah kata ibunya. Kami-kami ini tidak tahu bahwa dalam diamnya itu ternyata dia terus berpikir. Padahal, orang mengira dia diam karena tidak peduli dengan pembicaraan orang dewasa.

Kata Audrey, umur itu ternyata pendek. Sejak saat itu, Audrey bertekad untuk mengisi umur yang pendek itu dengan sebanyak mungkin arti kehidupan. Audrey jadi anak genius. Audrey bukan tidak bisa berubah.

Dia terkejut saat ke dokter gigi. Orangtuanya membawa Audrey ke dokter gigi di Singapura. Di sana dia mendapat kesan betapa orang² Singapura sangat bangga akan negaranya. Padahal, dia melihat orang² itu memiliki nama China. Kesimpulannya: untuk bangga pada negara, untuk  membela negara, ternyata tidak harus dgn cara mengubah identitas. Denagn nama tetap China, dengan kulit tetap kuning, dengan mata tetap sipit, ternyata orang² itu begitu fanatik pada ke-Singapura-annya. Pada negaranya.

Audrey mulai mau belajar lagi bahasa Mandarin. Denagn cepat. Bahasa apa pun bisa dia kuasai dengan mudah. Bahkan, Audrey sudah menerbitkan beberap buku pelajaran bahasa Mandarin utk anak Indonesia. Audrey juga mulai ingin punya nama Tionghoa.

Dia ke pengadilan. Mengubah namanya. Menjadi: Audrey Yu Jia Hui. Dia ingin membuktikan bahwa untuk cinta negara tidak harus mengubah atau menyembunyikan identitas suku atau rasnya. Seperti di Singapura. Dan sebetulnya juga di Amerika.

Hanya, dia tetap masih membujang. Umurnya sudah 30 tahun saat ini. Mengajar bahasa Inggris untuk level tertinggi di Shanghai. Sambil terus menyusun konsep penerapan Pancasila yang baik. Saya sudah dikirimi draft konsep pemasyarakatan Pancasila menurut dia. Saya sudah membaca dan ikut merenungkannya.

Ibunya juga sudah mulai berubah. Audrey sudah bisa pulang tahun depan dengan suasana baru.

”Saya baru tahu dari bukunya kalau perasaannya kepada saya seperti itu,” kata sang ibu kepada saya. ”Saya menyesal,” tambahnya. ”Saya sudah berubah. Saya mau berubah,” kata sang ibu.

Source: Rudy Kurniawan

Anak-2 Jenius Indonesia yang Kuliah di Usia Belia

Anak-2 Jenius Indonesia yang Kuliah di Usia Belia


anak-jenius-indonesia-yang-kuliah-di-usia-belia-PrG

Tingkat kecerdasan seseorang memang tidak bisa diwariskan meski bakat-bakat kejeniusan sudah bisa terlihat sejak belia. Banyak remaja Indonesia yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata sehingga di saat anak-anak seusianya masih bergelut di bangku SMP-SMA, sejumlah remaja di Tanah Air ini justru sudah akrab di bangku kuliah.

Rinaldi Wilopo (15 tahun)

Usianya baru 15 tahun, 1 bulan, dan 8 hari. Jika pada umumnya remaja berusia 15 tahun baru masuk ke jenjang SMA, Rinaldi sudah duduk di bangku kuliah. Dia kini tercatat sebagai mahasiswa di Program Studi Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Padjadjaran, Bandung. Universitas Padjadjaran, Bandung.

Aldo Meola Geraldino (14 Tahun)

Aldo berhasil diterima di Fakultas Kedokteran UGM dalam usia 14 tahun 8 bulan dan tercatat sebagai mahasiswa termuda UGM angkatan 2015. Aldo mengikuti program akselerasi saat mengenyam pendidikan di SD, SMP, dan SMA.

Aditya Dharma Putra (14 tahun)

Pada tahun ajaran 2011/2012, Aditya menjadi mahasiswa termuda di antara 10.248 mahasiswa baru. Aditya adalah mahasiswa baru Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik dan baru berusia 14 tahun 11 bulan 27hari.

Arya Bagus Kevin (14 Tahun)

Saat diterima sebagai mahasiswa baru UGM tahun akademik 2014/2015, Arya tercatat sebagai mahasiswa baru termuda dengan usia 14 tahun,6 bulan 9 hari. Arya diterima di Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik UGM.

Alvinasari Tryasdini Arifin (14 tahun)

Alvinasari menyandang status mahasiswa baru (maba) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada usia 14 tahun 11 bulan 21 hari dan dinyatakan sebagai mahasiswa termuda jurusan Psikologi angkatan 2013 di UGM.

Diyah Utami Kusumaning Putri (14 tahun)

Diyah Utami Kusumaning Putri tercatat sebagai mahasiswa termuda UGM Jurusan Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) tahun akademik 2012/2013. Diyah menjadi mahasiswa FMIPA UGM pada usia 14 tahun 10 bulan 13 hari.

Aldo Meyolla Geraldino

Aldo Meyolla Geraldino Mahasiswa Termuda UGM Tahun 2015 – Jurusan Fakultas Kedokteran pada Usia 14 Tahun 


aldo-meyolla

Perintah itu melengking lewat pengeras suara. Mengegas seorang remaja tanggung, yang duduk berjejalan dengan ribuan orang. Bercaping rupa-rupa warna, anak-anak muda itu memenuhi Graha Sabha Pramana, Universitas Gajah Mada (UGM). Ya, para mahasiswa baru itu tengah mengikuti acara Ospek, tradisi tahunan yang umumnya digelar di berbagai kampus di seluruh Indonesia.

Pria berpostur tinggi yang memberi perintah itu, berdiri di tengah lapangan. Dia terlihat gagah. Berbaur dengan ribuan mahasiswa baru. Berpanas-panasan, memakai celana jeans dipadu dengan kemeja putih polos. Dan ini sungguh tak biasa, lelaki itu adalah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah yang karir politiknya dirakit lewat PDI Perjuangan.

Jika kemudian dia hadir di situ, dan memberi perintah pula, itu bukan karena Ganjar menjadi orang nomor satu di Jawa Tengah, tapi karena dia adalah Ketua Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (Kagama), yang lulusannya banyak yang menjadi petinggi negeri ini, sebagai misal, Presiden Indonesia Joko Widodo dan begitu banyak menteri, juga ilmuwan.

Dan pemuda tanggung yang digegas sang gubernur itu berlari maju. Dia berperawakan ceking, rambut klimis. Kacamata minus melindungi dua matanya. Sedikit tergopoh-gopoh. Dan sekilas tak ada yang istimewa dari penampilannya, sehingga orang lain tak tahu mengapa dia yang meraih kehormatan itu.

Jaket hijau lumut, ciri khas kampus itu, yang membalut tubuhnya terlihat kedodoran. Tapi bersanding dengan sang gubernur dia berusaha gagah berdiri. Tak canggung. Ribuan mata yang mematut ke arahnya juga tak membuat kikuk.

Pada Selasa, 18 Agustus 2015 iu, Aldo Meyolla Geraldino, begitu nama anak muda itu, dinobatkan sebagai mahasiswa termuda. Dari 9.536 mahasiswa baru tahun akademik 2015-2016 di kampus itu. Dan tampangnya memang terlihat seperti remaja tanggung. Usianya 14 tahun, 7 bulan, 29 hari. Pada usia yang terbilang belia untuk kuliah itu, dia lulus bersaing dengan ribuan orang, masuk Fakultas Kedokteran.

Ketika ribuan anak-anak seusianya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Aldo sudah menyandang status mahasiswa. Dia tidak hanya cerdas, tapi juga menyimpan mental yang prima. Tak kikuk ketika menjawab sang gubernur, meski pertanyaannya bersifat “ dilematis.”

  • Do, kalau kamu melihat tetangga kanan kirimu, yang untuk urusan makan saja susah dan jatuh sakit tapi tidak ada yang menolong, apa yang kamu lakukan? tanya Ganjar.
  • Aldo menjawab dengan tenang bahwa pertama-tama dia akan membeli makanan, Kemudian saya suruh makan dan baru diobati.
  • Ganjar kemudian bertanya lagi,  Disuruh bayar?
  • Enggak usah, cepat Aldo menjawab.

Ganjar lalu memberi sanjungan bahwa Aldo adalah dokter masa depan yang dimimpikan Indonesia. Memberi selamat, memberi semangat. “ Aldo keren,” puji Ganjar, yang disambut tepuk tangan membahana ribuan tangan. Dan semenjak hari itulah nama Aldo menjadi sohor. Para netizen ramai menyanjung di media sosial. Dikagumi banyak orang. Media massa juga antri mewawancara, mengali kisah hidup hingga tips belajar. Dia kemudian disemat sebagai bocah jenius Indonesia.

Mencetak anak jenius seperti Aldo sudah pastilah susah. Anak-anak yang mengalahkan usianya itu memang langka. Bahkan di negeri maju yang gizi dan kurikulumnya paling manjur sekalipun. Jumlahnya sedikit.

Lihatlah data Mensa Indonesia, sebuah perkumpulan untuk orang-orang yang ber-IQ tinggi berikut ini. Dari setidaknya 250 juta penduduk bumi pertiwi ini, hanya sekitar 2 persen yang bisa disebut jenius. Dan mirisnya lagi, sebagian dari orang jenius itu memilih berkiprah di luar negeri ketimbang di tanah air.

Secara umum, di seluruh dunia, jumlah rasio orang jenius yang biasa-biasa saja terpaut jauh. Psikolog dari Ohio State University, Joanne Ruthsatz, bahkan ragu menyebut jumlahnya. ” Saya hanya bisa mengatakan, anak ajaib sesungguhnya sangat langka, mungkin hanya ada 1 dari 5 juta atau 1 dari 10 juta orang di dunia,” katanya mengutip popsci.com.

Berapa jumlah pasti orang jenius di seluruh dunia, belum ada juga data pastinya. Hanya perkiraan kasar. Cuma sekitar 2 hingga 5 persen dari total penduduk dunia. Nilai IQ memang masih menjadi standar kejeniusan seseorang. National Association for Gifted Children menyebut anak dengan IQ rentang 130-144, layak disebut jenius moderat. Sementara IQ 145-159 disebut sangat jenius.

Dari dua tingkatan itu, posisi terhormat diberikan bagi anak ber-IQ lebih dari 180. Anak dengan IQ setinggi ini bisa dipastikan sebagai anak superjenius.

Menilai kejeniusan memang menjadi relatif. Mensa internasional sendiri hanya menyebut tanda-tanda seorang anak layak disebut jenius. Memiliki kemampuan mengingat tak biasa, membaca di usia lebih cepat, punya hobi atau ketertarikan unik, serta melek dengan kejadian di dunia.

Tak hanya itu, anak jenius cenderung menunjukan tanda-tanda sering bertanya, punya selera humor, suka musik, senang berkuasa, dan seringkali menambahkan aturan sendiri dalam sebuah permainan. Aldo, remaja tanggung calon dokter masa depan cukup layak disebut jenius. Pada usia 14 tahun dia menjadi mahasiswa. Fakultas kedokteran. Tempat yang diincar puluhan ribu siswa di seluruh negeri.

Cendikiawan Suryaatmadja

Bocah Jenius Berusia 12 Tahun Asal Indonesia Jadi Mahasiswa Termuda di Kanada Jurusan Fisika


diki

Bocah bernama Cendikiawan Suryaatmadja (12 tahun) berhasil memperoleh kesempatan untuk belajar di salah satu universitas ternama di Kanada.

Usai merampungkan jenjang pendidikan menengah atas di Indonesia, anak yang akrab disapa Diki itu kini tengah bersiap-siap untuk memulai kehidupan barunya sebagai seorang mahasiswa di usia 12 tahun.

Seperti dikutip dari berbagai sumber, Jumat (2/9/2016), bocah yang belajar Bahasa Inggris secara otodidak itu menjadi mahasiswa termuda Jurusan Fisika di Universitas Waterloo (UW), Ontario, Kanada.

“Aku merasa senang dan sedikit cemas dengan perubahan budaya yang akan kualami,” kata bocah yang menyelesaikan sekolah wajib 12 tahunnya kurang dari waktu yang telah ditentukan.

Menurut keterangan salah seorang karyawan administrasi penerimaan mahasiswa baru UW, Andre Jardin, mereka sangat senang sekali dapat menerima bocah jenius ber-IQ 189 itu sebagai mahasiswa termuda yang pernah ada di UW.

“Dia sangat bertalenta dan dianugerahi kemampuan khusus. Kami ingin melihat dia menjadi sukses,” kata Jardin.

Bocah yang menamatkan SD dalam waktu 3 tahun itu bercita-cita untuk menciptakan energi ‘bersih’ untuk menolong dunia.

“Alasanku tertarik pada fisika adalah karena fisika merupakan sebuah ilmu yang dapat mengubah dunia,” kata bocah yang mulai tetarik pada ilmu itu pada usia 9 tahun.

waterloo

Selain itu Diki juga suka mengamati pola dan merenungkan alam.

Pihak UW memberikan beasiswa tersebut kepada Diki karena kepintaran dan kecerdasan yang dimilikinya.

Diki diterima di Waterloo sebagai mahasiswa undangan Jurusan Fisika. Dia juga akan mempelajari matematika, kimia, dan ekonomi.

“Aku merasa senang dan sedikit cemas dengan perubahan budaya yang akan kualami,” kata bocah yang menyelesaikan sekolah wajib 12 tahunnya kurang dari waktu yang telah ditentukan.

Menurut keterangan salah seorang karyawan administrasi penerimaan mahasiswa baru UW, Andre Jardin, mereka sangat senang sekali dapat menerima bocah jenius ber-IQ 189 itu sebagai mahasiswa termuda yang pernah ada di UW.

“Dia sangat bertalenta dan dianugerahi kemampuan khusus. Kami ingin melihat dia menjadi sukses,” kata Jardin.

Bocah yang menamatkan SD dalam waktu 3 tahun itu bercita-cita untuk menciptakan energi ‘bersih’ untuk menolong dunia.

“Alasanku tertarik pada fisika adalah karena fisika merupakan sebuah ilmu yang dapat mengubah dunia,” kata bocah yang mulai tetarik pada ilmu itu pada usia 9 tahun.

Selain itu Diki juga suka mengamati pola dan merenungkan alam.

Pihak UW memberikan beasiswa tersebut kepada Diki karena kepintaran dan kecerdasan yang dimilikinya.

Diki diterima di Waterloo sebagai mahasiswa undangan Jurusan Fisika. Dia juga akan mempelajari matematika, kimia, dan ekonomi.

Posted by: JURNALINDONESIA 2 September 2016

Nelson Tansu

Nelson Tansu Profesor Termuda asal Indonesia 


Nelson Tansu

Membaca namanya, orang mungkin tidak akan menyangka bahwa ia adalah orang Indonesia. Tapi jika membaca biografinya, barulah orang akan percaya bahwa sosok bernama Nelson Tansu tersebut adalah 100% Indonesia. Nelson Tansu adalah putra bangsa kelahiran Medan, 20 Oktober 1977 dengan segudang prestasi yang membanggakan dan sudah diakui dunia internasional. Bayangkan saja, pria Medan ini sudah meraih 11 penghargaan dan memiliki tiga hak paten atas penemuan risetnya. Selain itu, di usia yang belum menginjak 30 tahun, ia sudah meraih gelar profesor bidang electrical engineering di Amerika Serikat.

Dalam perjalanan hidup dan karirnya, Nelson mengakui mendapat dukungan yang besar dari keluarga terutama kedua orang tua dan kakeknya. “Mereka menanamkan mengenai pentingnya pendidikan sejak saya masih kecil sekali,” ujarnya.

Ketika Nelson masih SD, kedua orang tuanya sering membanding-bandingkan Nelson dengan beberapa sepupunya yang sudah doktor. Perbandingan tersebut sebenarnya kurang pas. Sebab, para sepupu Nelson itu jauh di atas usianya. Ada yang 20 tahun lebih tua. Tapi, Nelson kecil menganggapnya serius dan bertekad keras mengimbangi sekaligus melampauinya.

Waktu akhirnya menjawab imipian Nelson tersebut. “Jadi, terima kasih buat kedua orang tua saya. Saya memang orang yang suka dengan banyak tantangan. Kita jadi terpacu, gitu,” ungkapnya. Nelson mengaku, mendiang kakeknya dulu juga ikut memicu semangat serta disiplin belajarnya. “Almarhum kakek saya itu orang yang sangat baik, namun agak keras. Tetapi, karena kerasnya, saya malah menjadi lebih tekun dan berusaha sesempurna mungkin mencapai standar tertinggi dalam melakukan sesuatu,” jelasnya.

Nelson muda merupakan lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Kecerdasannya juga mengantarkannya menjadi finalis dari Indonesia dalam sebuah olimpiade fisika internasional. Ia meraih gelar sarjana dari Wisconsin University yang ditempuhnya dalam 2 tahun 9 bulan dengan predikat Summa Cum Laude. Gelar PhD pun diraihnya dalam usia 26 tahun di universitas yang sama.

Nelson mengaku, orang tuanya hanya membiayai pendidikannya hingga sarjana. Selebihnya, karena otaknya yang encer, ia menjadi rebutan tawaran beasiswa. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi profesor di Lehigh University, tempatnya bekerja sekarang. Tesis doktoralnya mendapat award sebagai “The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award” mengalahkan 300 tesis doktoral lainnya.

Lebih dari 84 hasil riset maupun karya tulisnya dipublikasikan di berbagai konferensi dan jurnal ilmiah internasional. Sering diundang menjadi pembicara utama di berbagai seminar, konferensi dan pertemuan intelektual, terutama di Washington DC.

Selain itu, dia sering datang ke berbagai kota lain di AS dan luar AS seperti Kanada, sejumlah negara di Eropa, dan Asia. Yang mengagumkan, sudah ada tiga penemuan ilmiahnya yang dipatenkan di AS, yakni bidang semiconductor nanostructure optoelectronics devices dan high power semiconductor lasers.

Biarpun sudah lama berada di Amerika Serikat, Nelson tetap memegang paspor hijaunya, dan tidak mengganti kewarganegaraannya. Di setiap kali memulai mengajar, Nelson selalu berujar “I am Nelson Tansu, and I am an Indonesian”.

Nelson Tansu 2Nama lengkapnya adalah Prof Nelson Tansu PhD. Setahun lalu, ketika baru berusia 25 tahun, dia diangkat menjadi guru besar (profesor) di Lehigh University, Bethlehem, Pennsylvania 18015, USA. Usia yang tergolong sangat belia dengan statusnya tersebut.

Kini, ketika usianya menginjak 26 tahun, Nelson tercatat sebagai profesor termuda di universitas bergengsi wilayah East Coast, Negeri Paman Sam, itu.

Sebagai dosen muda, para mahasiswa dan bimbingannya justru rata-rata sudah berumur. Sebab, dia mengajar tingkat master (S-2), doktor (S-3), bahkan post doctoral.

Inilah kisah selanjutnya dari Nelson Tansu:

Prestasi dan reputasi Nelson cukup berkibar di kalangan akademisi AS. Puluhan hasil risetnya dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional.

Dia sering diundang menjadi pembicara utama dan penceramah di berbagai seminar. Paling sering terutama menjadi pembicara dalam pertemuan-pertemuan intelektual, konferensi, dan seminar di Washington DC .

Selain itu, dia sering datang ke berbagai kota lain di AS. Bahkan, dia sering pergi ke mancanegara seperti Kanada, sejumlah negara di Eropa, dan Asia.

Yang mengagumkan, sudah ada tiga penemuan ilmiahnya yang dipatenkan di AS, yakni bidang semiconductor nanostructure optoelectronics devices dan high power semiconductor lasers. Di tengah kesibukannya melakukan riset-riset lainnya, dua buku Nelson sedang dalam proses penerbitan. Bukan main. Kedua buku tersebut merupakan buku teks(buku wajib pegangan, Red) bagi mahasiswa S-1 di Negeri Paman Sam.

Karena itu, Indonesia layak bangga atas prestasi anak bangsa di negeri rantau tersebut. Lajang kelahiran Medan, 20 Oktober 1977, itu sampai sekarang masih memegang paspor hijau berlambang garuda. Kendati belum satu dekade di AS, prestasinya sudah segudang. Kemana pun dirinya pergi, setiap ditanya orang, Nelson selalu mengenalkan diri sebagai orang Indonesia. Sikap Nelson itu sangat membanggakan di tengah banyak tokoh kita yang malu mengakui Indonesia sebagai tanah kelahirannya.

“Saya sangat cinta tanah kelahiran saya.Dan saya selalu ingin melakukan yang terbaik untuk Indonesia,” katanya, serius. Di Negeri Paman Sam, kecintaan Nelson terhadap negerinya yang dicap sebagai terkorup di Asia tersebut dikonkretkan dengan memperlihatkan ketekunan serta prestasi kerjanya sebagai anak bangsa. Saat berbicara soal Indonesia, mimik pemuda itu terlihat sungguh-sungguh dan jauh dari basa-basi.

“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan merupakan bangsa yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa besar lainnya. Tentu saja jika bangsa kita terus bekerja keras,” kata Nelson menjawab koran ini.

Adalah anak kedua di antara tiga bersaudara buah pasangan Iskandar Tansu dan Lily Auw yang berdomisili di Medan, Sumatera Utara. Kedua orangtua Nelson adalah pebisnis percetakan di Medan. Mereka adalah lulusan universitas di Jerman. Abang Nelson, Tony Tansu, adalah master dari Ohio, AS. Begitu juga adiknya, Inge Tansu, adalah lulusan Ohio State University (OSU).

Tampak jelas bahwa Nelson memang berasal dari lingkungan keluarga berpendidikan. Posisi resmi Nelson di Lehigh University adalah assistant professor di bidang electrical and computer engineering. Di AS, itu merupakan gelar untuk guru besar baru di perguruan tinggi. “Walaupun saya adalah profesor di jurusan electrical and computer engineering, riset saya sebenarnya l ebih condong ke arah fisika terapan dan quantum electronics,” jelasnya.

Sebagai cendekiawan muda, dia menjalani kehidupannya dengan tiada hari tanpa membaca, menulis, serta melakukan riset. Tentunya, dia juga menyiapkan materi serta bahan kuliah bagi para mahasiswanya. Kesibukannya tersebut, jika meminjam istilah di Amerika, bertumpu pada tiga hal. Yakni, learning, teaching, and researching. Boleh jadi, tak ada waktu sedikit pun yang dilalui Nelson dengan santai. Di sana , 24 jam sehari dilaluinya dengan segala aktivitas ilmiah. Waktu yang tersisa tak lebih dari istirahat tidur 4-5 jam per hari.

Anak muda itu memang enak diajak mengobrol. Idealismenya berkobar-kobar dan penuh semangat. Layaknya profesor Amerika, sosok Nelson sangat bersahaja dan bahkan suka merendah. Busana kesehariannya juga tak aneh-aneh, yakni mengenakan kemeja berkerah dan pantalon.

Sekilas, dia terkesan pendiam. Pengetahuan dan bobotnya sering tersembunyi di balik penampilannya yang seperti tak suka bicara. Tapi, ketika dia mengajar atau berbicara di konferensi para intelektual, jati diri akademisi Nelson tampak. Lingkungan akademisi, riset, dan kampus memang menjadi dunianya. Dia selalu peduli pada kepentingan serta dahaga pengetahuan para mahasiswanya di kampus.

Ada yang menarik di sini. Karena tampangnya yang sangat belia, tak sedikit insan kampus yang menganggapnya sebagai mahasiswa S-1 atau program master. Dia dikira sebagai mahasiswa umumnya. Namun, bagi yang mengenalnya, terutama kalangan universitas atau jurusannya mengajar, begitu bertemu dirinya, mereka selalu menyapanya hormat: Prof Tansu.

“Di semester Fall 2003, saya mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang physics and applications of photonics crystals. Di semester Spring 2004, sekarang, saya mengajar kelas untuk mahasiswa senior dan master tentang semiconductor device physics. Begitulah,” ungkap Nelson menjawab soal kegiatan mengajarnya.

September hingga Desember atau semester Fall 2004, jadwal mengajar Nelson sudah menanti lagi. Selama semester itu, dia akan mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang applied quantum mechanics for semiconductor nanotechnology. “Selain mengajar kelas-kelas di universitas, saya membimbing beberapa mahasiswa PhD dan post-doctoral research fellow di Lehigh University ini,” jelasnya saat ditanya mengenai kesibukan lainnya di kampus.

Nelson termasuk individu yang sukses menggapai mimpi Amerika (American dream). Banyak imigran dan perantau yang mengadu nasib di negeri itu dengan segala persaingannya yang superketat. Di Negeri Paman Sam tersebut, ada cerita sukses seperti aktor yang kini menjadi Gubernur California Arnold Schwarzenegger yang sebenarnya adalah imigran asal Austria. Kemudian, dalam Kabinet George Walker Bush sekarang juga ada imigrannya, yakni Menteri Tenaga Kerja Elaine L. Chao. Imigran asal Taipei tersebut merupakan wanita pertama Asian-American yang menjadi menteri selama sejarah AS.

Negara Superpower tersebut juga sangat baik menempa bakat serta intelektual Nelson. Lulusan SMA Sutomo 1 Medan itu tiba di AS pada Juli 1995. Di sana, dia menamatkan seluruh pendidikannya mulai S-1 hingga S-3 di University of Wisconsin di Madison. Nelson menyelesaikan pendidikan S-1 di bidang applied mathematics, electrical engineering, and physics. Sedangkan untuk PhD, dia mengambil bidang electrical engineering. Dari seluruh perjalanan hidup dan karirnya, Nelson mengaku bahwa semua suksesnya itu tak lepas dari dukungan keluarganya. Saat ditanya mengenai siapa yang paling berpengaruh, dia cepat menyebut kedua orang tuanya dan kakeknya. “Mereka menanamkan mengenai pentingnya pendidikan sejak saya masih kecil sekali,” ujarnya.

Ada kisah menarik di situ. Ketika masih sekolah dasar, kedua orangtuanya sering membanding-bandingkan Nelson dengan beberapa sepupunya yang sudah doktor. Perbandingan tersebut sebenarnya kurang pas. Sebab, para sepupu Nelson itu jauh di atas usianya. Ada yang 20 tahun lebih tua. Tapi, Nelson kecil menganggapnya serius dan bertekad keras mengimbangi sekaligus melampauinya. Waktu akhirnya menjawab imipian Nelson tersebut. “Jadi, terima kasih buat kedua orangtua saya. Saya memang orang yang suka dengan banyak tantangan. Kita jadi terpacu, gitu,” ungkapnya. Nelson mengaku, mendiang kakeknya dulu juga ikut memicu semangat serta disiplin belajarnya. “Almarhum kakek saya itu orang yang sangat baik, namun agak keras.

Tetapi, karena kerasnya, saya malah menjadi lebih tekun dan berusaha sesempurna mungkin mencapai standar tertinggi dalam melakukan sesuatu,” jelasnya.

Sisihkan 300 Doktor AS, tapi Tetap Rendah Hati Nelson Tansu menjadi fisikawan ternama di Amerika. Tapi, hanya sedikit ya ng tahu bahwa guru besar belia itu berasal dari Indonesia. Di sejumlah kesempatan, banyak yang menganggap Nelson ada hubungan famili dengan mantan PM Turki Tansu Ciller. Benarkah? Nama Nelson Tansu memang cukup unik. Sekilas, sama sekali nama itu tidak mengindikasikan identitas etnis, ras, atau asal negeri tertentu. Karena itu, di Negeri Paman Sam, banyak yang keliru membaca, mengetahui, atau berkenalan dengan profesor belia tersebut. Malah ada yang menduga bahwa dia adalah orang Turki. Dugaan itu muncul jika dikaitkan dengan hubungan famili Tansu Ciller, mantan perdana menteri (PM) Turki. Beberapa netters malah tidak segan-segan mencantumkan nama dan kiprah Nelson ke dalam website Turki. Seolah-olah mereka yakin betul bahwa fisikawan belia yang mulai berkibar di lingkaran akademisi AS itu memang berasal dari negerinya Kemal Ataturk.

Ada pula yang mengira bahwa Nelson adalah orang Asia Timur, tepatnya Jepang atau Tiongkok. Yang lebih seru, beberapa universitas di Jepang malah terang-terangan melamar Nelson dan meminta dia “kembali” mengajar di Jepang. Seakan-akan Nelson memang orang sana dan pernah mengajar di Negeri Sakura itu. Dilihat dari nama, wajar jika kekeliruan itu terjadi. Begitu juga wajah Nelson yang seperti orang Jepang.Lebih-lebih di Amerika banyak profesor yang keturunan atau berasal dari Asia Timur dan jarang-jarang memang asal Indonesia. Nelson pun hanya senyum-senyum atas segala kekeliruan terhadap dirinya. “Biasanya saya langsung mengoreksi. Saya jelaskan ke mereka bahwa saya asli Indonesia.

Mereka memang agak terkejut sih karena memang mungkin jarang ada profesor asal aslinya dari Indonesia,”jelas Nelson. Tansu sendiri sesungguhnya bukan marga kalangan Tionghoa. Memang, nenek moyang Nelson dulu Hokkien, dan marganya adalah Tan. Tapi, ketika lahir, Nelson sudah diberi nama belakang “Tansu”, sebagaimana ayahnya, Iskandar Tansu. “Saya suka dengan nama Tansu, kok,” kata Nelson dengan nada bangga.

Nelson adalah pemuda mandiri. Semangatnya tinggi, tekun, visioner, dan selalu mematok standar tertinggi dalam kiprah riset dan dunia akademisinya. Orang tua Nelson hanya membiayai hingga tingkat S-1.

Selebihnya? Berkat keringat dan prestasi Nelson sendiri. Kuliah tingkat doktor hingga segala keperluan kuliah dan kehidupannya ditanggung lewat beasiswa universitas. “Beasiswa yang saya peroleh sudah lebih dari cukup untuk membiayai semua kuliah dan kebutuhan di universitas,” katanya.

Orang seperti Nelson dengan prestasi akademik tertinggi memang tak sulit memenangi berbagai beasiswa. Jika dihitung-hitung, lusinan penghargaan dan anugerah beasiswa yang pernah dia raih selama ini di AS.

Menjadi profesor di Negeri Paman Sam memang sudah menjadi cita-cita dia sejak lama. Walau demikian, posisi assistant professor (profesor muda, Red) tak pernah terbayangkannya bisa diraih pada usia 25 tahun. Coba bandingkan dengan lingkungan keluarga atau masyarakat di Indonesia, umumnya apa yang didapat pemuda 25 tahun? Bahkan, di AS yang negeri supermaju pun reputasi Nelson bukan fenomena umum. Bayangkan, pada usia semuda itu, dia menyandang status guru besar.

Sehari-hari dia mengajar program master, doktor, dan bahkan post doctoral. Yang prestisius bagi seorang ilmuwan, ada tiga riset Nelson yang dipatenkan di AS.

Kemudian, dua buku teksnya untuk mahasiswa S-1 dalam proses penerbitan. Tapi, bukan Nelson Tansu namanya jika tidak santun dan merendah.

Cita-citanya mulia sekali. Dia akan tetap melakukan riset-riset yang hasilnya bermanfaat buat kemanusian dan dunia. Sebagai profesor di AS, dia seperti meniti jalan suci mewujudkan idealisme tersebut. Ketika mendengar pengakuan cita-cita sejatinya, siapa pun pasti akan terperanjat. Cukup fenomenal. “Sejak SD kelas III atau kelas IV di Medan, saya selalu ingin menjadi profesor di universitas di Amerika Serikat. Ini benar-benar saya cita-citakan sejak kecil,” ujarnya dengan mimik serius. Tapi, orang bakal mahfum jika melihat sejarah hidupnya. Ketika usia SD, Nelson kecil gemar membaca biografi para ilmuwan-fisikawan AS dan Eropa. Selain Albert Einstein yang menjadi pujaannya, nama-nama besar seperti Werner Heisenberg, Richard Feynman, dan Murray Gell-Mann ternyata sudah diakrabi Nelson cilik. “Mereka hebat. Dari bacaan tersebut, saya benar-benar terkejut, tergugah dengan prestasi para fisikawan luar biasa itu. Ada yang usianya muda sekali ketika meraih PhD, jadi profesor, dan ada pula yang berhasil menemukan teori yang luar biasa. Mereka masih muda ketika itu,” jelas Nelson penuh kagum.

Nelson jadi profesor muda di Lehigh University sejak awal 2003. Untuk bidang teknik dan fisika, universitas itu termasuk unggulan dan papan atas di kawasan East Coast, Negeri Paman Sam. Untuk menjadi profesor di Lehigh, Nelson terlebih dahulu menyisihkan 300 doktor yang resume (CV)-nya juga hebat-hebat. “Seleksinya ketat sekali, sedangkan posisi yang diperebutkan hanya satu,” ujarnya. Lelaki penggemar buah-buahan dan masakan Padang itu mengaku lega dan beruntung karena dirinya yang terpilih. Menurut Nelson, dari segi gaji dan materi, menjadi profesor di kampus top seperti yang dia alami sekarang sudah cukup lumayan. Berapa sih lumayannya? “Sangat bersainglah. Gaji profesor di universitas private terkemuka di Amerika Serikat adalah sangat kompetitif dibandingkan dengan gaji industri. Jadi, cukup baguslah, he-he-he,” katanya, menyelipkan senyum.

Riwayat hidup dan reputasinya memang wow. Nelson sempat menjadi incaran dan malah “rebutan” kalangan universitas AS dan mancanegara. Ada yang menawari jabatan associate professor yang lebih tinggi daripada yang dia sandan g sekarang (assistant professor). Ada pula yang menawari gaji dan fasilitas yang lebih heboh daripada Lehigh University.

Tawaran-tawaran menggiurkan itu datang dari AS, Kanada, Jerman, dan Taiwan serta berasal dari kampus-kampus top. Semua datang sebelum maupun sesudah Nelson resmi mengajar di Lehigh University. Tapi, segalanya lewat begitu saja. Nelson memilih konsisten, loyal, dan komit dengan universitas di Pennsylvania itu. Tapi, tentu ada pertimbangan khusus yang lain.

“Saya memilih ini karena Lehigh memberikan dana research yang sangat signifikan untuk bidang saya, semiconductor nanostructure optoelectronic devices.

Lehigh juga memiliki leaderships yang sangat kuat dan ambisinya tinggi menaikkan reputasinya dengan memiliki para profesor paling berpotensi dan ternama untuk melakukan riset.

The University Center on the campus of Lehigh University.
The University Center on the campus of Lehigh University.

Summary


Lehigh University is a private institution that was founded in 1865. It has a total undergraduate enrollment of 4,883, its setting is urban, and the campus size is 1,600 acres. It utilizes a semester-based academic calendar. Lehigh University’s ranking in the 2014 edition of Best Colleges is National Universities, 41. Its tuition and fees are $43,520 (2013-14).

best-colleges-badge-124x112Lehigh University is located in Bethlehem, Pa., 50 miles north of Philadelphia and 75 miles west of New York City. The Lehigh Mountain Hawks are members of the Patriot League, and compete in 25 NCAA Division I sports. Their biggest athletic rivalry is Lafayette College, located less than 20 miles away. A third of the student body is involved in fraternities and sororities. All freshmen are required to live on campus, and sophomores are also required to live on campus in a residence hall or Greek housing. Lehigh’s main campus is located on the wooded slope of South Mountain, and half of the campus is preserved as open space.

Lehigh University has four colleges, with numerous undergraduate and graduate majors. Its well-regarded graduate programs include the College of Education and the P.C. Rossin College of Engineering and Applied Science. The Jeanne Clery Disclosure of Campus Security Policy and Campus Crime Statistics Act originated at Lehigh, requiring colleges to reveal crimes on campus. Lehigh folklore says the school colors of brown and white originated when a woman wearing brown and white stockings passed by a group of men discussing school colors, and the rest is history. Notable alumni include Jesse W. Reno, the inventor of the escalator; and Howard McClintic and Charles Marshall, whose construction company helped build the Golden Gate Bridge, the George Washington Bridge, the Panama Canal and New York’s Waldorf-Astoria Hotel.

A view of the Linderman Library Rotunda at Lehigh University.
A view of the Linderman Library Rotunda at Lehigh University.

Students gather outside University Center at Lehigh University.
Students gather outside University Center at Lehigh University.

Students gather for an activity outside University Center at Lehigh University.
Students gather for an activity outside University Center at Lehigh University.

Biodata


Indonesia layak bangga atas prestasi anak bangsa di negeri ini, misalnya aja Prof. Nelson Tansu, Ph.D. beliau adalah Profesor termuda di Amerika yang berasal dari Medan, Sumatera Utara. ketika usianya 25 tahun, ia menjadi asisten profesor di bidang electrical and computer engineering, Lehigh University. Lehigh University merupakan sebuah universitas papan atas di bidang teknik dan fisika di kawasan East Coast, Amerika Serikat. Sudah lebih dari 84 hasil riset maupun karya tulisnya telah dipublikasikan di berbagai konferensi dan jurnal ilmiah internasional.

 

Profeor Nelson Tansu lahir di Medan, Sumatera Utara, 20 Oktober 1977, merupakan putra kedua dari pasangan ayah (Almarhum) Iskandar Tansu dan ibu (Almarhum) Auw Lie Min. Kedua orang tua Nelson adalah pebisnis percetakan di Medan. Mereka adalah lulusan universitas di Jerman. Abang Nelson, Tony Tansu, adalah master dari Ohio, AS. Begitu juga adiknya, Inge Tansu, adalah lulusan Ohio State University (OSU).  Ia adalah lulusan terbaik SMU Sutomo 1 Medan pada tahun 1995 dan juga menjadi finalis Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI).

 

Pendidikan :


  • Ph.D. in Electrical Engineering (Applied Physics), September 1998 – Mei 2003, Universitas Wisconsin – Madison, Madison, Amerika Serikat
  • B.S. in Applied Mathematics, (Electrical) Engineering, and Physics (AMEP), September 1995 – Mei 1998, Universitas Wisconsin – Madison, Madison, Amerika Serikat
  • SMA Sutomo 1, Medan, Sumatera Utara, Indonesia (Juli 1992 – Mei 1995)
  • SMP Sutomo 1, Medan, Sumatera Utara, Indonesia (Juli 1989 – Mei 1992)
  • SD Sutomo 1, Medan, Sumatera Utara, Indonesia (Juli 1983 – Mei 1989)
  • TK Sutomo 1, Medan, Sumatera Utara, Indonesia (Juli 1981 – Mei 1983)

Karier :


  • Assistant Professor, Department of Electrical and Computer Engineering, Center for Optical Technologies, P. C. Rossin College of Engineering and Applied Science, Lehigh University, Juli 2003 – April 2007
  • Peter C. Rossin (Term Chair) Assistant Professor, Department of Electrical and Computer Engineering, Center for Optical Technologies, P. C. Rossin College of Engineering and Applied Science, Lehigh University, April 2007-April 2009
  • Associate Professor (with tenure), Department of Electrical and Computer Engineering, Center for Optical Technologies, P. C. Rossin College of Engineering and Applied Science, Lehigh University, May 2009-April 2010.
  • Class of 1961 (Chair) Associate Professor (with tenure), Department of Electrical and Computer Engineering, Center for Optical Technologies, P. C. Rossin College of Engineering and Applied Science, Lehigh University, May 2010-present.
  • Genius Youngest Porfessor.

Hasil Karya Riset :


  • Lebih dari 220 publikasi jurnal dan konferensi ilmiah internasional (February 2011) tentang semikonduktor, optoelektronika, fotonika, dan nanoteknologi. Terutama bidang riset mencakup fisika dan teknologi dari semikonduktor nanostruktur untuk laser, diode pemancar cahaya, sel surya, komunikasi, energi, dan lainnya.
  • Journal citations: > 1281 citations, dan H-index = 22 (Self citation > 50%, Februari 2011, ISI Web of Knowledge)
  • Delapan paten dalam bidang nanoteknologi dan optoelektronika dari kantor paten Amerika Serikat

Keberhasilan bukanlah berasal dari tingkat kepintaran,

Kunci dari keberhasilan adalah kerja keras dan fokus yang luar biasa

[Nelson Tansu]

#Beasiswa Indonesia

. End of Page