Sejarah Rumah Sakit Apung dr. Lie Dharmawan

rumah-sakit-apung

26 Maret 2009, doctorSHARE melakukan pelayanan medis cuma-cuma di Langgur, Kei Kecil – Maluku Tenggara. Saat melangsungkan bedah, di luar rencana datang seorang ibu membawa anak perempuannya yang berusia 9 tahun dalam keadaan usus terjepit. Mereka telah berlayar selama tiga hari dua malam mengarungi lautan. Menurut teori medis, seseorang dengan usus terjepit harus sudah dioperasi dalam 6-8 jam. Anak perempuan tersebut dioperasi dan akhirnya sembuh.

dr-lie-a-dermawan

Peristiwa ini sangat menggugah hati pendiri doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli), dr. Lie A. Dharmawan, Ph.D, FICS, Sp.B, Sp.BTKV. Bayangan anak perempuan tersebut selalu melintas dalam benaknya. Beliau pun terpanggil melakukan sesuatu bagi mereka yang tidak mendapatkan pelayanan medis sebagaimana mestinya karena kendala geografis dan kondisi finansial. Ide utamanya adalah “menjemput bola” melalui Rumah Sakit Bergerak atau Rumah Sakit Terapung di atas sebuah kapal.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia juga masih harus melakukan banyak hal untuk memberikan pelayanan medis sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945. Banyak warga pra sejahtera belum mendapatkan pelayanan medis memadai.

Penelitian mulai dilakukan. Diketahui bahwa jenis kapal untuk Rumah Sakit Apung yang sesuai dengan kondisi Indonesia bukanlah kapal besar yang sulit merapat ke pulau-pulau kecil. Di samping itu, jenis kapal berbahan fiber juga terlalu ringan dan akan segera bocor ketika menabrak karang.

Di Seattle, Amerika Serikat – dr. Lie A. Dharmawan mengunjungi museum kapal laut dan melihat kapal laut berbahan kayu berusia seratusan tahun dalam kondisi yang masih sangat baik. Dari perpustakaan di sana, terdapat sebuah artikel yang menulis bahwa jenis kayu terbaik bagi kapal adalah kayu ulin yang tumbuh di Indonesia dan Filipina.

Pulang ke Indonesia, dr. Lie mulai mencari kapal kayu dan akhirnya menemukan sebuah kapal barang di Palembang. Kapal berjenis pinisi tersebut akhirnya dibeli tahun 2012. Kapal dapat memuat barang hingga 250 ton dan mampu berlayar dari Palembang menuju Riau, Batam, dan sebagainya. Dengan kualifikasi tersebut, Rumah Sakit Apung dapat berdiri di atas kapal ini.

Draft kapal sangat tinggi yaitu 4,4 meter. Kamar-kamar pun mulai didirikan di dalam lambung kapal. Kondisi ini sangat menguntungkan karena guncangan saat melangsungkan tindakan bedah (operasi) di dalam lambung kapal jauh berkurang dibandingkan jika harus melakukannya di atas geladak.

Melalui perombakan, lahirlah Rumah Sakit Apung (RSA) dr. Lie Dharmawan yang terdiri dari dua tingkat. Bagian dasar digunakan sebagai ruang Rontgen, EKG, USG, serta laboratorium. Di tingkat atas terdapat Kamar Bedah, Ruang Resusitasi, Ruang Dokter, dan sebagainya.

Rumah Sakit Apung (RSA) dr. Lie Dharmawan milik doctorSHARE berlayar untuk uji coba pelayanan medis perdananya pada 16 Maret 2013 ke Kepulauan Seribu dan diresmikan pada 6 Juni 2013.

Profil Rumah Sakit Apung dr. Lie Dharmawan

Nama Kapal: KLM RSA DR. LIE DHARMAWAN
Nama Panggilan Kapal: YC-7342
Jenis Kapal: Pinisi

Bendera Kebangsaan: INDONESIA
Tanda Selar                      : GT.173 No.6786/Bc

Tonase Kotor (GT): 173 GT
Tonase Bersih (NT): 52 NT

Mesin Induk: MITSUBISHI 8DC11 – 340 PK
Tahun Pembangunan: 2002
Penggerak Utama: Motor
Bahan Utama Kapal: Kayu

Jumlah Geladak: Satu
Jumlah Baling-Baling: Satu

Panjang Kapal: 25,13 meter
Lebar Kapal: 6,82 meter
Draft Kapal: 4,00 meter

Kecepatan Maksimum: 10 KNOTS
Kecepatan Normal: 8 KNOTS
Kecepatan Ekonomis: 6 KNOTS

Kapasitas Tangki
a.     Tangki utama: 5.000 liter
b.     Tangki cadangan: 2.200 liter
Bahan Bakar: SOLAR/HSD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s